Membendung Sinyal Singa di Bumi Garuda

Susanto geleng-geleng kepala. Matanya melotot seolah tak percaya. Ia terkaget-kaget saat mengecek pulsa di ponselnya tinggal 200 perak. Padahal, ia baru saja mengisi ulang pulsa sebanyak Rp50.000.

Pulsa di kartu Telkomsel-nya itu mendadak raib setelah ia menerima panggilan telepon dari seorang teman di Batam. Ia sendiri saat itu tengah berlibur bersama keluarganya di Pulau Putri, yang secara geografis masih masuk wilayah Batam. Tepatnya masuk Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Baca Juga: 7 Startup Perangkat Keras yang Gagal di Pasar

Usut punya usut, ternyata ia terkena biaya roaming saat menerima panggilan telepon itu. Hal itu ia pastikan setelah melihat layar ponselnya dan tertera tulisan SingTel. Rupanya, sinyal seluler dari Negeri Singa, Singapura, bersarang di ponselnya.

“Pantesan pulsa kesedot. Rupanya kena roaming. Kok bisa ya, ini kan masih di Batam. Masih di Indonesia,” gerutunya dengan sederet pertanyaan yang tak mudah ditemukan jawabannya.

Pengalaman kurang mengenakkan itu ia alami pada medio 2014 silam. Sebagai warga Batam, sebenarnya Susanto sudah sangat paham, jika sinyal telepon operator Indonesia sering hilang dan berganti dengan layanan SingTel. Terutama saat berada di wilayah pesisir atau di pantai yang berhadapan dengan Singapura.

Kalau sudah begini, biasanya warga Batam memilih mematikan jaringan telepon. Atau, menonaktifkan ponselnya sekalian. Sebab jika tidak, maka siap-siap terkena biaya roaming selangit. Baik untuk layanan panggilan keluar, menerima telepon, atau bahkan menerima atau mengirim SMS.

“Tapi aku pikir di sini tak kena roaming,” kata Susanto dengan nada heran. Namun yang membuat ia lebih heran adalah bukan soal pulsanya yang tersedot tadi, melainkan bagaimana ceritanya kok sinyal seluler dalam negeri bisa kalah dengan sinyal seluler asing.

Padahal, sebagai operator yang paling Indonesia, Telkomsel bisa menjadi salah satu Identitas Bangsa. Sebagai salah satu Karya Anak Bangsa, seharusnya Telkomsel menunjukkan dominasinya di Bumi Garuda.

Cerita yang sama juga disampaikan Lurah Pulau Pemping, Batam, Herzamri. Cerita sinyal ponsel operator Indonesia sering hilang dan berganti dengan layanan SingTel bukan hal aneh bagi warga Pemping. Sehingga warga di sana juga sudah terbiasa dengan biaya roaming internasional.

“Kalau SingTel masuk, kirim satu SMS biayanya Rp3.000,” kenang Herzamri. Maklum, jarak Pulau Pemping dengan Singapura memang sangat dekat. Dari bibir pantai Pulau Pemping, gedung-gedung pencakar langit Negeri Merlion terlihat jelas. Itu sebabnya, sinyal seluler negeri jiran tersebut cukup kuat di pulau terdepan wilayah Batam itu.

Baca Juga: Purjono Agus Suhendro Berbincang dengan Chief Marketing & Sales Merahputih.id Aning Wulandari

Untuk menghindari roaming internasional, biasanya warga Pemping pergi ke pulau sekitar yang berhadapan dengan Pulau Batam. Misalnya, ke Pulau Mongkol atau ke Pulau Air Johor. Namun, kadang, mereka malah tak dapat sinyal.

Tapi, itu semua menjadi cerita lama bagi warga Pulau Pemping. Sebab, saat ini Telkomsel sudah memperkuat jaringannya melalui BTS yang berdiri di Pemping. BTS tersebut sebenarnya dibangun oleh konsorsium sejumlah BUMN. Nah, Telkomsel memasang radio pemancar dan penguat sinyal di BTS itu. Sehingga layanan komunikasi Telkomsel di Pulau Pemping kini jauh lebih baik.

Menurut Ade, hadirnya layanan telekomunikasi yang memadai memberikan dampak positif bagi banyak sisi. Dari sisi ekonomi, misalnya, masyarakat di Pulau Pemping jadi lebih mudah bertransaksi atau melakukan komunikasi bisnis melalui telepon genggamnya.

Dari sisi pemerintahan, Ade juga merasakan banyak manfaat dan keuntungan. Misalnya, jika ada informasi ataupun undangan dari Batam, akan lebih cepat sampai karena bisa dikirim melalui ponsel.

