Akhmad Fitrianor

Di Banjarmasin, saya hidup bersama kakak dan adik dengan seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal saya. Kami bukan dari keluarga berkecukupan. Karena itu, saya mesti membantu ibu untuk menopang ekonomi keluarga, juga demi melanjutkan pendidikan ke bangku sekolah menengah atas.

 

 

Waktu itu saya hanya memiliki ponsel seharga Rp200.000 dan harus saya jual sebagai modal awal bisnis online. Saya berpikir, kalau tidak dimulai dari Tokopedia, saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Saya pun menjual ponsel satu-satunya itu dan hasilnya saya pakai buat modal membeli batu-batuan khas Kalimantan.

Setelah mendapatkan barang yang hendak saya jual, ternyata masalah belum selesai. Saya menemui masalah baru, yaitu bagaimana memfoto dan mengunggah foto produk ke situs jual beli online kalau ponsel saja tidak punya. Akhirnya saya meminjam ponsel tetangga yang ada kameranya, lalu bolak-balik ke warnet untuk berjualan online.

 

Baca Juga  Mengapa Aku Tidak Kunjung Sejahtera?

“Dari terpaksa menjadi cinta itu sekarang bisa buat membantu ibu saya merenovasi rumah”

 

Setelah bertahun-tahun berjuang, batu-batuan  khas Kalimantan yang saya jual menemui momennya. Tren batu akik pada 2014 silam membuat barang dagangan saya terjual berkali lipat daripada hari biasa. Semua orang memburu batu akik. Tapi, rupanya itu tidak bertahan lama. Setelah trennya menurun, omzet penjualan pun ikut turun.

Saya tentu harus memutar otak demi mempertahankan bisnis online saya. Saya lantas memutuskan berjualan aksesori dari bahan dasar kayu kokka (juga khas Borneo), gelang, hingga tasbih, yang saya peroleh dari pengrajin lokal.

Penjualan melalui Tokopedia saya terus meningkat, terutama menjelang Lebaran seperti ini. Peningkatan itu bisa mencapai 4-5 kali lipat. Kini, omzet saya sudah ratusan juta dan berhasil membuka lapangan pekerjaan baru bagi lingkungan sekitar. Dari terpaksa menjadi cinta itu sekarang bisa buat membantu ibu saya merenovasi rumah.●

—Seperti diceritakan kepada Intan Wulandari,