Batas.id~ DEPOK- Istilah “Pahlawan tanpa tanda jasa” itu di tujukan untuk mereka yang berjasa mengabdikan dirinya untuk Bangasa, Agama dan Masyarakat.  Guru, Ustad, Kyai mereka tak kenal lelah mencurahkan segala ilmu yang mereka miliki lalu mereka tularkan kepada anak didiknya dengan harapan kelak ketika mereka dewasa bisa berguna bagi Agama serta Nusa dan Bangsa. Ilmu yang mereka serap dari Guru atau Kyai akan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya ilmu yang bisa membawa perubahan ke arah kebaikan dan bersifat membangun. Pengajarpun akan senang ketika mendengar seorang dari anak didik yang mereka ajar dulu bisa menjadi seorang yang berhasil. Berhasil atau sukses dalam berbagai hal adalah suatu pencapaian yang sangat fastastis, itulah kenapa setiap orang tua menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan kesuksesan yang bisa membawa perubahan dan kesuksesan.

Bpk. Atmaja(46) seorang Bapak dari empat orang anak yang kesehariannya mengakut sampah warga lalu dia buang ke suatu tempat penampungan sementara di dekat pasar Agung(Depok). Ketika pukul 04.30 warga sekitar berjalan ke Mushola atau Masjid untuk sholat berjamaah, tapi Pak Jaja ( Panggilan Atmaja ) berjalan dari pintu ke pintu untuk mengambil sampah yang warga kumpulkan di kantong plastik. Kegiatan Pak Jaja sudah di lakukan sejak tahun 2002 pasca Pak Jaja terkena PHK di salah satu pabrik yang ada di Kota Depok. Dengan niat yang tulus serta tanpa pamrih Pak Jaja lakukan dengan senang hati, karena Pak Jaja menganggap pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang mulia.

Baca Juga  Huawei Bekerja Sama dengan Intel, Membangun Gugus Superkomputer di Technical University of Denmark (DTU)
Pak Jaja saat beraktifitas, Foto Denis Priwanda
Pak Jaja saat beraktifitas, Foto Denis Priwanda

Area Pak Jaja pun cukup luas mencangkup tiga RT, seiring berjalnya waktu kesadaran warga muncul sehingga warga sedikit memberikan upah sekedar dan seiklasnya yang tak bisa di tentukan. Terkadang warga memberikan uang dan ada juga yang memberikan bahan makanan berupa sembako. Dengan penghasilan yang tidak pasti Pak Jaja iklas menerimanya, bahkan rumah yang Pak Jaja tempati akhirnya sebagian terpakai buat penampungan sampah sementara sambil menunggu ada kabar baik dari Pemkot setempat. Rumah yang seharusnya di jadikan istana bagi keluarganya kini bercampur dengan bau sampah, nyamuk dan lalat, belum kalau musim hujan tiba. Kendaraan Tosa roda tiga yang Pak Jaja beli untuk keperluan mengangkut sampah bukanlah didapat dari bantuan pemerintah setempat. Tahun 2008 Pak Jaja mendapakan bantuan berupa Gerobag sampah dari Pemkot Depok yang dia pergunakan sehari-hari. Karena sudah lima tahun lamanya gerobag tersebut rusak dan tidak dapat di pergunakan lagi. Akhirnya pada tahun 2013 Pak Jaja putuskan untuk membeli kendaraan roda tiga merek Tosa yang dia pergunakan sampai sekarang. Sudah  tiga tahun pula Pak Jaja di bantu anak lelakinya yang bernama M.Harun(39). Dengan jam kerja dari pukul 04.30-15.00Wib Harun selalu bantu Pak Jaja, karena mengingat usia ayahndanya yang sudah cukup tua. Pak Jaja tinggal di Jl.Letjen Pranoto RT 02 RW 05 Kelapa Dua Depok yang tepatnya samping Asrama Brimob Kelapa Dua Depok.

Baca Juga  JPO Depan Terminal Depok Jadi Tempat Jualan 
M. Harun Putra pak Atmaja, Foto : Denis Priwanda
M. Harun Putra pak Atmaja, Foto : Denis Priwanda

Waktu menunjukan pukul 11.00 WIB cukup terik dan berdebu belum jika macet karena kendaraan yang melintas di Jl. Letjen Pranoto, bahkan tak jarang Pak Jaja sering dapat komplainan lantaran kendaaran Pak Jaja di anggap sebagai biang terjadinya macet. Warga sekitar sebenarnya prihatin dengan keadaan tersebut karena sudah tiga tahun terakhir Pak Jaja blm dapat bantuan, baik perlengkapan seperti sepatu boot, jas hujan maupun helmet. Terkadang ada beberapa Anggota Brimob yang menyumbangkan sepatu bekas maupun baju bekas untuk di gunakan Pak Jaja dalam kegiatanya itu. Coba kita bayangkan jika tidak ada warga yang mengumpulkan sampah berantakan tidak di bungkus plastik atau kantong semacamnya,…? pasti tentunya akan menambah pekerjaan Pak Jaja. Alangkah beruntungnya di jaman sekarang ini masih ada orang yang berjiwa baik nan luhur seperti Pak Jaja.

Baca Juga  Pelajar Indonesia promosi budaya di Oxford
Rumah dan Gerobak Pak Atmaja, Foto Denis Priwanda
Rumah dan Gerobak Pak Atmaja, Foto Denis Priwanda

Dalam sehari sampah yang terkumpul bisa mencapai 4 kwintal bahkan jika musim hujan bisa mencapai 5 kwintal. Harapan Pak Jaja sebenarnya ingin agar pemerintah setempat menyediakan sarana dan lokasi yang tepat, agar terciptanya lingkungan yang bersih ,nyaman dan rapi.

Inilah pahlawan kita dan patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita senantiasa menjaga kebersihan.

Denis Priwanda/batas.id