Warga Membawa Tumpeng, dalam Tradisi Merdi Desa/ Bersih Desa, Desa Kebrengan, Wonosobo/Fikoh Khoeriyah

BATAS. ID~ Wonosobo–Pernahkah mendengar tentang Merdi Desa?
Merdi Desa merupakan upacara adat jawa sebagai ucapan rasa syukur masyarakat atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan YME. Tradisi Jawa satu ini sudah mulai ditinggalkan di zaman modern seperti saat ini. Namun tradisi ini masih menjadi salah satu acara tahunan yang patut dilestarikan sebagai salah satu kekayaan ragam budaya yang ada di Indonesia khususnya budaya adat Jawa.

Merdi Desa sering disebut bersih desa atau ada beberapa yang menyebut Suronan karena berlangsung di bulan Suro (Jawa)/Muharam merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan nikmat yang diberikan Tuhan YME, nikmat berupa rezeki,keselamatan,ketentraman, dan keselarasan hidup.
Bahkan ketika duka pun masih banyak yang pantas disyukuri. Selain sebagai ucapan rasa syukur acara Merdi desa juga bisa menjadi acara untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama wargamasyarakat desa dan juga untuk mengenang jasa para pendiri desa.

Merdi Desa biasanya dilakukan pada bulan tertentu dalam kalender Jawa.di Desa Kebrengan,Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Merdi Desa dilakukan pada tanggal 9 september sekaligus bertepatan dengan hari jadi Desa Kebrengan yang ke-95.

Tumpeng Kreasi Warga Desa Kebrengan Sebagai Ungkapan Syukur KepadaTuhan/Fiqoh Khoeriyah

Acara ini diikuti oleh seluruh lapisan warga masyarakat desa kebrengan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Karena acara ini berlangsung setiap tahun maka antusias warga masyarakat begitu besar hal ini juga sekaligus menjadi cara warga desa kebrengan dalam melestarikan tradisi jawa yang sudah mulai ditinggalkan.

Rangkaian acara Merdi Desa berlangsung selama 3 hari diawali dengan acara ziarah ke makam para pendiri desa kebrengan yaitu Kyai Kebreng, Kyai Abdul Mantan, Kyai Abdul Jabar, dan Kyai Nasihun
sekaligus disertai acara bersih makam (nyadran) yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat desa Kebrengan pada tanggal 7 september 2019, kemudian acara dilanjutkan pada hari kedua yaitu tanggal 8 september dengan pertunjukan kesenian khas desa Kebrengan yaitu Jurus Kumala, dan diakhiri dengan acara puncak pada tanggal 9 september 2019 yaitu acara selamatan “Merdi Desa”dan pertunjukan kesenian tari topeng Lengger khas Konosobo.

Acara puncak Merdi Desa adalah acara yang sangat ditunggu oleh warga masyarakat desa Kebrengan, seluruh warga masyarakat melebur jadi satu, berpadu dalam satu rombongan berkeliling memutari desa dengan membawa gunungan hasil kreasi meraka yang terdiri dari gunungan nasi/tumpeng, gunungan sayuran, gunungan buah-buahkan ada beberapa gunungan raksasa yang dibuat oleh masing masing rombongan. Selain gunungan dalam barisan rombongan juga banyak rombongan anak-anak dan ibu- ibu yang ikut serta memeriahkan perjalanan menuju tempat Merdi Desa di balai desa Kebrengan. Barisan pemuda yang tergabung dalam organisasi Karang Taruna

Mandiri Desa Kebrengan juga menjadi salah satu penggiat yang ikut berpartisipasi dalam acara ini.Setelah sampai di balai desa acara dilanjutkan dengan bernostalgia mengenang sejarah desa
kebrengan sekaligus doa bersama seluruh masyarakat desa. Setelah berdoa gunungan yang dibawaakan diperebutkan seluruh warga tanpa terkecuali mulai dari anak-anak hingga orang tua dan makan
bersama kemudian ditutup dengan pertunjukan kesenian tari topeng Lengger.


Makna dari acara Merdi Desa yang dilakukan bertepatan dengan hari jadi desa kebrengan ini menurut bapak helmi sultonudin selaku kepala desa kebrengan adalah ungkapan pengharapan, dan ungkapan persaudaraan, dimana rasa syukur itu ditujukan kepada Tuhan YME yang telah
memberikan limpahan nikmat di tahun 2019 ini sekaligus harapan untuk mewujudkan masyarakat yang madiri, kreatif, berdaya saing dan berbudaya untuk mewujudkan kebrengan yang lebih sejahtera sesuai dengan tema Merdi desa di ulang tahun kebrengan yang ke-95 ini.
“Acara Merdi desa harus dilakukan setiap tahun agar kelestariannya tetap terjaga dan harusg ditanamkan semangat tradisi sejak dini terutama kepada generasi muda millenial seperti saat ini ” ungkap Feri Ibnu Khiban s ketua Karang Taruna Mandiri desa Kebrengan.

“Silaturahmi, guyup, rukun, gotong royong, sekaligus rasa syukur merupakan kosa kata yang
menggambarkan semangat warga masyarakat desa kebrengan dalam melestarikan tradisi “merdi
desa” dalam merayakan hari jadi desa Kebrengan yang ke-95 ini” tutupnya.

NRP| Fiqoh Khoeriyah