Edi Susanto/batas.ID

BATAS.ID~batasInspirasi–Setelah minggu lalu Edi Susanto berbagi kiatnya dalam mengendalikan keuangan, menahan gaya hidup dan berinvestasi melalui bahasan Puasa Financial, nah kali ini sang empu financial ini kembali berbagi untuk anda bagaimana mengendalikan gaya hidup sehingga bisa menyegerakan menabung dan menunda Hutang sehinga kesejahteraan hidup akan dicapai.

Simak tulisan inspiratifnya berikut, Menahan UTANG menyegerakan TABUNGAN

Sahabat yang powerful,
Apa kabar bahagia Anda hari ini?
Sudah menjalankan puasa finansial pertama: menahan gaya hidup dan menyegerakan investasi? Jika sudah, lanjutkan dengan puasa finansial yang ke-2 yaitu menahan utang menyegerakan tabungan. Bagaimana caranya?
Mari kita kupas utang terlebih dulu!

3 Jenis Utang

Setiap orang mempunyai utang. ”Saya tidak punya Pak”, ada yang memprotes. Saya ucapkan Alhamdulillah, jika Anda tidak punya utang. Tapi tunggu dulu! Simak ini baik-baik. Ada 3 jenis utang, yaitu: utang materi, utang budi dan utang rezeki. Bisa jadi yang Anda maksud tidak mempunyai utang adalah kategori utang materi. Selamat ya! Namun, bisa jadi Anda masih mempunyai utang budi atau utang rezeki, atau malah kedua-duanya. Apa maksudnya Pak? Ok, langsung saya jelaskan ya!

Pertama, utang materi. Kalau yang ini sudah jelas banget. Anda berutang sejumlah uang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan atau yang lebih parah lagi untuk memunuhi gaya hidup agar tampak kaya seperti membeli mobil yang sebenarnya belum Anda butuhkan selain untuk pamer dan menciptakan kesan. Efeknya, jika Anda berutang untuk menuruti gaya hidup atau gengsi hidup Anda akan penuh tekanan dan tidak hepi.

Kedua, utang budi. Apa itu utang budi? Yang jelas bukan berutang kepada Budi. He.. Utang budi artinya Anda menerima kebaikan dari orang lain tapi belum membalasnya. Benarkah utang budi dibawa mati? Nggak. Itu hanya berlaku untuk orang-orag yang tidak tahu balas budi. Senangnya hanya terima kebaikan dari orang lain dan malas untuk memberikan kebaikan atau manfaat kepada sesama. Anda bukan tipe orang seperti itu kan? Segera lunasi utang budi Anda dengan membalas kebaikan kepada orang yang telah berjasa dalam hidup Anda. Setelah itu alirkan kebaikan itu kepada orang lain yang membutuhkan maka Anda sedang menciptakan piutang budi. Tapi, ingat tidak perlu dihitung-hitung budi baik Anda kepada orang lain. Mengapa Pak? Sudah ada accounting langit yang mencatatnya dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Tinggal terus berbagi kebaikan sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Suatu saat piutang budi atau kebaikan Anda akan cair dalam bentuk hoki atau keberuntungan hidup. Siapa yang tidak hepi kalau menjadi orang yang terus beruntung?
Ketiga, utang rezeki. Apalagi ini Pak? Jika Anda melakukan keburukan (memfitnah, menzalimi, mengambil hak) orang lain tapi Anda tidak mendapat hukuman atau balasan maka Anda telah menambah saldo utang rezeki di rekening bank kehidupan Anda.

Akibat perbuatan buruk Anda tersebut rezeki Anda menjadi minus. Apa jadinya, jika tanpa sadar Anda terus menumpuk utang rezeki tersebut? Sudah jelas, Anda akan menjadi bokek dunia akhirat. Wah rugi 7 pangkat 7 turunan deh. Kok bisa ya Pak? Yuk kita hitung! Misal dalam 1 bulan Anda mengambil hak orang lain (misal mencurangi customer) sebesar 1 juta. Itu Anda lakukan selama 10 tahun, berarti hak customer yang ada di tangan Anda sebesar: 1 juta x 12 bulan x 10 tahun = 120 juta. Pada saat jatuh temponya, oleh Bank Kehidupan, utang rezeki tersebut akan ditagih ke Anda dalam bentuk kesialan hidup seperti Anda masuk rumah sakit habis uang 120 juta. Bisa juga mobil Anda hilang senilai 120 juta atau Anda mengalami kerugian bisnis senilai 120 juta. Berbagai bentuk kesialan lainnya akan mengisi hidup Anda jika Anda terus menambah saldo utang rezeki Anda. Jangan sampai deh.
Yuk, kembali ke utang materi! Sebenarnya tidak ada yang salah dan tidak ada masalah dengan utang materi. Yang menjadi masalah adalah penggunaannya. Masalah pertama, jika utang digunakan untuk membiayai gaya hidup atau gengsi.

Akibatnya, keuangan Anda terbebani dan jika Anda kehilangan pendapatan, Anda akan jatuh lebih miskin dari pengemis. Gunakanlah utang untuk memenuhi kebutuhan dengan porsi cicilan maksimal 30% dari pendapatan Anda, makin kecil porsinya makin sehat keuangan Anda. Bisa juga digunakan untuk pengembangan bisnis dengan porsi cicilan maksimal 30-40% dari profit bisnis Anda. Jika porsi utang tersebut tidak bisa Anda minimalkan, sebaiknya Anda rem keinginan untuk berutang.

Mengapa keinginan berutang perlu direm atau ditahan? Sebab utang itu seperti narkoba. Ia menjerat, membuat si pengutang mengalami kenikmatan untuk terus berutang sampai akhirnya mati terkubur gunungan utangnya sendiri. Sebuah kenikmatan semu. Enak di awal dan sebentar lalu sengsara selamanya.

