BATAS.ID~Wonogiri–Jembatan yang berada di Kismantoro, jalur provinsi penghubung Pacitan dan Wonogiri, saat ini sedang dilakukan pembangunan jembatan baru.

Pembangunan jembatan ini sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu, jembatan yang berada di sebelah selatan polsek Kismantoro ini disediakan jembatan darurat untuk lalulintas di kawasan tersebut, agar mobilitas masyarakat tidak terganggu, namun jembatan darurat ini sudah beberapa kali mengalami kerusakan yang berakibat terperosoknya kendaraan.

Saat ini jembatan darurat tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.

Pengguna jalan untuk menuju Purwantoro atau sebaliknya mengarah ke Jeruk, Pacitan Jawa Timur pengguna harus melalui jalur alternatif, melalui Gesing-Lemahabang yang tembus di Pasar Klitik Purwantoro.

Untuk melewati jalur alternatif ini pengguna kendaraan kecil dikenakan tarif IDR3000 dan IDR 5000 untuk kendaraan besar atau truk.

Baca Juga  Secepatnya, Jalan Raya Pacitan-Wonogiri Akan Dilebarkan

Pengguna jalan alternatif asal Jeruk, membenarkan hal ini karena ia baru saja melalui jalur ini.

“Iya ada tarifnya lewat jalur alternatif, kalo gak salah 3000 kendaraan kecil dan 5000 untuk kendaraan besar truk” jelas Yutin Tiyas kepada batasID Jumat pagi.

Bukan tanpa alasan penerapan tarif untuk kendaraan yang melalui jalur ini, Siswandi perwakilan BPD Lemahabang mejelaskan perihal penerapan tarip kendaraan yang melintasi jalan desa Lemahabang.

“benar ditarifkan untuk kendaraan yang melintasi jalan yang baru dicor itu” kata Siswandi

Pengenaan tarif untuk kendaraan yang melalui jalan desa Lemahabang, sudah menjadi keputusan bersama antara warga dan kepala desa serta camat setempat melalui musyawarah bersama beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Labtop dan 25 Juta di Gondol Maling

“Sebelumnya warga, pak kepala desa dan BPD sudah bermusyawarah mengenai jalur yang dilalui kendaran ini, karena ini jalan menjadi tanggung jawab desa, jadi disepakati untuk menerapkan tarif untuk kendaraan, ini sebagai antisipasi kerusakan yang mungkin terjadi karena volume dan tonase kendaraan yang melintas bervariasi” beber Siswandi.

Lebih lanjut, Siswandi mengatakan, bahwa pendapatan dari kendaraan yang melintas di bagi menjadi dua bagian, 70% nya untuk alokasi perbaikan jalan dan 30% untuk kas Karang Taruna.

“Jadi ini jelas, alasan dan penggunaanya, ini bukan pungli, sebagai antisipasi kerusakan, karena ini jalan desa dan yang bertanggungjawab desa, bukan jalan kabupaten atau jalan provinsi” Jelasnya lagi.

Baca Juga  Warga Cikini Tewas Tertabrak Kereta

NRP|Foto:Rudianto-batasID