Convertible notebook premium ini memadukan antara desain yang stylist, kinerja yang tangguh, dan pengalaman pengguna.

 

Selepas memarkir mobil di area depan gedung, saya menuju lobi Setiabudi One, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Pada Selasa (25/4) sore itu, saya hendak bertemu dengan Kevin Wu, teman lama yang kini menjadi CEO Tripal.co, online marketplace yang mempertemukan antara para traveler dengan pemandu lokal di berbagai daerah di Indonesia.

 

Kami bertemu di Lau’s Kopi, salah satu kedai di pusat tongkrongan itu. Yang menarik, selama lebih kurang lima menit saya berjalan dari parkiran kendaraan hingga ke tempat meeting, beberapa mata memandangi produk yang saya bawa. Ya, saat itu saya menenteng HP Spectre x360, notebook berwarna silver yang lumayan mencolok.

Saya sengaja menenteng notebook terbaru keluaran HP ini tanpa tas agar tidak ribet. Toh, bodinya lumayan tipis, hanya 13,8 milimeter (mm), 13% lebih tipis daripada seri sebelumnya. Produk ini berlayar 13,3 inci di chassis 12 inci sehingga tampak ramping dan gaya.

 

Selain tampilannya yang stylist, sepertinya orang-orang memerhatikan logo yang tersemat di notebook ini. Memang HP Spectre x360 dilabeli logo yang tidak pasaran, melainkan sebuah tatanan empat garis miring diagonal minimalis yang ditempelkan di punggung notebook tanpa meninggalkan ciri logo HP konvensional.

Itu berarti upaya HP dalam melakukan transformasi bisnis, termasuk dari pembaruan logo untuk produk premiumnya, berhasil. Proses perancangannya pun tidak main-main karena memakan waktu tiga tahun (2008-2011). Moving Brands, konsultan merek berbasis di San Francisco, New York, dan Zurich, yang ditunjuk untuk menyempurnakan merek HP mesti memikirkan fakta bahwa HP telah memproduksi 100 juta perangkat dengan 47.000 model yang berbeda setiap tahunnya. Jadi, mengubah logo bukan sekadar mengganti font dan warnanya.

Saya cukup percaya diri menenteng HP Spectre x360 yang berlogo HP baru ini karena memang memancarkan aura premium. Saya tidak malu menunjukkan ke siapa saja sekalipun itu bukan perangkat berlogo Apple yang selama ini tercitrakan paling bergengsi. Apalagi, saya juga terkesan dengan performanya.

Produk yang baru dirilis di Indonesia pada 29 Maret 2017 ini dibekali sistem operasi Windows 10 Home 64-bit. Kinerjanya cukup optimal karena didukung prosesor Intel Core i5 atau i7 dengan memori 8-16 GB LPDDR3-1866 SDRAM dan storage M.2 SSD Pcle NVMw 256 GB-1 TB (tergantung perangkat). Saat digunakan untuk bekerja keras, kipas gandanya akan memastikan perangkat tetap dingin.

Untuk urusan koneksi, produk ini dilengkapi dua port C USB-Type, ThunderboltTM 3, dan satu port 3.0 yang siap menghubungkan ke perangkat pendukung lainnya. Produk ini juga bisa dimanfaatkan menjadi empat mode sesuai aneka kebutuhan, yakni tablet, display, notebook, dan tent. Jadi, menggunakan produk ini bukan hanya merasakan keandalan performanya, melainkan juga pengalaman yang tercipta.

 

Saat bertemu Kevin, kami sedang membicarakan rencana peluncuran Tripal.co, startup miliknya, yang dijadwalkan dilaksanakan pada 19 Mei 2017. Kami juga mendiskusikan rencana kerja sama jangka panjang antara Tripal.co dengan TechnoBusiness ID. Saya mengusulkan beberapa ide seraya membuka website TechnoBusiness ID di perangkat HP Spectre x360 yang saya bawa. Dalam diskusi itu, saya bisa dengan leluasa menggonta-ganti mode notebook sesuai topik yang sedang kami bicarakan.

Sehari setelah itu, saya tidak bisa ke kantor untuk urusan pribadi. Tapi, saya mesti tetap bekerja dan berkomunikasi dengan rekan-rekan lainnya. Saya memanfaatkan Active Stylus dan melingkari beberapa contoh grafik yang bisa menjadi acuan dan mengirimkannya ke rekan-rekan di kantor. Terkadang saya mencorat-coret naskah yang perlu dikoreksi dengan tangan di layar sentuh beresolusi Full HD 1920 x 1030-4K UHD 3840 x 2160.

 

Saya kagum dengan kualitas gambar yang disajikan produk ini, begitu juga dengan suara speakernya.

 

Bagi saya, yang terpenting dari sebuah notebook adalah daya tahan baterainya. HP Spectre x360 ini dapat menjawab perangkat yang saya butuhkan karena baterainya berdaya 57,8 watt, 25% lebih besar ketimbang pendahulunya. Baterai itu mampu bertahan hingga 15 jam dan bisa diisi secara cepat (fast charging) hingga 50% selama 30 menit. Karena itu, meeting ke mana pun tak perlu membawa-bawa charger yang akan menambah berat perangkat.

 

Kala jenuh, saya menyelingi pekerjaan dengan hiburan. Saya kagum dengan kualitas gambar yang disajikan produk ini, begitu juga dengan suara speakernya. Saat menonton film atau mendengarkan musik, saya disuguhi suara yang menggelegar tak ubahnya suara home theater di rumah saya. Sebab, tak tanggung-tanggung, empat speaker yang disematkan di perangkat ini merupakan teknologi dari Bang & Olufsen, produsen elektronik superpremium asal Denmark yang terkenal sebagai penghasil suara berkualitas.

Secara performa dan fitur sebetulnya saya terpuaskan dengan HP Spectre x360 karena sebagian saya tidak memperolehnya di jajaran notebook MacBook (MacBook, MacBook Air, dan MacBook Pro) keluaran Apple yang amat bergengsi itu. Namun, menurut saya, HP masih sulit mengalahkan brand image dari produk-produk keluaran Apple, sekalipun produk ini dibanderol seharga Rp17 jutaan, mendekati harga MacBook Pro edisi 2015. Notebook berbodi aluminium CNC dan serat karbon ini akan lebih jempolan jika bobotnya mampu ditekan dari 1,3 menjadi 0,9-1,0 kilogram saja.

NRP-BATAS.ID| TechnobusinessID | Purjono Agus Suhendro|Foto-Foto: HP