Kantor Baru CV. Centra Teknik Mandiri

Batas.id ~ JAKARTA-H.Nur Ekhwan, Pengusaha dan pengurus DPP APITU Indonesia dulu hanya Anak dari Keluarga yang memprihatinkan, ayahnya seorang pekerja di Pabrik Gula sebagai penebang Tebu dan Emak bekerja sebagai buruh Tanam Padi, bukan pula lulusan Perguruan Tinggi hanya lulus STM (sekarang SMK). Berkat bimbingan dan doa orangtua serta semangat belajar untuk mandiri, sukses diraihnya karena ia adalah sosok yang tangguh, ulet dan pejuang sejati.

Keluarga H. Nur Ekhwan
Keluarga H. Nur Ekhwan

Perjuangannya bertahun-tahun melalui proses dan perjuangan panjang H. Nur Ekhwan membuahkan hasil, terbukti pada hari sabtu 17 September 2016 lalu membuka dan meresmikan kantor baru CV. Centra Teknik Mandiri di Jl. Pulo Gebang No.21A. Centra Teknik Mandiri memiliki 48 (empat puluh delapan) karyawan dan beromset ratusan juta rupiah per bulan. Bukan itu saja CV. Centra Teknik Mandiri yang di motori oleh H. Nur Ekhwan kini sudah mendapat kepercayaan dari produsen–produsen air conitioner ternama untuk menjadi Agen penjualan dan service center seperti Daikin, LG dan GREE.

Putra Dusun Karangdowo Desa Petanjungan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang yang lahir 43 (empat puluh tiga) tahun lalu dengan nama Nur Ekhwan. Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan kekurangan dari sisi ekonomi tidak menyurutkan semangat Nur Ekhwan untuk belajar. Menyadari keadaan keluargannya, Nur Ekhwan selalu membantu kedua orangtuanya setiap hari sebelum dan sepulang sekolah dengan berjualan Kojek (Cilok) di kampungnya. Mengkonsumsi nasi aking adalah hal biasa baginya, malahan belum tentu sehari makan sekali. Walau dalam kondisi yang serba kekurangan Nur Ekhwan bertekad untuk tetap bersekolah hingga lulus.

Tahun 1992, Putra pertama dari dua bersaudara pasangan H. Salamet dan ibu Rini (alm) menyelesaikan pendidikannya di STM Negeri Pekalongan, atas dorongan keinginan yang kuat dan restu orang tua Nur Ekhwan memutuskan untuk hijrah ke Jakarta.

Tanggal 17 Juni 1992 Nur Ekhwan berangkat ke Jakarta menggunakan Bus Menara Jaya mengikuti Seorang Bos Siomay, yaitu Bapak Citro dan Bapak Suwardi. Dan tepatnya terhitung mulai tanggal 19 Juni 1992, Nur Ekhwan sudah mulai aktif  menjajakan siomay dagangannya dengan berkeliling menggunakan sepeda di daerah Kranji Kampung 2 Bekasi dan sekitarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, berjualan siomay rupanya bukan merupakan garis tangannya, sebab selama hampir dua bulan lebih profesi itu digelutinya, sampai pada suatu ketika Nur Ekhwan mendapat panggilan kerja dari PT. HUME SAKTI INDONESIA atas referensi Bapak Sukardi. Nur Ekhwan ditempatkan dibagian Maintenance Bulding dengan kontrak selama satu tahun yang kemudian tidak diperpanjangnya sebab Nur Ekhwan lebih memilih melanjutkan kerja di sebuah bengkel Storing, Alat berat dan ditempatkan pada bagian Welding.

Baca Juga  Dari Aborsi Mobnas ke Terobosan Tesla?

Tidak puas dengan pekerjaan yang dilakukannya saat itu sebagai tukang las (welder), berbagai pemikiran dan upaya untuk bisa mandiri terus berkecamuk dalam fikiran Nur Ekhwan ini, sampai suatu saat dilihatnya seorang tukang servis tv keliling di sekitar tempat tinggalnya di wilayah Cakung Barat yang hanya berbekal obeng, tester dan alat sederhana bisa memberikan layanan jasa servis dan bisa menghasilkan uang.

