batas.id~ Kesenian tradisional ini mungkin banyak yang tidak mengetahui, kesenian tradisioan asli Banyumas ini sering di pentaskan pada saat warga menggelar hajatan seperti pesta pernikahan.

Seni tari yang mengabungkan unsur seni dan mistis ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Kuda Kepang Banyumasan, seni tradisional ini di kenal dengan nama Kuda Kepang Banyumasan, namun masyarakat setempat menyebunya dengan sebutan “EBEG”

Dalam pementasa Ebeg ini bisa diperankan 12 sampai 14 orang dan diiringi gamelan jawa, dan biasanya ada seorang pawang yang menetralisir penari saat kesurupan.

Ebeg ini dalam penampilannya menggunakan anyaman bambu yang di bentuk menyerupai kuda, dan penari seolah mengendarai kuda. Penari menggunakan kostum khusus layaknya penari penari kuda lumping atau jatilan pada kesenian Reog Ponorogo.

Baca Juga  Jembatan Neo Soho Mall, tempat "Selfie" ngehits terbaru di Jakarta.

Namun Ebeg berbeda dengan tari tradisional lain, karena penari Ebeg ini, pada saat menari mereka dalam keadaan seperti terhipnotis (tidak sadar) dan berlaku di luar kemampuan manusia biasa, layaknya kuda lumping penari Ebeg seperti kesurupan sehingga bisa memakan beling, memecah kelapa dengan kepala memakan ayam hidup dan lain- lain.


Aroma mistis pada kesenian Ebeg ini sangat kental, bahkan penari ini terkadang kesurupan berkepanjangan dan sulit untuk di sadarkan.

Ebeg hanya ada di Banyumas, seni serupa adalah Kuda Lumping yang ada di daerah Banten. Ebeg masih lestari dan di jaga kelestariannya di Desa Gentawangi Kecamatan Jatilawang, Banyumas.

Kepala desa Gentawagi, Winardi, mengungkapkan bahwa kesenian ini asli, tumbuh dan berkembang di Banyumas sehingga harus tetap dilestarikan.” Ebek kesenian asli  Banyumas, yang harus di jaga dan dilestarikan dengan salah satu cara ya di pentaskan saat warga mengglar hajatan khususnya di desa Gentawagi ini” ungkapnya.

Baca Juga  Roemah Rakyat, Hobi Unik Nani Mayor

DENIS | Foto: Denis Priwanda/batas.id