Membaca Politik Ekonomi Trump - TechnoBusiness ID

TechnoBusiness View ● Gejolak ekonomi global tampaknya belum ada tanda-tanda akan berakhir. Apalagi melihat arah tak menentu kebijakan Amerika Serikat setelah dipimpin oleh Presiden Donald Trump.

Krisis di beberapa negara Eropa yang tak kunjung sembuh, yang berakibat pada menurunnya penyerapan produk setengah jadi dari China dan tentu saja negara-negara penyuplai bahan mentah seperti Indonesia, terus berlanjut karena politik ekonomi Trump.

Yang paling gila, Trump nyata-nyata menyatakan perang dagang dengan berbagai negara, terutama rival terkuatnya China. Menyadari banyaknya produk—seperti elektronik, ponsel pintar, pakaian, dan mesin—dari Negeri Panda yang masuk ke Amerika dengan nilai hingga US$481,9 miliar, Trump lantas membuat benteng pertahanan.

Baca Juga: “Karpet Merah” Mahathir untuk Investor China

Pengusaha properti papan atas yang juga politisi Partai Republik itu menaikkan tarif impor baja menjadi 25% dan aluminium 10% dimulai 15 hari sejak aturan itu ia teken pada Jumat (9/3). Trump tak ambil pusing dengan beragam reaksi.

Ada dua reaksi besar yang Trump tak pedulikan. Pertama, jelas dari China yang menjadi sasaran tembak dari aturan itu. Beijing pun memberi kebijakan balasan. Gonjang-ganjing itu jelas berpengaruh pada pasar negara-negara berkembang, tanpa kecuali Indonesia.

Kedua, dari Organisasi Perdagangan Dunia karena dianggap melanggar aturan perdagangan internasional. Walau teguran itu pun tak diacuhkan Trump. Alhasil, pasar bebas dunia yang dirancang tokoh-tokoh global, khususnya dari Washington, menjadi omong kosong belaka akibat ulah Trump.

Pertanyaannya, bagaimana kondisi ekonomi Amerika setelah aksi membabi buta Trump? Nyatanya, dalam beberapa bulan terakhir, kekhawatiran tentang kesehatan keuangan sektor bisnis justru meningkat. Pelaku pasar mengkhawatirkan tekanan harga yang lebih tinggi.

Baca Juga: Piala (Teknologi) Dunia 2018

Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan proses normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat, dan tak ketinggalan dampak perang dagang itu sendiri. Sampai taraf tertentu, kekhawatiran itu dapat dibenarkan mengingat terjadi peningkatan leverage bisnis secara besar-besaran sejak resesi hebat sebelumnya.

Utang juga menjadi perhatian. Menurut firma layanan keuangan global dengan jangkauan pelanggan yang kuat di Amerika Serikat, Amerika Selatan, Spanyol, dan Meksiko, BBVA Compass (NYSE: BBVA), utang perusahaan non-keuangan pada kuartal 1/2018 mencapai nilai tertinggi baru sebesar US$9,1 triliun.

Akibatnya, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto Amerika telah meningkat dari 40% menjadi 46% dalam delapan tahun terakhir. “Dalam hampir semua resesi sejak 1950-an, rasio ini telah meningkat secara signifikan sebelum kemerosotan ekonomi,” ungkap BBVA Compass.

Baca Juga: Perry Effect

Ekses di pasar kredit juga memprihatinkan. Pada 2017, BBVA Compass mencatat, penerbitan pinjaman dengan leverage mencapai rekor tertinggi baru. Sebanyak 65% dari pinjaman baru diberi nilai B- dan 75% dari pinjaman institusional baru merupakan pinjaman-pinjaman kurang perlindungan.

Meski begitu, secara keseluruhan, BBVA Compass menyebut, kebijakan moneter Trump tetap akomodatif. Baik biaya pinjaman maupun spread obligasi lebih rendah dari rata-rata historis. Bahkan, sebagian besar utang yang akan jatuh tempo pada 2018 dan 2019 telah dibiayai kembali.

Namun, bagi negara-negara lainnya, ancaman Trump belum berakhir. Mata uang terus bergejolak, bahkan ada yang mencapai titik krisis seperti Turki dan Venezuela. Rupiah Indonesia pun tak bisa terhindar dari aksi Trump dengan menaikkan suku bunga The Fed terus-menerus.

Walaupun Trump tetaplah Trump, yang selalu mengundang pro dan kontra, baik di dalam maupun di luar negeri. Indonesia dan negara berkembang lainnya bersiaplah dengan aksi-aksi Trump selanjutnya.●

 

Artikel Asli