“Sekarang kalau ada undangan rapat ke Batam cukup dikirim via e-mail, atau lewat WA,” kata Ade. Sayangnya, lanjut Ade, sampai saat ini baru Telkomsel yang melayani jaringan telekomunikasi di Pemping. Ia berharap, operator seluler lainnya juga memasang radio pemancar di menara bersama di Pemping, sehingga makin banyak pilihan operator seluler bagi warganya.

“Kalau saat ini saya kira semua warga Pemping menggunakan kartu Telkomsel, karena hanya Telkomsel yang bisa,” kata Ade. Menurutnya, alasan bisnis menjadi pertimbangan utama bagi para operator seluler untuk masuk ke Pemping. Maklum, jumlah keseluruhan warga Pulau Pemping tidak sampai 1.000 jiwa. Hanya 995 jiwa dari 275 kepala keluarga. Jadi, dari sisi bisnis operator seluler, Pemping jelas bukan pasar yang menarik.

Namun Telkomsel ternyata tidak melulu melihat potensi keuntungan dari sisi bisnis itu. Manager Branch Riau Kepulauan Telkomsel Agus Pramono mengatakan kehadiran Telkomsel di Pemping merupakan bentuk kontribusi Telkomsel untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pulau terdepan NKRI itu harus dijaga dan dipastikan tetap jadi milik Indonesia. Kontribusi kami adalah menyediakan layanan jaringan komunikasi supaya warganya bisa berkomunikasi dengan mudah dan murah,” kata Agus.

Senada dengan Agus, Supervisor Radio Transport Power Operation (RTPO) Telkomsel Batam Surya Firdaus mengatakan kehadiran Telkomsel di pulau-pulau terdepan Indonesia, khususnya di Batam dan Kepri, sebagai bentuk kontribusi ikut menjaga keutuhan NKRI, bukan karena kepentingan bisnis semata.

Selain di Pemping, kata Surya, layanan Telkomsel juga menjangkau beberapa pulau terdepan lainnya di Batam seperti di Nongsa, Belakangpadang, dan Pulau Nipah.  Di Belakangpadang, Telkomsel mendirikan lima menara dengan 11 BTS. Sementara di Nipah, Telkomsel hadir dengan 1 menara dan 2 BTS (3G dan 4G).

“Kalau hanya bicara keuntungan bisnis, kami tak mungkin akan hadir di Nipah,” kata Surya. Nipah juga merupakan salah satu pulau terdepan NKRI di wilayah Batam, Kepri. Saat ini, pulau tersebut hanya dihuni beberapa prajurit TNI. Secara geografis, Nipah berbatasan langsung dengan Singapura. Jarak Nipah ke Singapura hanya sekitar 7,5 kilometer.

“Dulu kalau buka hape yang masuk sinyal seluler Singapura. Tapi sekarang Telkomsel yang muncul,” kata Surya.

Surya menambahkan, selain di pulau terdepan di wilayah Batam, Telkomsel juga membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di beberapa pulau terluar NKRI di wilayah Kepri. Seperti di Karimun, Bintan, Anambas, dan Natuna yang berada di hamparan Laut China Selatan.

Sekali lagi, Surya menegaskan, kehadiran Telkomsel di pulau-pulau terdepan tersebut bukan karena kepentingan bisnis, melainkan untuk membendung “serangan” sinyal asing demi kedaulatan NKRI. “Karena Merah Putih dan NKRI itulah kami hadir,” kata Surya.

Begitulah Cerita merahputih kami di perbatasan yang kerap keki karena terkena roaming luar negeri. Tapi, itu dulu. Sekarang, para pengguna Telkomsel di Batam dan Kepri sudah bebas berkomunikasi tanpa takut roaming. Tidak tahu kalau pengguna kartu lain. So, tunjukkan identitasmu dengan menggunakan kartu Telkomsel, dan katakan Saya Merah Putih, saya bangga jadi warga Indonesia.●

—Suparman, Batam ● Foto-Foto: Istimewa

Keterangan:

  1. Tulisan ini merupakan karya pemenang lomba menulis “Saya Merah Putih” yang digelar oleh Merahputih.id bersama Telkomsel.
  2. TechnoBusiness Indonesia menjadi mitra penyelenggara dan CEO & Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia Purjono Agus Suhendro menjadi salah satu dewan jurinya.
  3. Tulisan di atas diedit seperlunya oleh tim redaksi TechnoBusiness Indonesia tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.
  4. Kutipan-kutipan yang tertera dalam tulisan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Artikel Asli