batas.id~Bogor–Tepat di perempatan Sentul Bogor Pakde Roni dan teman-temanya menampilkan pertunjukan Reog dan Kuda lumping saat lampu merah menyala.

Kesenian asli dari Kota Ponorogo ini merupakan aset kebudayaan milik bangsa Indonesia yang wajib di lestarikan. Adalah seorang Roni yang tetap berusaha melestarikan budaya bangsa ini dengan caranya sendiri, pakde Roni sapaan sehari hari pria paruh baya ini, ia dan kawan kawannya mengais rejeki dengan melestarikan kesenian Reog dan Kuda lumping dengan cara yang berbeda, ia menggelar pertunjukan diperempatan Sentul ketika lampu merah menyala. Berbagai atraksi di pertontonkan dari Pecutan hingga Debuz. Upaya melestarikan kesenian Reog dan Kuda Lumping ini, Pakde Roni(45) bersama teman-temanya Akrel, Uus, Putra, Rian, Rama, Restu, Roni M, Rois, Beler, Abah Aki, Aden, Sintia, Sekar dan Cengo dengan peran masing-masing.

Baca Juga  Lelaki Tua Ditemukan Tewas di Pekarangan SMK
pakde Roni dkk/foto:denis-batas.id

Ada 3(tiga) lokasi yang di jadikan ajang pertunjukan Pakde Roni dan kawan-kawan, Perempatan Pemda Cibinong, Perempatan Jalan Baru dan perempatan Sentul. Biasanaya pakde Roni memulai pertunjukannya pukul 10.00 hingga pukul 20.00 Wib. Terkadang Pakde Roni juga menerima undangan untuk pentas di suatu acara hajatan. Pakde Roni menerima upah dalam sekali pentas Rp 1.000.000′- (satu juta rupiah) diluar ongkos perjalanan dan konsumsi.

pecutan dan kuda lumping/foto: denis-batas.id

Sebagai rasa simpatik pengendara yang melintas, banyak yang memberikan saweran berupa uang atau makanan. Selain memainkan pertunjukan Reog dan Kuda Lumping Pakde Roni dan kawan-kawan memainkan aksi Debus dengan makan beling, sembur api, memakan ayam hidup dan jalan tangan. (Dns-batas.id)