• Pendapatan PT Multipolar Technology TBk. pada 2016 tak sesuai target, bahkan lebih rendah daripada dua tahun sebelumnya.
  • Tapi, perseroan tetap membukukan laba positif dan bisa membagikan dividen kepada para pemegang saham.

 

BATAS.ID~JAKARTA – Dalam jumpa pers usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan di Hotel Arya Duta, Jakarta, 31 Maret 2016, manajemen PT Multipolar Technology Tbk. mengumumkan bahwa perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp2,33 triliun pada 2016, 9% lebih besar daripada realisasi 2015 yang mencapai Rp2,14 triliun.

Ketika itu, Wahyudi Chandra, Presiden Direktur Multipolar Technology, anak perusahaan PT Multipolar Tbk. yang bergerak di bisnis ritel teknologi, multimedia, dan telekomunikasi, sejak 1975, menyatakan optimis mampu mencapai target tersebut. Optimisme itu didasari atas banyaknya peluang yang bisa digarap perseroan selama 2016.

 

“Kami melihat banyaknya peluang yang bisa dijajaki dengan mempertimbangkan perubahan besar di sisi pelanggan,” kata Wahyudi ketika itu. “Perseroan juga semakin fokus mengembangkan kompetensi di solusi Mobility, Analytics, dan Middleware yang diperkirakan akan menjadi primadona belanja teknologi informasi tahun ini.”

Tahun 2016 telah berakhir. Sayangnya, gejolak ekonomi yang demikian kuat sepanjang tahun lalu membuat kinerja Multipolar Technology meleset dari target, bahkan bisa dikatakan kembali ke posisi 2014. Sebab, jika penjualan bersih dan pendapatan jasa pada 2014 sebesar Rp1,97 triliun, lalu pada 2015 meningkat menjadi Rp2,14 triliun, pada 2016 perseroan membukukan pendapatan Rp1,927 triliun.

Baca Juga  Mengenal Crowde, Platform untuk Permodalan Petani

Artinya, pendapatan Multipolar Technology pada 2015 naik 8,94% dari 2014, tapi pendapatan 2016 turun 9,9% dibanding 2015. Padahal, perseroan menargetkan pendapatan 2016 meningkat 9% dibanding tahun sebelumnya. Penyebabnya, kata Wahyudi dalam acara dan tempat yang sama setahun kemudian (27/4), banyak pelanggan yang masih menerapkan prinsip kehati-hatian mengingat kondisi ekonomi yang kurang stabil.

Walau pendapatannya menurun, laba brutonya tetap positif, naik 5,26% dari Rp234,15 miliar pada 2015 menjadi Rp246,46 miliar pada 2016. Laba bersihnya meningkat cukup tinggi, yakni sebesar 33,90%, dari Rp97,21 miliar pada 2015 menjadi Rp130,17 miliar pada 2016. Itu sebabnya, dalam RUPS Tahunan perseroan berkode MLPT untuk tahun buku 2016 tersebut menyetujui pembagian dividen sebesar Rp59,06 miliar.

“RUPS hari ini menyepakati pembagian dividen tunai atas 1.875.000.000 saham sebesar Rp31,50 per saham,” ungkap Hanny Untar, Direktur Keuangan Multipolar Technology, dalam acara jumpa pers, Kamis (27/4). Dividen itu setara dengan 40% total laba yang didistribusikan kepada entitas induk perusahaan, Multipolar, pada 2016. “Sisa dana laba bersih setelah penyisihan dana cadangan sebesar Rp88,56 miliar akan digunakan untuk pengembangan usaha,” lanjutnya.

 

Baca Juga  Gelar Brand Day, Gogobli Tawarkan Diskon 50% Produk Kecantikan

Sejak berdiri, sektor keuangan menjadi salah satu pasar inti yang menjadi kontributor utama pendapatan Multipolar Technology disusul sektor telekomunikasi. Sektor komersial juga makin bertumbuh dari tahun ke tahun seperti sektor ritel dan distribusi, manufaktur dan migas, yang sudah melek teknologi untuk mendukung efisiensi operasionalnya.

“Sementara terus mengembangkan sektor komersial, kami juga makin fokus pada layanan yang memudahkan pelanggan untuk saling terhubung dengan institusi lain dalam ekosistem digital melalui pemanfaatan konvergensi teknologi seperti cloud, big data dan analytics, security, mobility, business process management, dan digital marketing,” ujar Suyanto Halim, Direktur Account Manager Multipolar Technology.

Banyaknya perusahaan berskala global yang masuk ke Indonesia tentu menambah ketatnya persaingan. “Namun, pemahaman mendalam terhadap pasar, kompetensi yang tinggi, kemauan untuk terus melakukan perbaikan dan kemampuan adaptasi dari sumber daya manusia kami tentu akan mendukung strategi perseroan pada 2017 ini,” lanjut Suyanto.

Strategi perseroan yang dimaksud di antaranya memperkuat solusi untuk perbankan, termasuk omni-channel seperti e-banking, aplikasi untuk branchless banking, mobile banking, dan pembayaran via mobile. Perseroan juga bertumpu pada Business Process Managed Services yang dijalankan anak perusahaan, yaitu PT Visionet Data International. Visionet memiliki 155 titik layanan di 126 kota dengan 2.000-an personel, termasuk 1.500 teknisi, di seluruh Indonesia.

Baca Juga  Gerakan Transaksi Nontunai Mesti Dilakukan secara Global

Untuk pasar data center, anak perusahaannya, PT Graha Teknologi Nusantara, sejak tahun lalu telah memperkuat layanan GTN Data Center-nya. Data center Rated 3 yang berlokasi di kawasan Orange County, Cikarang, Jawa Barat, itu dibekali sumber daya listrik ganda. Data center itu juga menggunakan teknologi Dynamic Rotary Uninterruptible Power Supply (DRUPS) untuk jaminan ketersediaan sepanjang waktu dan Water Cooling System untuk efisiensi energi.

“Kami juga menerapkan strategi pemasaran terintegrasi sehingga antaranak perusahaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri,” jelas Wahyudi. Dengan begitu, apa pun yang diinginkan pelanggan bisa dilayani dengan baik. Sehingga, tahun ini perseroan menargetkan mampu meraup pendapatan 10% lebih besar daripada 2016. Target itu didorong oleh belanja modal (capital expenditure) senilai Rp123 miliar, dengan rincian Rp88 miliar untuk Visionet dan Rp17 miliar untuk GTN.**

NRP-BATAS.ID—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness Indonesia ● Foto-Foto: TechnoBusiness