100 ingkung dan para pesilat yang hadir di desa jonggol/foto siswandi/©batas.id

batas.id~PONOROGO-Dalam rangka pengenalan wisata baru di Desa Jonggol, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ponorogo menggelar Festival 100 ingkung di Gunung Watu pecah pada Minggu, 25 Desember 2016 (kemarin-red).

Gunung Watu Pecah adalah suatu pegunungan yang masih sangat asri, masih banyak terdapat pohon yang rindang dan aneka satwa burung di dalam hutan tersebut, disana juga terdapat air terjun yang sangat bersih airnya.

Deklarasi damai pencak silat dan pengukuhan kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa jonggol oleh kepala disporabudsata kab. ponorogo Drh. H. Sapto Djatmiko,TR.M.M./foto siswandi/©batas.id
Deklarasi damai pencak silat dan pengukuhan kelompok sadar
wisata (pokdarwis) desa jonggol oleh kepala disporabudsata kab. ponorogo Drh. H. Sapto Djatmiko,TR.M.M./foto siswandi/©batas.id

Dalam deklarasi pengenalan wisata ini juga di hadiri puluhan organisasi silat yang cinta damai di Ponorogo, yaitu Pasukan Perdamaian Pencak Silat Indonesia (PPPSI).

Dalam kesempatan ini tim batas media menemui panitia festival 100 ingkung yang di gelar di Gunung Watu Pecah yaitu bapak Tukul, ia menceritakan bahwa di Ponorogo terdapat banyak tempat wisata, namun belum dikenal luas dan belum ada sentuhan untuk dijadikan tempat pariwisata.

Baca Juga  Heboh, Foto Anggota Pramuka Sedang Makan di Tanah dan Rumput

“Hari ini Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menggelar festival 100 ingkung, dengan harapan selain Gunung Watu Pecah dijadikan tempat wisata, juga dijadikan sumber oksigen karena sekitar perkotaan Ponorogo sudah beralih fungsi kurangnya tanaman hijau,” kata Tukul.

para pesilat dari berbagai perguruan yang hadir di desa jonggol/foto siswandi/©batas.id
para pesilat dari berbagai perguruan yang hadir di desa jonggol/foto siswandi/©batas.id

Ditempat terpisah tim batas media menghubungi bapak Mohammad Supriyono selaku pengurus PPPSI, yang juga mensuport penyelengaraan acara ini, selain bisa menarik untuk pariwisata, ia juga sangat senang karena bisa berkumpul dengan puluhan organisasi silat di Ponorogo.

“Kalau dulu-dulu, para pesilat ini sangat egois, mementingkan kepentingan organisasi sendiri, kini sudah bersatu, jarang dijumpai perselisihan lagi antar pesilat,” pungkasnya. (sis)