Nasib Produk Aromatik di Industri Petrokimia Indonesia

Oyashi Otiara | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight Indonesia terkenal sebagai salah satu penghasil tekstil, kosmetika, plastik, farmasi, cat, pengolahan kayu, dan perkapalan terkemuka di dunia. Produk-produk itu telah diekspor ke berbagai negara.

Tahukah Anda bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh industri-industri tersebut menggunakan satu bahan baku kimia yang disebut senyawa aromatik?

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift

Senyawa aromatik berperan penting dalam pengolahan produk-produk tekstil, kosmetika, dan lain sebagainya. Ada tiga macam produk turunan senyawa aromatik, yaitu Benzene, Xylene, dan Toluene.

Itu berarti produk-produk turunan aromatik amat dibutuhkan. Sayangnya, Indonesia masih minim senyawa aromatik. Beberapa tahun belakangan produsen dalam negeri justru menghentikan produksinya.

Baca Juga  Indonetwork.co.id dan TechnoBusiness Media Jalin Kerja Sama

PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia, salah satu produsen aromatik, menghentikan produksi karena terbelit utang yang lumayan besar kepada PT Pertamina.

Baca Juga: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

PT Chandra Asri Petrochemical, produsen lainnya, menurut salah satu sumber internal yang dapat dipercaya, sebenarnya masih memproduksi Xylene dan Benzene.

Namun, produk-produk tersebut kurang menjual dibanding bahan bakar minyak. Perusahaan-perusahaan dalam negeri masih fokus pada bahan bakar minyak yang penggunaannya habis dalam sekali pakai.

Maka dari itu, perusahaan yang memiliki kilang aromatik tak lagi memproduksi secara maksimal, tapi difokuskan pada bahan bakar minyak.

Baca Juga: Spire Research Memiliki Empat Divisi Riset

Akibatnya, mau tidak mau kebutuhan itu dipenuhi lewat impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Trademap, impor produk turunan aromatik dari Singapura mencapai 717.439 ton.

Baca Juga  AI Hilangkan 1 dari 8 Pekerjaan di Asia

Lalu, dari Thailand sebanyak 148.769 ton, Malaysia 24.814 ton, dan selebihnya dari India dan Arab Saudi. Antara 2013-2017 impor produk aromatik cukup tinggi, dan 2015-2017 ekspornya dapat dianggap “mati suri”.

Jika terus berlanjut, hal itu tentu amat ironis mengingat Indonesia memiliki hasil bumi yang amat melimpah. Rasanya amat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produk aromatik dalam negeri yang terus meningkat sekitar 7,5% per tahun.

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

Baca Juga  Capella Ubud, Bali, Masuk Jajaran Hotel Terbaik Dunia

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

Artikel Asli