BATAS.ID~ Ponorogo– Rumah Singgah Duafa dan  warga kurang beruntung menjadi sasaran kegiatan rutin bulanan Komunutas sosial Aku Cinta Ponorogo Peduli (ACP Peduli), yang di laksanakan hari ini Minggu 26/11/2017 di wilayah Ponorogo bagian selatan.

ACP Peduli bersama beberapa komunitas dan kekompok penggiat sosial lain seperti SAB ( Solidaritas Anak Bangsa ), GTP ( Gemar Tani dan Ternak Ponorogo ) dan PEYE mania Ponorogo yg mayoritas beranggotakan anak-anak muda untuk ikut merasakan kegiatan baktisosial yang menjadi agenda  rutin bulanan ACP Peduli.

Lansia yang di rawat Bpk. Rama Pilips di RSD Ponorogo/ Foto: Yusuf Santoso-batas.id

Bakti sosial bulan ini ACP Peduli menyambangi Rumah singgah Duafa Ponorogo dan salah satu warga kurang beruntug di Slahung,Ponorogo.

Rumah Singgah Duafa Ponorogo

Berawal dari sebuah keprihatinan, melihat banyaknya lansia yang terlantar di wilayah Ponorogo, Rama Philips, mulanya merwat seorang lansia di rumahnya yang ditemukannya terlantar di jalanan, kemudian Rama Philips bertekat untuk membanguan penampungan untuk lansia yang terlantar.

Karena kesungguhan,tekat dan  keiklasan Rama Philips dan keluarga berhasil membangun rumah singgah duafa Ponorogo secara swadaya bersama keluargannya.

Baca Juga  Hidayat Nur Wahid : Lanjutkan Kebaikan Usai Ramadan

Saat ini  sudah ada berbagai bantuan dari kelompok sosial yang Ada di Ponorogo, salah satunya ACP Peduli yang hari ini melakukan bakti sosial dan memberikan bantuan.

Rumah Singgah Duafa Ponorogo berada di Desa Turi Kec Jetis Kab. Ponorogo yang menampung puluhan lansia dan di kelola oleh Rama Philips dan keluarga.

“Kami hanya ingin berbagi kasih sayang pada orang-orang lansia yang oleh kebanyakan orang bahkan tak sedikit oleh keluarganya sendiri menelantarkannya ” ungkap Rama Philips saat di temui di RSD Ponorogo, Minggu 26/11/2017.
Mari ikuti langkah Rama Philips dan  ACP Peduli untuk berbagai kasih sayang dan peduli kepada lansia, selamatkaan lansia.

Para lansia yang di rawat di RSD Ponorogo kini lebih baik kondisinya dan lebih sehat.

Semoga perjuangan Rama Philips mampu mengispirasi kita semua bahwa betapa indahnya kita berbagi kebahagiaan pada sesama. Dan semoga para dermawan ada yang terketuk hatinya menyalurkan sedekahnya dakam bentuk apapun demi memabntu perjuangan beliau dengan RSDnya.

Baca Juga  Deklarasi Nusantara Bersatu di Ponorogo

Selain bakti sosial dan memberikan bantuan di RSD, ACP Peduli juga mendatangi rumah seorang janda yang kondisinya memprihatinkan, Ibu Parmi (57) yang berapa di desa Wates Kecamatan Slahung Ponorogo.

Bu Parmi seorang janda karena suaminya telah meninggal, ia memiliki dua orang anak yang pertama perempuan dan yang kedua laki laki. Sejak kepergian suaminya, Bu Parmilah yang menjadi tulang punggung keluarga, bermula pada saat anaknya keduanya masih di Kelas dua SD, Yarto anak ke dua Bu Parmi menderita kelumpuhan hingga Sekarang, sehingga Bu Parmi tidak bisa bekerja karena harus menjaga anaknya.

Namun anak pertamanya kini tidak di ketahui rimbanya, pasalnya saat itu berpamitan untuk pergi ke kota namun hingga kini tidak pernah kembali. Mirisnya lagi, kondisi rumah yang di tempati Bu Parmi sangat jauh dari layak, rumahnya sudah lapuk, dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah lapuk dan  berlubang dimana-mana, ketika hujan air mengalir dan mengenani lantai rumahnya yang hanya tanah liat.

Baca Juga  Wow.....Bus DAMRI Ponorogo-Pacitan Tarifnya Terjangkau

Yarto, anak kedua Bu Parmi sekarang berusia 17 tahun dengan kondisi lumpuh, meski demikian, Yarto berkinginan membahagiakan ibunya, ia berkeinginan memberikan sebuah televisi untuk ibunya.

” Akku pingin punya tivi karena kasian mboke gak ada hiburan ngurusi saya terus ” kata Yarto diungkapkan kepada tim relawan saat berkunjung kerumahnya Minggu siang.

Sungguh sebuah perjuangan berat bu Parmi. Letak rumahnyapun sangat terpencil di tengah hutan dan jauh dari tetangga. Akses masuk ke rumah bu Parmipun sangat memprihatinkan, bahkan tidak  layak disebut jalan,  seperti gorong-gorong saluran air.

Semoga ada para dermawan  terketuk hatinya utuk ikut meringankan derita bu Parmi.
Yusuf Santoso| ACPP