“Eating Habit” di Tengah Tren Layanan Antar Makanan Online – Spire Insight

Oleh Sarom Mahdi | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Merasa lapar tapi malas keluar rumah karena cuaca kurang bersahabat? Hal itu jadi masalah umum yang sering kita dengar sebelum kejayaan ponsel pintar (smartphone).

Namun, setelah hampir setiap orang memiliki ponsel pintar, kemalasan atau cuaca yang kurang bersahabat bukan lagi masalah besar. Tidap perlu lama dan repot, kita hanya perlu membuka aplikasi dan memilih menu makanan dari restoran favorit atau rumah makan terdekat. Setelah itu, kita hanya perlu duduk manis di rumah menunggu pesanan diantarkan sampai ke depan pintu.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Di samping memudahkan pengguna dalam memesan makanan, layanan pesan antar makanan online (online food delivery service) seperti Go-Food dan Grab Food memberikan angin segar bagi para pelaku bisnis kuliner di Indonesia. Sebab, ini merupakan salah satu peluang yang dapat mendongkrak penjualan dan sebagai media promosi mereka.

Selain itu, yang dirangkul oleh layanan pesan antar makanan online tidak hanya merchant-merchant besar yang sudah memiliki ratusan kedai, melainkan juga pelaku bisnis kuliner dalam skala kecil dan menengah. tentu saja itu sangat bermanfaat dalam membantu para pelaku bisnis kuliner untuk mengembangkan usaha mereka.

Mengapa memesan makanan secara online?

Sejak awal kemunculan pola layanan pesan antar makanan secara online sekitar empat tahun lalu, konsumen yang memesan makanan melalui aplikasi terus meningkat—dan belum ada tanda-tanda penurunan.

Baca Juga: Instagram “Down”. Berapa Pengguna yang Terimbas?

Berdasarkan survei Spire Indonesia terhadap 1.000 responden di lima kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar, 38% atau sebanyak 381 responden pernah menggunakan layanan pesan antar makanan online.

Lalu, apa yang menjadi alasan mereka untuk memesan makanan secara online? Jawabannya ada lima, antara lain:

1. Tidak memiliki waktu untuk memasak atau menyiapkan makanan

Lebih dari setengah (50%) responden beralasan menggunakan jasa layanan antar makanan online ketika mereka tidak memiliki waktu untuk memasak atau menyiapkan makanan sendiri.

Kesibukan dan aktivitas sehari-hari membuat orang tidak memilki waktu untuk menyiapkan makanan. Ditambah, rasa lelah setelah beraktivitas seharian menjadikan layanan antar makanan online menjadi solusi untuk menghemat waktu dan tenaga.

Baca Juga: Berkah Negeri Seribu Momen

2. Tidak dapat keluar rumah karena kondisi yang tidak memungkinkan

Faktor kedua yang mendorong orang untuk memesan makanan secara online adalah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah, misalnya karena hujan, panas terik, atau sudah larut malam.

3. Tidak ada waktu untuk membeli makanan sendiri

Bagi orang yang memang tidak terbiasa memasak makanan sendiri, membeli makanan di luar jadi jalan keluar. Namun, kadang keterbatasan waktu karena pekerjaan yang menumpuk atau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan menjadi masalah lain yang harus dihadapi. Dalam kondisi seperti inilah layanan antar makanan online hadir sebagai solusi yang efektif.

4. Ingin makan makanan favorit yang jaraknya jauh

Ketika ada makanan yang sangat ingin dimakan tetapi jarak menjadi kendala, pada saat itulah layanan antar makanan online hadir untuk memudahkan konsumen untuk memesan makanan favorit mereka. Hal ini juga membantu para pelaku usaha kuliner untuk menjangkau konsumen mereka dalam radius yang lebih luas.

Baca Juga: 4 Kelompok “Fintech” Menurut Bank Indonesia

5. Sedang ada promo produk

Selain dari keempat alasan di atas, faktor promosi juga masih memengaruhi orang untuk memesan makanan secara online. Hal ini tentu saja merupakan peluang yang baik bagi para pelaku usaha kuliner dalam meningkatkan penjualan mereka.

Makanan apa yang dipesan secara online?

Setelah kita mengetahui alasan yang mendorong orang untuk memesan makanan secara online, sekarang kita perlu tahu makanan apa saja yang paling banyak dipesan secara online?

Jika dilihat dari negara asalnya, makanan yang paling banyak dipesan secara online adalah masakan Indonesia. Masakan lokal masih menjadi pilihan utama masyarakat, kemudian disusul oleh makanan Amerika, makanan Italia, dan makanan Jepang.

Baca Juga: Dampak Wajib Kandungan Lokal terhadap Industri Ponsel

Berdasarkan data yang dirilis Gojek selama 2018, jika dilihat dari jenis makanannya, tercatat 10 juta pemesanan untuk paket ayam, 3,5 juta pemesanan untuk paket nasi (seperti nasi goreng, dan nasi lainnya) dan 1,5 juta pemesanan untuk minuman berbahan kopi.

Go-Food masih menjadi pilihan utama

Untuk layanan antar makanan online yang digunakan, Go-Food masih memimpin dengan 70% pilihan responden dan 30% responden menjawab biasa menggunakan Grab Food. Dari angka tersebut dapat kita lihat bahwa Go-Food masih menjadi pilihan utama untuk layanan pengiriman makanan online berbasis aplikasi.

Sumber: Spire Indonesia

Hal ini dipengaruhi oleh jumlah merchant yang dimiliki masing-masing penyedia layanan tersebut. Tercatat pada 2017 Go-Food memiliki lebih dari 125.000 merchant. Terjadi perbedaan yang cukup jauh dengan Grab Food yang hanya memiliki sekitar 30.000 merchant.

Frekuensi memesan makanan secara online

Lalu, sesering apa orang memesan makanan secara online? Berdasarkan survei dari 381 responden yang pernah menggunakan layanan antar makanan online, lebih dari sepertiganya (38%) melakukannya sebanyak 2-3 kali dalam satu bulan, 27% responden memesan beberapa kali dalam satu tahun, dan 20% responden memesan sekali dalam sebulan.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift

Layanan pesan antar makanan online berbasis aplikasi seperti Go-Food dan Grab Food membuka peluang yang sangat besar bagi pelaku bisnis kuliner, terutama dalam menghubungkan penjual dengan konsumen.

Sumber: Spire Indonesia

Kadang konsumen kesulitan untuk menemukan makanan yang diinginkannya, atau kesulitan untuk menentukan pilihan makanan. Melalui aplikasi layanan pesan antar makanan online, konsumen bisa menjangkau penjual yang jaraknya cukup jauh, dan mendapatkan rekomendasi yang luas tentang makanan yang ingin dipesan.

Untuk pelaku usaha, baik pemula maupun yang telah lama berkecimpung dalam bisnis kuliner, keberadaan aplikasi pesan antar makanan tentu saja menjadi peluang besar untuk melebarkan sayap mereka. Para penjual tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Mereka dapat memperluas radius penjualan mereka, dan tentu saja meningkatkan angka penjualan.● SPONSORED CONTENT

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Artikel Asli