Singapura— Ribuan warga Singapura mengenakan baju pink memenuhi taman kota Hong Lim untuk mendukung pawai hak-hak kaum gay. Kegiatan ini dilakukan dalam pengamanan ketat karena pemerintah melarang keikutsertaan warga asing.

Seperti dilansir BBC, Ahad 2 Juli 2017, unjuk rasa itu digelar pada Sabtu lalu  dengan tajuk “Singapore’s Pink Dot”.

Para peserta harus menunjukkan kartu identitas untuk membuktikan mereka adalah warga negara atau ‘permanent resident’ Singapura sebelum mereka diizinkan ikut acara dalam kawasan dalam zona barikade.

“Meski acara ini sangat dibatasi, kami yakin Singapura akan menjadi tempat yang setara bagi semuanya,” kata Paerin Choa, juru bicara panitia penyelenggara parade gay.

Baca Juga  Soal Maskot PON dan Peparnas 2016, Ini Kata Aher



Larangan tak hanya ditujukan bagi warga asing. Perusahaan besar macam Google dan Goldman Sachs yang selama ini turut mendanai parade gay di Singapura, tahun ini tak boleh menjadi sponsor. Sebagai gantinya, sekitar 100 perusahaan lokal menyediakan diri menjadi sponsor parade.

Sejumlah pasangan gay dari lintas negara pun memilih untuk mendukung dari luar. Seperti yang dilakukan Kian, warga Singapura dan pasangannya Martin asal Jerman. Karena hanya Kian yang diperbolehkan masuk ke lokasi, pasangan ini memilih berada di luar.

“Acara ini tentang anti-diskriminasi. Tapi karena aturan, panitia tidak memperbolehkan warga asing turut serta, saya rasa ini bodoh,” ujar Martin.

Meski menghadapi pembatasan, panitia penyelanggara menyebut dalam aksi kemarin sedikitnya 20 ribu orang datang untuk memberikan dukungan. 

Baca Juga  Yusen Logistics Bangun Gudang Berbasis Robotik di Singapura

Peserta aksi termasuk gay dan heteroseksual Singapura, keluarga-keluarga dengan anak-anaknya, juga perempuan Muslim berjilbab. Mereka duduk di atas alas yang biasa digunakan untuk piknik di bawah terik matahari.

Acara serupa pertama kali diadakan pada 2009 dan selalu menyedot perhatian hingga 28.000 orang. Ada pula reaksi dari pihak konservatif yang menentang ini. Kini mereka mempromosikan “bebas mencintai” atau “freedom to love”.

Berdasarkan undang-undang era kolonial Inggris, seks sejenis secara teknis termasuk tindak kriminal di Singapura. Namun statuta itu tak lagi aktif. Dukungan untuk gay telah berkembang akhir-akhir ini, didorong juga oleh perubahan norma sosial di antara generasi muda dan arus turis serta ekspatriat.

Baca Juga  Aliansi Wonogiri Peduli Bencana Longsor Ponorogo

TEMPO.CO