kelompok kesenian tradisional Kenthongan asal Cilacap/ foto : denis /batas.id

Dari Cilacap Hingga Jakarta, upaya mempertahankan dan melestarikan Kesenian Musik Tradisional Kenthongan.

Batas.id~Jakarta-“Cilacap Bercahaya” Slogan yang kita jumpai pertama ketika pengendara atau orang yang hendak menuju kota Cilacap. Salah satu daerah pesisir selatan Jawa Tengah yang terkenal dengan kilang minyak Pertamina, PLTU dan lembaga pemasyarakatan yang di khususkan bagi pelaku kejahatan kelas berat yaitu Nusa Kambangan. Di balik itu semua ada sekelompok pemuda yang berusaha mempertahankan dan melestarikan kesenian musik tradisional yaitu Kenthongan.

pemain kentongan/ foto :denis/batas.id
pemain kentongan/ foto :denis/batas.id

Meskipun jaman sudah modern dan berbagai jenis musik seperti  Pop, Rock, Dangdut, Jazz dan lain sebagainya yang populer di masyarakat, tetapi sekelompok pemuda asal Cilacap ini berusaha mempertahankan dan melestarikan kesenian kenthongan ini. Fino(24) pemain angklung, Diki(18) pemain ketipung, Ahmad(26) pemain drum,Selamet(30) pemain Bass dan Cecep Permana (26) tukang sawer, mereka dengan semangat memainkan musik Kenthongan di tengah ramainya arus kendaraan di Jl.Kalisari II Jakarta Timur. Ke-5 (lima) pemuda ini mulai menggelar keahliannya memainkan musik traisional kentongan dengan berkeliling dari jam 10.00-20.00Wib. Meskipun penghasilan mereka tidak menentu tapi mereka cukup bersyukur dengan kegiatan ini, selain mempertahankan dan melestarikan musik tradisional mereka juga mendapatkan penghasilan untuk keperluan sehari hari mereka.

Baca Juga  Kejuaraan Taekwondo Jakarta tingkat pelajar
foto: enis/batas.id
foto: enis/batas.id

Dalam sehari pendapatan mereka berkisar Rp150.000,- sampaiRp  300.000,- jika ramai. Kegiatan mereka juga mendapat respon  positif dari orang yang mereka jumpai, terbukti dengan beberapa orang yang menghentikan perjalanan mereka untuk mempertontonkan kesenian tersebut sebagai hiburan sesaat yang cukup meredakan rasa rindu akan kesenian daerah yang jarang di jumpai di jakarta. Dengan lagu-lagu yang di pertunjukan seperti Perahu Layar dan Gambang Suling cukup banyak antusias orang yang menonton, bahkan tidak sedikit pengendara yang berhenti sejemak untuk “Nyawer”. Fino selaku ketua rombongan merasa senang dengan antusias orang yang menontonya. Karena di jakarta sekarang ini, hanya sedikit orang   yang menyukai kesenian tradisional. Harapan Fino dan rekan-rekanya adalah “semoga kesenian tradisional di Indonesia tidak punah” tegasnya.

Baca Juga  Banyak Genangan di Jakarta Akibat Hujan 

Denis Priwanda/batas.id