batas.id~Jakarta-Membanjirnya mainan modren seperti  mainan yang terbuat dari plastik dan mainan moderen lain seperti video game atau game online sangat berpengaruh terhadap mainan yang terbuat dari kayu/ miniatur mobil, kereta, kuda-kudaan seperti yang di buat dan dipasarkan oleh pak Umar.

Beberapa tahun yang lalu nama Umar sempat muncul di sorot oleh beberapa media cetak dan elektronik lantaran sukses dengan mainan kayunya.Bapak dari lima anak ini memiliki nama asli Marsa’ad, lahir di Banten 3 Januari 1942. Pak Umar awalnya adalah seorang karyawan sebuah perusahaan proudsen tinta PT.Hanuda di bilangan Kali Bata-Pasar Minggu pada tahun 1972 pak Umar di berhentikan dari tempat kerjanya,lantaran lokasi tempat kerjanya terkena proyek pemerintah yaitu pelebaran jalan. Jalan Kali Bata-Pasar Minggu adalah hasil dari pelebaran jalan di tahun 1972.

 

Pak Umar Melayani Pembeli/foto Denis Priwanda/batas.id

setelah diberhentikan dari tempatnya bekerja pak Umar kemudian berupaya untuk berkarya sekaligus bisa menjadi sumber pengasilan baginya, pak Umar memberanikan diri memulai usaha membuat mainan dari bahan kayu. Dari modal Rp 800,- di tahun 1977 pak Umar belanjakan trilpeks di daerah Kota dengan menyewa becak serta membayar ongkos becak Rp 25,- PP(Pulang Pergi).Dari modal tersebut pak Umar memulai usahanya yang terletak di Jl.Pasar Minggu Raya No.46 RT.001/008 Kalibata Timur, Jakarta Selatan atau lebih tepatnya di sebelah barat Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Dari bahan baku yang dibelinya,pak Umar mampu memproduksi mainan kincir angin dan mobil-mobilan sebanyak 300 (Tiga Ratus) unit dengan harga Rp 1000,-/unit. Dengan mainanya kala itu pak umar biasa menyekolahkan kelima anaknya hingga salah satu dari mereka ada yang lulus Sarjana. Mainan pak Umar sempat populer di  Ibukota pada tahun 1999 dan tak jarang kala itu pak Umar sering mendapat undangan ke berbagai sekolahan sebagai motifator dan di acara pameran kreasi anak negri. Nama pak Umar semakin di kenal dengan mainan Kincir Angin Dan Mobil-mobilan, hingga pak Umar sempat mendapatkan order dari Belgia, Australia dan Jepang.

Baca Juga  Wow.....Bus DAMRI Ponorogo-Pacitan Tarifnya Terjangkau

Di Era yang sudah modern sekarang ini, karya pak Umar masih di kagumi oleh orang-orang dan itu terbukti dengan pembeli yang datang setiap hari.Bukan dari warga Jakarta saja tetapi ada pembeli yang berasal dari luar Jakarta seperti Bali, karawang dan Bandung.Tidaklah mudah mempertahankan karya pak Umar, ketika mainan sekarang ini yang serba canggih dan modern apalgai serbuan mainan dari cina yang kualitasnya lebih bagus dan harganya murah. Terkadang pak Umar berfikir ingin memodifikasi mainan dengan bahan yang sama atau sejenisnya supaya tetap menjai mainan pilihan dan mampu bersaing dengan mainan modern. Dengan harga yang relatif terjangkau, pembeli dapat memilih mainan yang diinginkan. Untuk jenis Bus di bandrol dengan harga Rp 100.000-Rp 150.000,Truk Rp 75.000-Rp 130.000,Bajai Rp 75.000-Rp 150.000,Kincir Angin Rp 100.000-Rp 200.000 dan Kuda-kudaan Rp 200.000-Rp 250.000,-.Dengan harga yang relatif terjangkau dan desain yang rumit di harapkan pembeli bisa memiliki kepuasan ketika membeli karya pak Umar.

Baca Juga  Pohon Cengkeh mulai punah

Di usianya yang tidak mua lagi pak Umar masih bertahan dengan karya mainan miniatur mobil, kereta, dan kincir angin, saat ini pak Umar memiliki 2(Dua) tempat untuk menjajakan hasil karyanya yang berlokasi di Jl.Kalibata Raya No.46 dan pak Umar juga mempersilahkan bagi siapapun yang ingin mempelajari karyanya,Pak Umar siap membimbing sampai bisa dengan senang hati dan tidak di pungut biaya.” saya siap membimbing siapapun yang ingin belajar karya saya, karena bagi berbagi ilmu yang bermanfaat adalah perbuatan yang mulia.”Ungkapnya.
Denis Priwanda/batas.id