Christianto Wibisono

Dari Aborsi Mobnas ke Terobosan Tesla?

Oleh Christianto Wibisono Founder Chairman Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

 

 

Menteri Perhubungan Singapura Khaw Boon Wan pada Senin, 9 Mei 2017, memberi insentif sebesar S$30.000 (US$22.000) untuk pembelian mobil Tesla model 3 yang diluncurkan Elon Musk pada 31 Maret 2017. Bandingkan dengan insentif Kanada sebesar C$8.000 (US$6.200). Singapura memberi insentif untuk memenuhi kriteria global city CEVS (Carbon Emmisions Vehicle Scheme). Tesla model 3 akan diterima indentor di luar Amerika Serikat (AS) awal 2018 dengan harga di AS hanya US$ 35.000 untuk penyerahan akhir 2017.

Indonesia jelas bukan Singapura yang harga mobilnya dibatasi oleh mahalnya Certificate of Entitlement, sekitar US$50.000 untuk setiap pembelian mobil baru. Indonesia adalah produsen mobil nomor 17 dari 20 negara dengan 4 besar di atas 6 juta, yaitu Tiongkok, AS, Jepang, dan Jerman. Di luar dugaan India juga sudah melejit di 5 besar. Bahkan, Tata Group membeli merk mobil mewah terkenal Jaguar Rover pada 2008, menyusul pembelian merk Volvo Swedia oleh Geely, perusahaan mobil swasta Tionghoa yang bukan BUMN milik Li Shufu dari bekas pabrik kulkas. Korea menjadi negara di luar AS, Eropa, dan Jepang yang mampu membangun industri mobil global meski pasar domestik kecil. Sedangkan Tiongkok dan India tentu mempunyai keunggulan komparatif karena pasar domestik raksasa.

 

Sebetulnya Indonesia punya “feng shui” yang luar biasa. Setelah membangun di Yokohama dan Osaka pada 1926, General Motors masuk pasar Hindia-Belanda pada 1927 dan membangun pabrik perakitan di Tanjung Priok yang mulai beroperasi 1938. Ini berarti raksasa mobil dunia pertama General Motors memilih Jakarta sebagai basis produksi 90 tahun yang lalu, di mana Indonesia dinilai lebih menarik daripada Singapura, dengan potensi penduduk dan wilayah Indonesia sebagai pertimbangan.

Baca Juga  Pasar E-Commerce Indonesia Diramaikan oleh 26,2 Juta Usaha

Pada 1953, Hasyim Ning menjadi raja mobil dan mendirikan perakitan kedua setelah General Motors Priok tersebut, yaitu PT Indonesian Service Company (ISC) yang akan merajai permobilan Indonesia sampai 1970-an dengan mengageni Fiat dan Ford.

Pada 1969, William Soeryadjaya dengan Astra International membeli eks pabrik General Motors yang telah dinasionalisasi menjadi PN Gaya Motor (BUMN sejak era Orde Lama Bung Karno yang sangat antimodal asing dan mengambil alih seluruh perusahaan Belanda pada 1957). Sejak itu, selama 23 tahun William dan Astra menjadi raja mobil Indonesia kedua setelah Hasyim Ning, serta merk Eropa dan AS tergusur sebagaimana tren permobilan global dengan dominasi merk Jepang mengalahkan merk AS dan Eropa.

Jatuhnya William bukan karena bisnis Astra, tetapi karena “bail-out” Bank Summa sehingga keluarga William harus menjual seluruh saham di Astra, yang terjadi enam tahun sebelum krisis moneter 1998. Tapi, sejarah tetap akan mencatat William Soeryajaya sebagai raja mobil Indonesia kedua setelah Hasyim Ning.

Pada 1996, Presiden Soeharto mengejar waktu berlakunya era perdagangan bebas (WTO) mendirikan proyek Mobil Nasional Timor yang dilaksanakan oleh putra mahkota Tommy Soeharto. Secara historis empiris memang semua negara, termasuk Jepang, AS, dan Eropa, harus selalu melampaui tahapan infant industry protection, kebijakan melindungi industri yang masih “balita” dari ancaman impor produk pesaing yang sudah lebih mapan. Itulah prinsip mobnas merk Timor yang memanfaatkan kerja sama dengan KIA yang mengubah merk Sephia menjadi Timor S515. Seandainya Astra masih di tangan William barangkali proyek Mobnas ini lebih viable dan terwujud seperti pola Hyundai dan tidak tersendat seperti Proton.

Baca Juga  Karawang New Industry City jadi Kawasan Industri 4.0 – TechnoBusiness ID

 

 

Tapi, sejarah mencatat bahwa terjadi konflik antara figur Presiden Soeharto dengan William Soeryadjaya karena dinilai pernah “arogan” menghibahkan saham kepada koperasi. Padahal, Presiden Soeharto tidak ingin istilah hibah atau belas kasihan, melainkan koperasi membeli saham konglomerat. Itu terjadi di Tapos pada 1990 dan krisis Bank Duta yang mengakibatkan Soeharto memerlukan dana bail-out, yang juga tidak “disumbang” oleh William. Itu berakibat tidak ada privilege untuk Astra. Krismon langsung menghentikan proyek mobnas Timor karena International Monetary Fund (IMF) mencoret proyek itu paling awal bersama monopoli cengkeh BPPC.

Selang 16 tahun kemudian, pada Januari 2012, Walikota Solo Ir Joko Widodo melakukan terobosan dengan mempromosikan mobil perakitan Esemka hingga memopulerkan sosoknya dan memenangkan pemilihan gubernur DKI pada 2012. Melejit jadi presiden pada 2014, Presiden Jokowi sempat menyaksikan MoU Proton Malaysia dengan perusahaan nasional Indonesia untuk mengembangkan kerja sama Proton yang segera memperoleh kritik dari mereka yang gerah dengan koalisi asing dan bukan murni nasional.

Baca Juga  PermataBank Tawarkan Obligasi via Internet Banking Pertama di Indonesia

 

 

Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) telah mengkaji sejarah industri mobil global yang menyisakan dua pelaku di AS (pelaku ketiga yaitu patungan Chrysler dengan Fiat Italia), 3 produsen Jerman (Audi VW, BMW dan Mercedes Benz); dan 2 Prancis (Peugeot, Citroen dan Renault yang bekerja sama dengan Nissan Jepang yang merupakan satu-satunya negara dengan hampir selusin merk mobil, yaitu Toyota, Nissan, Honda, Mazda, Mitsubishi, Isuzu, Suzuki, Hino, Subaru, Daihatsu yang juga mengalami konsolidasi dan kemitraan seperti Toyota Daihatsu.

Memang sudah sangat terlambat untuk memakai pola mobnas kecuali pemerintah melakukan terobosan leapfrog, membangun mobil elektrik seperti Tesla, atau berkolaborasi dengan Tesla menjadikan Tesla sebagai “mobnas” dengan syarat membangun pabrik di Indonesia dan saham substansial yang dialokasikan untuk Indonesia (di atas 35%). Hyundai memiliki 2/3 saham di KIA sehingga memungkinkan entitas Korea itu melejit menjadi produsen mobil nomor empat terbesar sedunia setelah Toyota, General Motors, dan Volkswagen.

Sudah 90 tahun, hampir seabad sejak General Motors memilih Jakarta sebagai perakitan mobil kedua di Asia setelah Jepang. Ironis bahwa sekarang kita tidak mampu mengembangkan merk nasional hanya karena…..SELENGKAPNYA

 

 

 

 

 

Foto-Foto: PDBI, Toyota, General Motors