Industri Kelapa Sawit yang Jaya di Hilir

Oleh Andhika Irawan Saputra | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Produksi kelapa sawit nasional dari lahan seluas 12,38 hektare pada 2017 mencapai 42 juta ton. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Hilirisasi kelapa sawit menghasilkan produk minyak goreng kemasan, superolein, red palm oil, herbal palm oil, margarin, shortening, specialty fat, fatty acid, fatty alcohol, methyl ester, gliserin, biomaterial, dan biofuel/FAME biofuel lainnya, biofeed, biomass for energy, biofine chemical, dan charcoal.

Simak Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Masuknya investor, baik dalam maupun luar negeri, ke industri ini mampu mengembangkan industri atau membangun pabrik baru dengan volume kapasitas terpasang yang cukup besar dan teknologi yang memadai untuk melakukan ekspansi terhadap industri-industri hilir kelapa sawit.

Nilai investasi untuk kelapa sawit hingga 2017 meningkat secara signifikan, mencapai US$4,1 miliar. Jauh lebih besar dibanding nilai investasi pada 2011-2014 yang hanya sekitar US$1,6 miliar.

Kemunculan berbagai isu negatif yang dihembuskan oleh negara-negara kompetitor tidak menghalangi usaha Indonesia untuk memperbaiki citra kelapa sawit di mata dunia.

Besarnya nilai investasi tersebut tidak hanya berdampak pada ekspansi industri. Namun, juga untuk meningkatkan diversifikasi produk turunan kelapa sawit. Alhasil, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor produk CPO/CPKO.

Keberhasilan Kementrian Perindustrian dalam melakukan hilirisasi kelapa sawit berdampak pada pengembangan produk turunan kelapa sawit yang dapat diekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Spire Insight: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

Meningkatnya ragam jenis dari produk turunan kelapa sawit juga diakibatkan oleh meningkatnya investasi yang mendorong ekspansi industri kelapa sawit di sektor hilir.

Salah satu produk turunan sawit yang saat ini sedang dikembangkan dan bermanfaat untuk mengatasi stunting atau kekurangan gizi adalah extra virgin red palm oil yang memiliki kandungan gizi betakaroten dan vitamin E yang sangat tinggi.

Industri kelapa sawit merupakan industri nasional strategis yang mendorong neraca dagang Indonesia surplus US$11,84 miliar. Ekspor minyak sawit dan produk turunannya pada 2017 telah mencapai US$22,97 miliar. Tren peningkatan tersebut diperkirakan juga meningkat hingga 2018.

Hingga 2017, industri kelapa sawit juga menyumbang sebesar 2,23% dari pajak nasional atau sekitar Rp27,42 triliun dengan kontribusi PNBP mencapai Rp12,8 triliun.

Baca Juga: Industri Vulkanisir Ban, Nasibmu Kini

Keberhasilan hilirisasi industri kelapa sawit tidak terlepas dari isu negatif yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, kelapa sawit dituduh sebagai penyebab meningkatnya angka deforestasi akibat ekspansi lahan.

Padahal, ekspansi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit hanya mengambil 10% dari lahan hutan. Di sisi lain, ekspansi lahan kelapa sawit juga merupakan usaha reforestasi sebagai konversi lahan pertanian dan terlantar yang meningkatkan stok karbon wilayah.

Diskriminasi terhadap kelapa sawit Indonesia oleh Uni Eropa akibat isu kesejahteraan tenaga kerja menjadi kampanye hitam dunia terhadap kelapa sawit Indonesia.

Padahal, keberadaan industri kelapa sawit telah menyerap angka kerja hingga melebihi 8,2 juta orang dan meningkatkan kesejahteraan beragam kelompok masyarakat.

Spire Insight: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Gugatan yang dituduhkan oleh Uni Eropa terhadap Indonesia terkait isu dumping juga menambah panjang citra negatif kelapa sawit Indonesia di dunia.

Hanya saja, World Trade Organization menyatakan bahwa Indonesia tidak melakukan dumping dan tuduhan Uni Eropa sama sekali tidak benar. Hal ini tentu saja membuka kesempatan bagi pelaku industri sawit dalam negeri untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara lain di dunia.

Kemunculan berbagai isu negatif yang dihembuskan oleh negara-negara kompetitor tidak menghalangi usaha Indonesia untuk memperbaiki citra kelapa sawit di mata dunia.

Keberhasilan hilirisasi industri kelapa sawit menjadi bukti bahwa industri ini akan terus berkembang dan berbenah diri dalam mengembangkan berbagai produk turunannya.

Apalagi, industri ini dapat memberikan manfaat bagi pendapatan negara mengingat sumbangan dari produk hilirisasi kelapa sawit terhadap pendapatan negara mencapai US$6 miliar (134%) dengan ratio baku dan hilir 43:57.●

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Artikel Asli

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here