Industri Ban Vulkanisir, Nasibmu Kini

Oleh Muhammad Rizki Faisal | Assistant Manager Consumer Research Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Bagi pemilik kendaraan niaga seperti truk dan bus, untuk menghemat biaya mereka kebanyakan memilih membeli ban vulkanisir ketimbang ban baru.

Ban vulkanisir yaitu ban bekas yang diukir kembali untuk menutup tapak yang mulai halus. Dengan menggunakan ban vulkanisir, pemilik kendaraan bisa menghemat pembelian ban.

Simak Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Ban-ban vulkanisir amat mudah ditemukan di bengkel-bengkel pinggir jalan. Bahkan, ada bengkel yang memang khusus untuk menjual dan melayani vulkanisir ban.

Nilai bisnis ban vulkanisir tidak main-main. Di tengarai nilainya terbesar kedua setelah ban baru. Pengendalinya pebisnis skala kecil atau rumah tangga (home industry).

Nilai bisnis ban vulkanisir tidak main-main.

Tapi, belakangan muncul tantangan: dibukanya keran impor ban oleh pemerintah menjadi masalah besar bagi industri ini.

Baca Juga  Jumlah Startup Indonesia Tahun Ini Turun 23%

Pertama, harga ban impor, terutama di China, lebih murah. Kedua, ban impor yang memiliki kualitas jelek tidak bisa divulkanisasi. Ban yang bersifat sekali pakai itu mengakibatkan ketersediaan ban bekas semakin berkurang.

Spire Insight: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

 

Data Ban Vulkanisir

Selama lima tahun sejak 2013, kapasitas produksi ban vulkanisir terus meningkat. Setiap tahun rata-rata tumbuh 4%. Artinya, sama seperti bengkel-bengkel yang lain, nilai bisnisnya cukup besar dalam menopang perekonomian nasional.

Realisasi Produksi Ban Nasional 2013-2017

Sumber: Spire Research and Consulting

Yang mendorong permintaan ban vulanisir terus tumbuh yaitu harganya yang lebih murah dibanding ban baru.

Meski murah dan hasil pengukiran ulang, ban vulkanisir bukan berarti tidak aman digunakan.

Saat ini, memang ada tantangan tersendiri bagi industri ban vulkanisir untuk bisa menjamin kualitas produk ban yang dihasilkan melalui sertifikasi yang menjadi tolak ukur standar keamanan ban vulkanisir.

Baca Juga  Sharp Sabet Lima Penghargaan Top Brand 2018

Spire Insight: Tren Bisnis “Managed Service” Industri Komunikasi

Asosiasi Pabrik Vulkanisir Ban Indonesia sebagai asosiasi yang membidangi industri ban vulkanisir di Tanah Air terus berupaya untuk menginventarisasi pelaku industri dalam rangka menyelaraskan standar manajemen kualitas dari produk ban vulkanisir yang diproduksi.

Pemerintah diharapkan hadir membantu industri ini agar tetap berkembang. 

Pemerintah diharapkan hadir membantu industri ini agar tetap berkembang mengingat potensinya yang cukup besar terhadap perekonomian.

Misalnya, dengan membantu mengatur regulasi impor ban, melakukan sertifikasi atau standardisasi terkait pengujian kualitas mutu ban vulkanisir.

Pengujian kualitas menjadi dilematis mengingat harga yang harus dibayar cukup tinggi. Padahal, pelaku industri ini mayoritas usaha skala rumah tangga.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Baca Juga  Gelar Brand Day, Gogobli Tawarkan Diskon 50% Produk Kecantikan

Fakta lainnya, saat ini di Thailand, produsen ban Michelin sudah mengembangkan bisnis vulkanisir ban untuk ban pesawat terbang.

Hal ini tentu menjadi konsen di mana ban vulkanisir hadir menjadi solusi bagi industri lain, khususnya industri transportasi dan logistik.

Dengan biaya yang lebih irit, ban vulkanisir mampu diandalkan untuk pelaku bisnis dalam menggunakan ban tanpa harus membeli ban baru.●

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Artikel Asli