Keinginan tahuan yang berlebih untuk dapat memperoleh penghasilan yang lebih besar dengan modal yang seadanya, maka didekatinya Teknisi TV tersebut untuk bisa membantu sekaligus memperdalam ilmu dibidang pertelevisian dan ternyata gayung bersambut bahwa si Teknisi TV itu pun berkenan untuk mengajak Nur Ekhwan  untuk membantunya setiap sore dan hari Minggu.

Pada pertengahan tahun 1995 Nur Ekwan melamar untuk bekerja di sebuah bengkel kulkas dan AC yang kebetulan pemiliknya adalah Bpk. Sutomo masih satu kampung dengannya, tidak sampai satu tahun yaitu pada bulan Maret 1996, Nur Ekwan dan temannya Kusyanto melamar bekerja di SANKYO Cabang Utama Kramatjati milik Bpk. H. Nuryadi.

Terhitung bulan Maret 1996 Nur Ekhwan bergabung dengan Sankyo Teknik  sebagai teknisi ac, disinilah Nur Ekhwan mendapatkan ilmu tentang teknik pendingin, refrigrasi dan penjualan. Di bawah asuhan Bpk. H Nuryadi beliau cepat dan cekatan dalam bekerja, dalam perjalanan waktu SANKYO pun berkembang dan membuka cabang outlet baru di Cipinang, kemudian Nur Ekhwan di percaya bekerja di otlet expansi Sankyo Teknik berlokasi di Jl. Basuki Rahmat Cipinang Jakarta Timur yang di Motori oleh H. Sudirman adik kandung dari CEO Sankyo Teknik (SANKYO Group) H.Nuryadi.

H.Nuryadi & H. Nur Ekhwan
H.Nuryadi & H. Nur Ekhwan

Bekerja di Group SANKYO dijalaninya selama dua tahun dan pasca kerusuhan Mei 1998 Nur Ekhwan pun mengundurkan diri dari SANKYO Cipinang untuk mewujudkan keinginan besarnya selama ini yaitu berusaha sendiri dengan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kerja yang telah dimilikinya selama ini ditambah dengan bekal tabungan dari tahun 1992–1998 sebesar Rp. 2.000.000 (Dua Juta Rupiah), Nur Ekhwan pun berhasil memiliki Sepeda Motor Vespa B 6555 KP, Alat Steam, beberapa Obeng sebagai modal awal kerjanya.

Baca Juga  Aksi Balap Liar di Kota Pekanbaru

Bermodal semangat dan motor “butut” sejak tanggal 19 Juni 1998 Nur Ekhwan mulai berkeliling mencari order servis ac, kulkas, mesin cuci dan peralatan elektronik apa saja yang sekiranya dapat diperbaiki, berjalan dari pintu kepintu menawarkan jasa tanpa lelah Nur Ekwan tidak putus asa hingga pada suatu ketika bertemu dengan seseorang yang menawarinya pekerjaan pada saat motornya mogok. Hikmah dari motornya mogok akhirnya Nur Ekhwan diajak oleh seseorang yang akan memberinya pekerjan bongkar-pasang AC untuk naik kedalam mobilnya.

Motor Vesva Bersejarah, foto: Koleksi Pribadi H, Nur Ekhwan
Motor Vesva Bersejarah, foto: Koleksi Pribadi H, Nur Ekhwan

Gemetar dan terpaku dirasakan oleh Nur Ekwan saat ia berada dalam mobil mewah tersebut karena sebelumnya tidak pernah, hingga sampai di satu lokasi di Jakarta Pusat Nur Ekhwan ditunjukkan untuk membongkar dan memasang kembali unit AC dan semua pekerjaan yang diterimanya dapat diselesaikan dengan baik pada pertengahan bulan Agustus 1998.

Berbekal dari hasil kerja bongkar-pasang AC inilah akhirnya Nur Ekwan dapat mendirikan sebuah bengkel kerja CENTRA TEKNIK dengan mengontrak sebuah rumah di daerah Pulo Gebang tepatnya Jl. Raya Pulo Gebang No.10A, Pulo Gebang Cakung Jakarta Timur, dan disinilah cikal bakal CENTRA TEKNIK , bengkelnya berkembang pesat dan maju hingga pada Juni 2009 bisa membeli rumah yang semula dikontraknya.