Meski Anda telah menyadari tentang bahaya utang konsumtif, namun banyak orang terutama di daerah perkotaan yang terjebak dalam jerat utang. Tidak percaya? Mari kita periksa. Jangan-jangan Anda sendiri juga salah satu korban utang. Chek, apakah rumah yang Anda tinggali dibayar cash atau dengan KPR (Kredit Pemilkan Rumah). Demikian pula mobil yang Anda kendarai, Anda beli dengan tunai atau melalui KPM (Kredit Pembiayaan Mobil) atau leasing?. Dana pendidikan anak Anda, dibiayai dengan tabungan atau kredit multiguna?

Apa dampaknya, jika kebutuhan konsumsi kita dipenuhi dari utang, pinjaman atau kredit. Mari kita ambil contoh. Misalnya Anda mengajukan KPR ke Bank dan disetujui dengan kewajiban membayar Bunga 1% perbulan dengan tempo pembayaran 10 tahun. Ini artinya dalam 1 tahun Anda membayar bunga sebesar : 1% x 12 = 12%. Selama 10 tahun Anda membayar bunga sebesar: 12% x 10 = 120 %. Perhatikan, bunganya saja (120%) sudah lebih besar dari pokoknya. Ini artinya dalam waktu 10 tahun Anda telah membeli 2 rumah, yang satu Anda tempati, yang satunya Anda berikan kepada Bank yang telah memberikan pinjaman kepada Anda. Kok bisa? Sekali lagi, lihat saja bunganya yang Anda bayarkan selama 10 tahun (120%) sudah lebih besar dari pokok pinjaman Anda.

Namun, tidak bijak juga menyalahkan lembaga perbankan atau pembiayaan (leasing) yang sering menawarkan kredit dalam bentuk kartu kredit, pinjaman, pembiayaan dan aneka bentuk kredit lainnya kepada Anda. Salah Andalah dalam menggunakan fasilitas kredit tersebut. Lalu, bagaimana menggunakan dana kredit atau pinjaman dengan cerdas? Berikut ini jawabannya.

Cerdas Berutang yuk!
a. Kredit Pemilikan Rumah
Jika Anda mengajukan KPR ke Bank, maka:
1. Sewakan rumah tersebut
2. Bisa Anda tempati tapi harus Anda koskan sebagian kamar.
3. Bisa Anda tempati dengan menjadikan sebagian ruangan untuk tempat usaha
Mengapa demikian?
Agar cicilan + bunga yang membayarnya bukan Anda, tapi:
1. Si penyewa
2. Anak kos
3. Usaha/bisnis Anda
b. Kredit Pemilikan Mobil
Jika Anda mengajukan KPM ke Bank atau leasing, maka:
1. Mobil dipakai untuk operasional bisnis
2. Mobil bisa Anda pakai sambil direntalkan
Mengapa?
Jaawabannya masih sama: agar bukan Anda yang membayari cicilan + bunganya, tapi:
1. Bisnis Anda
2. Si penyewa mobil Anda.
c. Kredit Multiguna
Jika Anda mengambil kredit multiguna, jangan gunakan untuk:
1. Merenovasi tempat tinggal
2. Mengganti kendaraan yang lebih mewah/mahal
Mengapa?
Sebab Andalah yang akan membayari cicilan + bunganya sampai lunas.
Sebaliknya, gunakan untuk :
1. Modal usaha atau pengembangan bisnis,
2. Membeli ruko atau rukan untuk disewakan
3. Membeli bisnis waralaba (franchise)
Mengapa?
Sebab bukan Anda yang membayari cicilan + bunganya, tapi bisnis Anda, si penyewa properti Anda atau bisnis yang Anda beli.
d. Pengganti Utang
Meski berutang untuk hal yang produktif memberikan keuntungan seperti untuk bisnis dan investasi. Namun Anda harus benar-benar melakukan penghitungan agar :
1. Profit bisnis harus lebih besar dari cicilan utang + bunganya
2. Pendapatan sewa lebih besar daru cicilan utang + bunganya
Jika Anda belum mampu menciptakan 2 kondisi di atas, lebih baik Anda harus kreatif untuk menemukan cara alternative untuk menggantikan utang.
Pengganti utang itu banyak sekali, diantaranya:

1. Investor
Temukan orang berduit yang tertarik dengan bisnis Anda. Presentasikan kepadanya tentang prospek bisnis Anda, dan keuntungan yang didapatkan jika ia mau menginvestasikan uangnya ke bisnis Anda.

2. Partner bisnis
Cari orang yang bersedia bekerjasama dengan Anda. Yaitu mereka yang bersedia untuk menyediakan tempat, uang, keahlian atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk keberhasilan bisnis Anda. Buatlah system bagi hasil (share profit) yang win win solution dengan partner bisnis Anda.

3. Bayar di muka
Anda juga bisa menambah modal atau memperlancar cahflow bisnis dengan meminta customer untuk membayar di muka atas produk atau jasa Anda. Uang tunai yang Anda terima dimuka bisa digunakan untuk operasional Anda. Sedangkan sisanya yang dibayar setelah produk/jasa diterima customer bisa masuk tabungan Anda atau untuk modal pengembangan usaha.

4. Profit usaha
Alternatif pengganti utang ke-4 adalah dengan menggunakan profit usaha yang tidak digunakan. Artinya, dalam kurun waktu tertentu misal 1-5 tahun Anda tidak menggunakan profit bisnis untuk dikonsumsi melainkan dikumpulkan untuk modal pengembangan usaha: buka cabang atau membuka divisi baru.

Semoga bermanfaat. Sampai jumpa pada puasa finansial berikutnya!

Salam Powerful,

Edi Susanto