Dahsyat! Apple Jadi Perusahaan US$1 Triliun

California, TechnoBusiness ● Apple Inc. (Nasdaq: AAPL), produsen perangkat keras dan lunak komputasi, ponsel pintar, dan sejenisnya yang berbasis di Cupertino, California, Amerika Serikat, membuat kejutan besar. Apa itu?

Apple, yang kini dikomandani oleh Tim Cook, berhasil membukukan kapitalisasi pasar (market capitalization) lebih dari US$1 triliun dalam sesi perdagangan kemarin. Capaian itu diperoleh setelah sahamnya menembus US$207,05 pada jam 11.48 siang.

Baca Juga: 10 Perusahaan Internet dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar

Tidak sekadar memecahkan rekor untuk perusahaan sendiri, Apple juga menjadi perusahaan Amerika Serikat pertama yang mencapai kapitalisasi pasar setinggi itu. Namun, untuk kancah global, perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi PetroChina asal Tiongkok lebih dulu mencapainya pada 2007.

Laporan keuangan yang dipaparkan manajemen Apple pada Selasa (31/7) rupanya membuat pasar semakin terpikat untuk membelinya. Waktu itu, Apple melaporkan telah mencatatkan pendapatan sebesar US$53,3 miliar pada kuartal ketiga tahun fiskal 2018 yang berakhir 30 Juni 2018.

Baca Juga  Konsumen di Ranah Digital Global 2017 Mencapai 1,66 Miliar Orang

Jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu, pendapatan Apple naik 17% dengan laba kuartalan senilai US$2,34 atau naik 40% per saham. Penjualan internasionalnya menyumbang 60% dari pendapatan kuartal tersebut.

CEO Tim Cook mengatakan kinerja kuartal tiga yang meningkat itu didorong oleh berlanjutnya penjualan produk dan layanannya, khususnya ponsel pintar iPhone. Padahal, menurut catatan TechnoBusiness, iPhone seringkali diterpa isu miring, mulai dari harga yang terlalu mahal hingga fitur yang dianggap tak relevan.

“Kinerja bisnis kami yang kuat mendorong pertumbuhan pendapatan di setiap segmen geografis kami.”

Luca Maestri, Chief Financial Officer Apple Luca Maestri

“Kami senang untuk melaporkan kuartal terbaik Apple yang pernah ada, kuartal dengan pertumbuhan pendapatan dua digit empat kali secara berturut-turut,” ungkap Cook yang juga optimistis kinerja positif itu akan berlanjut pada kuartal keempat.

Baca Juga  Pasar Perangkat Lunak Robot Bakal Bernilai US$7,5 Miliar pada 2022

Chief Financial Officer Apple Luca Maestri melanjutkan, “Kinerja bisnis kami yang kuat mendorong pertumbuhan pendapatan di setiap segmen geografis kami, pendapatan bersih sebesar US$11,5 miliar, dan arus kas operasi sebesar US$14,5 miliar.”

Apple pun akan mengembalikan hampir US$25 miliar kepada investor melalui program pengembalian modal selama kuartalan, termasuk pembelian kembali saham senilai US$20 miliar. Investor akan membagikan dividen tunai sebesar US$0,73 per saham pada 16 Agustus nanti.

Sempat Diragukan

Apple tidak serta-merta menjadi perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar sejagat. Sejak didirikan oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne pada April 1976, Apple selalu memiliki cerita yang menarik, terutama Steve Jobs.

Jobs, pendiri yang pernah terusir dari perusahaannya sendiri, berhasil mengembalikan kejayaan perusahaan yang semula memproduksi komputer itu dalam waktu cepat. iPhone menjadi salah satu senjata Jobs untuk mendongkrak pertumbuhan.

Baca Juga  Memahami Lima Elemen Penting “Personal Branding” di Era Digital

Setelah Jobs meninggal pada Oktober 2011 karena kanker pankreas yang diidapnya selama tujuh tahun, lagi-lagi Apple diragukan kelangsungannya ke depan. Tapi, Cook, yang ditunjuk menggantikan Jobs, ternyata mampu menjawab keraguan banyak orang.

Di bawah kepemimpinan Cook, Apple tetap terus berkibar dan menjadi perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar. Dikutip dari Statista, TechnoBusiness Insight belum lama ini melaporkan bahwa per Mei 2018 lalu Apple sudah mengantongi kapitalisasi pasar sebesar US$924 miliar.

Kapitalisasi sebesar itu mengalahkan Amazon.com (Nasdaq: AMZN) yang membukukan sebesar US$783 miliar dan Microsoft Inc. (Nasdaq: MSFT) sebesar US$753 miliar, diikuti Google Inc. (Nasdaq: GOOG) sebesar US$739 miliar. Kemarin, Apple telah mengubah angka itu menjadi US$1 triliun, walaupun diyakini masih rentan naik-turun di kemudian hari.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness ● Foto: TechnoBusiness

 

Artikel Asli