AADC, Strategi Memenangkan Pasar Online

Spire Insight ● Nilai belanja teknologi informasi dan komunikasi (ICT spending) Indonesia diperkirakan naik 20% dari US$23,7 miliar pada 2017 menjadi US$28,4 miliar pada 2020. Dalam masa yang sama, anggaran industri komunikasi (Communication Spending) naik dari US$14,8 miliar menjadi US$16,1 miliar.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani Melalui Skema Value Chain Financing

Belanja di bidang teknologi informasi (IT Spending) melonjak 38,2% dari US$8,9 miliar pada 2017 menjadi US$12,3 miliar pada 2020. Sementara itu, nilai bisnis layanan teknologi informasi (IT Services) dari US$1,7 miliar menjadi US$3,8 miliar. Belanja perangkat (Devices Spending) juga naik dari US$7,2 miliar menjadi US$8,5 miliar.

Indah Muliana, Senior Manager PT Spire Indonesia, sedang menyampaikan presentasinya di acara “ICT Reseller Channel Summit 2018” di Bali, 1-3 Mei 2018.

Nilai belanja yang besar itu telah mendorong naiknya penetrasi penggunaan internet yang pada 2017 sudah mencapai 143,26 juta orang, 58,08%-nya berada di Pulau Jawa. Lalu, penetrasi internet yang semakin meluas memengaruhi peralihan pola belanja masyarakat dari offline ke online. Contoh produk fashion, saat ini 35,3%-nya terjual via online.

 

Peralihan dari offline ke online itu membawa dampak positif banyak hal. Dalam SMB Channel Partner Trends Study yang dirilis Techaisle, ada 10 isu utama dalam peralihan tersebut. Ke-10 itu antara lain (1) meningkatkan produktivitas tenaga kerja; (2) meningkatkan kualitas produk dan proses; (3) mengurangi biaya operasional.

Baca Juga  Penjualan Semikonduktor Global Meningkat 24% Setahun

(4) mengelola ketidakpastian; (5) meningkatkan kecepatan ke pasar; (6) menciptakan produk inovatif; (7) meningkatkan pertumbuhan bisnis; (8) mengelola investaris secara efektif; (9) menarik dan mempertahankan pelanggan baru; (10) meningkatkan profitabilitas.

 

Karena itu, Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, dalam “Indonesia ICT Reseller Channel Summit 2018” yang diselenggarakan oleh Gates Apac Pte Ltd di Bali, 1-3 Mei 2018, mengatakan mau tidak mau perusahaan-perusahaan harus mulai segera merambah ke pasar online.

“Caranya, AADC,” kata Jeffrey. Yang dimaksud dengan AADC yaitu Acquisition, Affiliation, Diversification, dan Collaboration. Pertama, Acquisition (Akuisisi) merupakan salah satu langkah perusahaan memasuki bisnis teknologi. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (IDX: TLKM), misalnya, pada 2017 mengakuisisi PT Bosnet Distribution Indonesia melalui anak perusahaannya, PT Sigma Cipta Caraka (Telkom Sigma).

Pada 2018, lanjut Jeffrey, Telkom mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) untuk mengakuisisi 10 perusahaan baru, termasuk untuk memperluas dan memperkuat portofolio Telkom Sigma di bidang e-logistics dan ekosistem bisnis e-commerce.

Contoh lainnya adalah Microsoft mengakuisisi PlayFab. PlayFab merupakan penyedia layanan game yang terhubung dengan cloud. Akuisisi tersebut akan memperkuat investasi Microsoft di Azure untuk segmen game global.

Baca Juga  In 2018: More Money, One Problem

Kedua, Affiliation (afiliasi). Ada pula yang menggunakan strategi afiliasi untuk memperluas penetrasi dan menghemat biaya pemasaran produk atau layanan. “Metrodata memiliki program SAM [Saya Afiliasi Metrodataonline.com], program rujukan yang diarahkan kepada metrodataonline.com dengan pembagian komisi hingga 10%,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai CEO Spire Indonesia itu.

Menurut Indah Muliana, Senior Manager Spire Indonesia, apa yang dilakukan penyedia pusat data (data center) Indonet dan DCI Equinix bisa menjadi contoh penerapan strategi afiliasi dalam mempercepat penetrasi pasar. “DCI Equinix memanfaatkan Indonet dalam memaksimalkan penetrasi layanannya di pasar domestik Indonesia,” ujarnya.

Ketiga, Diversification (diversifikasi). Diversifikasi produk atau layanan akan “memaksa” perusahaan untuk melakukan inovasi secara out of the box. Strategi diferensiasi juga bisa dilakukan dengan menargetkan loyalitas pelanggan melalui program untuk VIP pelanggan atau melakukan bundling dengan multilayanan.

“SNC Technology, misalnya, mengembangkan pesawat tak berawak sebagai pemantauan armada dan menangkap solusi dengan rencana yang menargetkan perkebunan dan kehutanan menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan melakukan diversifikasi layanan,” kata Indah yang juga menjadi narasumber dalam pertemuan tersebut.

Contoh lain, GTN menyediakan fasilitas helikopter ke lokasi pusat data (data center) mereka bagi pelanggannya, Microsoft menawarkan skema pengalaman desktop modern dengan membundel lisensi Microsoft Office dan layanan Azzure-nya, Citrix menyediakan layanan BYOD melalui pendekatan sederhana dan aman berdasarkan manajemen mobilitas perusahaan.

Baca Juga  Mengintip Kecanggihan Teknologi Vivo APEX Full View

Keempat, Collaboration (kolaborasi). Strategi kolaborasi mempermudah dan mempercepat penetrasi pasar sebuah produk dan layanan. Kolaborasi bisa dilakukan dengan mitra di satu pasar tertentu, kategori produk atau layanan tertentu, dan lain sebagainya.

Indah mencontohkan, Go-Jek dan BlueBird memilih berkolaborasi daripada bersaing dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat perkotaan di Tanah Air. “Untuk kolaborasi soal harga, Evercoss, XL Axiata, dan YouTube secara bersama-sama menawarkan paket bundling yang lebih murah daripada harga terpisah,” ujarnya.

Itulah strategi AADC yang dimaksud Jeffrey Bahar dan Indah Muliana dari perusahaan riset dan konsultasi pasar Spire Research and Consulting dalam presentasinya di hadapan para peserta “Indonesia ICT Reseller Channel Summit 2018” di Bali, 1-3 Mei 2018 lalu.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang, yang didirikan di Singapura pada 2000. Kini, perusahaan ini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dengan kantor pusat di Tokyo, Jepang.

 

Artikel Asli