Pada bulan Januari tahun 2000, Nur Ekhwan meminang seorang Gadis yang kebetulan masih satu dusun di kampungnya Dina Arista namanya, dan setelah menikah keduanya membangun dan berjuang bersama-sama hingga Centra Teknik menjai Bengkel besar dan kemudian menjadi sebuah perusahaan resmi yang memiliki badan hukum, dari Centra Teknik kini menjadi CV. CENTRA TEKNIK MANDIRI yang bergerak dibiang Kontraktor Mekanikal & Elektrikan, Air Conditioning, Refrigran dan Suplier.

Pasangan bahagia ini dikaruniai seorang Anak pertama yang diberi nama Nurrul Putri Ramadhani pada Desember 2000, kebahagiaanpun bertambah pada 31 Desember 2003 lahir putri kedua mereka Dinda Chintya Mutiara Dewi dan disempurnakan dengan kelahiran putra ketiganya pada 6 November 2009 dan diberi nama Moch. Ananda Ikhwan Syah Putra.

Perjalanan panjang Nur Ekhwan membuahkan hasil dengan sukses membangun Centra Teknik Mandiri. Nur Ekhwan meraih puncak sukses seperti sekarang ini melalui proses dan perjuangan panjang, dengan semangat dan tekat yang kuat serta keyakinan semua itu bisa dilalui. Dengan berbagai tantangan yang dihadapinya Nur Ekwan kemudian menemukan Formula untuk maju dan berkembang hingga sukses, “Dengan memberi akan lebih banyak Memiliki” ini salah satu semangat sosial yang menurutnya akan memudahkan setiap jalan yang dilalui.

Baca Juga  M.Nurzaeni Meninggalkan Rumah  Belum Kembali

Keyakinan akan prinsip memberi, akan lebih banyak memiliki, terbukti benar membuatnya maju pesat hingga pada tahun 2014 lalu beliau dan istri menjalankan ibadah haji ke tanah Suci Mekah sebagai kewajiban umat Islam yang mampu untuk menjalankan rukun Islam ke lima, kini Nur Ekhwan dan Dina Rosita memiliki Gelar Haji dan di panggil Pak Haji dan Bu Haji.

Pak Haji asal Pemalang ini berhasil menepis anggapan bahwa lulusan STM memiliki masa depan suram (madesur). Pak Haji kini selain sebagai pengusaha juga aktif di organisasi. Putra Pemalang ini dikenal sebagai orang yang supel pandai bergaul dan low profile. Kini H Nur Ekhwan aktif di Asosiasi praktisi pendingin dan tata udara APITU Indonesia sekaligus menjadi wakil Ketua Umum DPP APITU Indonesia.

Bahkan Ketua Umum APITU Indonesia Bpk. Wirnando Bic. Merasa Bangga memiliki anggota dan pengurus yang hebat seperti H. Nur Ekhwan. “Alhamdulilah, saya bangga memiliki anggota dan pengurus yang tajir,” tegasnya saat berbincang di sela peresmian Kantor Baru CV. CENTRA TEKNIK MANDIRI pada Sabtu (17/09/16) di bilangan Pulo Gebang Jakarta Timur.

H.Nur Ekhawan
H.Nur Ekhawan

Masih Ingat hingga sekarang kalimat dan kata-kata wali kelas STMN Pekalongan  “ LULUSAN STM MADESUR“ (Masa Depan Suram) oleh Bapak Juladri Laya, yang Alhamdullillah saya buktikan, dari kalimat tersebut, kalau kita bermental Juara dan Pejuang pastinya tidak akan “MADESUR”, tegasnya kepada Batas.id  dan Majalah RTU saat di wawancarai (17/09). H. Nur Ekhwan juga mengucapkan terima kasih kepada Guru STMN Pekalongan waktu itu Bpk. Juladri Laya, Bpk. Suratno BSC, Ibu Sri dan Bpk./Ibu Guru dan Staff STMN Pekalongan, “Berkat bimbingan beliau saya dapat seperti ini, semoga beliau selalu sehat dan bahagia selalu” tegasnya lagi.

Di kalangan keluarga, Pak Haji juga dikenal sebagai sosok yang perhatian, peduli terhadap sesama khususnya kepada keluarga dan saudara, beliau selalu memberi dukungan kepada siapapun yang ingin belajar dan ingin maju. ”Mas Nur itu orangnya baik banget dan enggak pelit,” ujar Kentri panggilan akrab Tri Kuati adik kandung H. Nur Ekwan.

 

Narno Rico-batas.id