Genap dua bulan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjalani masa tahanan di Markas Komando Brigade Mobile Kelapa Dua, Depok, komunitas pendukung Ahok yang mengatasnamakan dirinya Masterpiece NKRI Pancasila menggelar diskusi dan doa bersama untuk Ahok di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad, 9 Juli 2017.

Pengacara Ahok, I Wayan Sudirta, mengatakan doa bersama ini bakal terus dilakukan setiap tanggal 9 sampai masa tahanan Ahok berakhir. Ahok divonis bersalah telah menista agama dan dihukum penjara selama 2 tahun sejak 9 Mei 2017.



“Kami bersama-sama mendoakan Ahok, agar Ahok dalam menjalani masa tahanan selalu dalam kondisi sehat dan diberikan kekuatan serta keluarga selalu diberikan ketabahan dalam menjalani segala cobaan,” kata Wayan dalam siaran tertulisnya, Senin, 10 Juli 2017. Doa bersama  dipimpin oleh tiga orang dari beragama Islam, Kristen, dan Hindu.

Menurut Wayan, acara ini bertujuan untuk menjaga semangat agar pengorbanan Ahok sebagai sosok keteladanan tidak luntur dan tidak pernah padam menjaga perjuangan. Dalam mengatasi kelompok-kelompok radikal, Wayan yang juga anggota Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) akan menyiapkan kajian berupa perpu untuk pembubaran ormas intoleran.



“Kita berduka karena supremasi hukum tidak ditegakkan, karena ada pihak tertentu yang tidak mau disentuh oleh aparat hukum. Sementara itu Ahok harus diadili dan di hukum hanya karena tekanan massa,” kata Wayan.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Ade Armando sepakat dengan Wayan. Menurut dia, Ahok adalah korban pergerakan kelompok yang menganggap dirinya paling benar.





Kehadiran Ahok dengan ide-ide pencerahannya menakutkan kelompok intoleran. “Kita tidak boleh gentar menghadapi kaum radikal dan harus terus mendukung pergerakan yang melawannya,” ucap Ade.

TEMPO