61% Konsumen Peduli Keamanan Cyber, tapi…


  • Kini, sebanyak 61% konsumen lebih peduli dengan keamanan cyber dibanding lima tahun lalu.
  • Namun, hanya 37% konsumen yang menggunakan solusi proteksi pencurian identitas.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Tahun lalu merupakan tahun yang suram bagi keamanan cyber dengan peningkatan ancaman malware dan ransomware baru. Laporan MacAfee Labs Threat Report: December 2017 mengungkapkan bahwa malware telah mencapai rekor tertinggi dengan 57,6 juta sample baru atau empat malware baru setiap detiknya di kuartal ketiga 2017. Termasuk di dalamnya kemunculan versi baru ransomware Locky berjuluk Lukitus.

 

 

Ransomware tersebut didistribusikan di lebih dari 23 email spam hanya dalam tempo 24 jam. Secara keseluruhan, ransomware baru meningkat hingga 36% di kuartal ke-3 2017 dan jumlah total ransomware telah bertumbuh 44% dalam empat kuartal terakhir menjadi 12,3 juta sample ransomware.

Beragam ancaman keamanan cyber tersebut telah membuka mata banyak pihak termasuk para konsumen tentang pentingnya keamanan cyber. Meski demikian, kesadaran tentang perlunnya keamanan cyber tidak dibarengi dengan langkah proaktif untuk mengamankan informasi pribadi agar tidak dicuri. Hal tersebut terungkap pada hasil survei global McAfee yang bertajuk New Security Priorities in An Increasingly Connected World.

 

Baca Juga  Inilah Lima Negara Pengguna Internet Terbanyak di Dunia

Hasil survei itu mengungkapkan bahwa 61% konsumen mengklaim lebih khawatir dengan keamanan cyber saat ini daripada lima tahun lalu. Hasil riset McAfee tersebut mengungkapkan pula bahwa 33% konsumen menempatkan perlindungan identitas sebagai prioritas utama keamanan cyber, lebih penting daripada perlindungan privasi, perangkat terhubung, data, dan perangkat rumahan yang terhubung ke internet.

“2017 merupakan tahun besar bagi para kriminal cyber untuk memanfaatkan rongga keamanan dalam jaringan korporat dan mengunduh banyak sekali identitas pribadi para konsumen, dan tidak ada tanda-tanda serangan tersebut menurun,” kata Gary Davis, Chief Consumer Security Evangelist McAfee, dalam siaran pers yang diterima TechnoBusiness Indonesia.

Ia menambahkan bahwa penting bagi konsumen untuk tetap siaga dan mengambil langkah pencegahan guna mengamankan identitas online dan kehidupan digital mereka.

Baca Juga  Yangtze Optics Bangun Pabrik Kabel Serat Optik Baru di Karawang

Meski demikian, di tengah meningkatnya risiko pencurian, hanya 37% konsumen yang menggunakan solusi proteksi pencurian data pribadi. Selain itu, 28% konsumen menyatakan tidak ada rencana untuk menggunakan layanan yang memonitor dan membantu memproteksi identitas dan informasi pribadi mereka.

Riset ini mengungkapkan cara utama yang dilakukan konsumen untuk memonitor identitas meliputi pemeriksaan akun bank online dan kartu kredit dari transaksi yang tidak diketahui (67%), memeriksa posting tipuan di media sosial (43%), dan menggunakan layanan monitoring kartu kredit (37%).

Meskipun metode tersebut efektif untuk monitoring, jelas McAffee, tapi konsumen perlu memahami bahwa metode tersebut tetap rentan dan sebaiknya menggunakan layanan yang tidak hanya memonitor tapi juga memproteksi.

 

 

Keamanan di Rumah

Konsep rumah pintar dengan jajaran perangkat yang selalu terhubung ke internet kian populer dan meluas di kalangan konsumen sehingga bisa menjadi pintu masuk serangan kejahatan cyber. Hasil survei McAfee juga menemukan bahwa hampir 1/3 orang tua tidak memonitor perangkat terhubung seperti smartphone, tablet, dan komputer yang digunakan oleh anak-anak mereka.

Baca Juga  Inilah Rahasia Sukses UKM Masa Kini Versi Facebook

Walau 79% orang tua telah membicarakan tentang kamanan online dengan anak-anak, 33% di antaranya mengakui tidak cukup memahami risikonya untuk menjelaskan tingkat bahaya kejahatan cyber.

Untungnya, para responden memiliki kesadaran yang baik tentang keamanan rumah yang terhubung. Hasil riset mengungkapkan bahwa meskipun 52% konsumen tidak mengetahui cara mengamankan perangkat dan aplikasi yang terhubung di lingkungan rumah, 63% konsumen khawatir tentang pencurian identitas jika jaringan rumah dibobol dan 66% konsumen membatasi siapa saja yang bisa mengakses jaringan rumah.

Namun, hanya 59% konsumen langsung mengganti password bawaaan perangkat terhubung. Itu berarti, 41% lainnya tidak mengganti password bawaan pabrik yang biasanya mudah ditebak sehingga meningkatkan risiko pembobolan jaringan rumah oleh hacker.

—Andrianto, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: McAfee

 

Artikel Asli