Batas.id~Jakarta–Ibu kota Negara yang terbagi menjai 5 Kota Administrasi dan 1 Kabupaten (Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Kab. Kepulauan Seribu),secara geografis Jakarta terdiri dari dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 4-7 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi 6°12’ Lintang Selatan dan 106°48’ Bujur Timur. Berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989, luas wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah 7.659,02 km2, terdiri dari daratan seluas 661,52 km2, termasuk 110 pulau di Kepulauan Seribu, dan lautan seluas 6.997,50 km2, dan jumlah penduduk ±28 juta jiwa.

Pengendara melawan arus/ foto:nrp©batas.id

Jakarta sebagai pusat Pemerintahan dan pusat bisnis menjadikan Jakarta kota yang sangat sibuk baik di siang hari maupun di malam hari, hal ini mendorong orang dari berbagai daerah untuk datang mengaudu nasib di Jakarta, banyaknya penduduk dan kendaraan di Jakarta berimbas pada kondisi jalan-jalan di Jakarta  yang padat setiap hari terutama pada jam berangkat atau pulang Kantor. Kemacetan di  Jakarta telah menjadi penyakit kronis sejak awal tahun 2000-an, dengan kecenderungan yang semakin parah. Berbagai solusi ditawarkan, namun tidak satupun berjalan efektif untuk mengatasinya, misalnya: pemberlakuan plat nomor kendaraan ganjil genap, jalur khusus bus, perbaikan jalan, dan pembangunan jalan layang non tol belum mampu mengatasi kemacetan.

Baca Juga  Lima Nasihat Berharga Entrepreneur Sukses untuk Generasi Milenial
Kesemprawutan lalu lintas/foto:syam-batas.id

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Perlintasan sebidang menambah kemacetan pada kawasan Jabodetabek. Berdasarkan identifikasi, pada saat ini terdapat 46 kawasan di kawasan ini dengan total 100 titik simpang rawan macet di Jakarta, dimana 8 (delapan) kawasan di antaranya memiliki lebih dari 4 (empat) titik simpang rawan diantaranya Kawasan Ancol/Gunung Sahari, Jatibaru/Tanah Abang, Kalimalang, Mampang/Buncit, Pasar Minggu, Pondok Indah, Pulo Gadung, dan Tambora. Tingkat keparahan pada 8 (delapan) kawasan ini dua kali lipat lebih tinggi dari kawasan-kawasan lainnya.

Masalah kemacetan di Jakarta bukan hanya masalah transportasi tetapi banyak faktor lain yang juga berkontribusi terhadap kemacetan, misalnya prilaku pengendara yang berhenti di sembarang tempat, melawan arus, menerobos lampu merah yang semakin hari semakin parah dan menghawatirkan. Melawan arus seolah sudah menjadi hal biasa, menerobos lampu merah seolah bukan pelanggaran dan tidak membahayakan, hampir tidak ada pemandangan tertib di setiap perempatan jalan tidak ada yang berhenti di belakang garis stop ketika lampu merah, pejalan kaki sudah tidak dihargai dan tidak di beri ruang untuk menyeberang, angkot ngetem sembarangan,pengemudi ojeg berhenti/ mangkal sembaranag, minimnya toleransi dan sopan santun pengendara, melawan arus dimana mana sehingga membuat kondisi jalan-jalan di Jakarta semakin “sakit”.(nrp-batas.id)

Baca Juga  Keceriaan Rakyat Kecil Ditengah Pasar Tradisional Jelang Idul Adha