• Pemerintah perlu memerhatikan infrastruktur telekomunikasi agar target pada 2020 itu sukses.
  • Keberadaan menara telekomunikasi sama pentingnya dengan jalan tol dan gardu listrik.

 

BATASTECHNO~Jakarta–Ekonomi digital memang belum seberapa jika dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Namun, pertumbuhannya tidak bisa direm lagi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika di berbagai kesempatan sering menyampaikan bahwa pada 2020 mendatang ekonomi digital di Indonesia akan bernilai US$130 miliar (Rp1.700 triliun). Angka sebesar itu akan setara dengan 20% produk domestik bruto (PDB).

Pada tahun itu, Indonesia juga ditargetkan menjadi Negara Ekonomi Digital Terbesar di Asia Tenggara. Selain membuat peta jalan perdagangan elektronik (e-commerce roadmap), pemerintah ingin menciptakan 1.000 technopreneur baru pada 2020 dengan valuasi US$10 miliar.

Tentu pertumbuhan demi pertumbuhan di ranah digital itu membutuhkan data koneksi internet yang semakin besar. Untuk itu, Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (ASPIMTEL) berkomitmen mewujudkan target pemerintah tersebut dengan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan menara telekomunikasi.

Ketua ASPIMTEL Gusandi Sjamsudin berpendapat untuk menjadikan Indonesia unggul dalam ekonomi digital diperlukan pemetaan ulang kebijakan pembangunan infrastruktur nasional.

“Tidak hanya pembangunan infrastruktur darat dan laut, tapi infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi digital juga perlu didukung agar bisa menjadi penyokong perekonomian nasional di masa depan,” ungkapnya di Jakarta belum lama ini.

 

US$130 MILIAR/RP1.700 TRILIUN/20% PDB

Nilai ekonomi digital Indonesia pada 2020

 

Sebab, kata Gusandi, keberadaan menara telekomunikasi sama pentingnya dengan jalan tol dan gardu listrik. Oleh karena itu, menara telekomunikasi juga perlu dilindungi dengan regulasi dari pemerintah.

ASPIMTEL didirikan pada…Selengkapnya