​batas.id~JAKARTA-Sore ini menjelang senja di daerah timur Jakarta pemandangan yang tidak seperti biasanya terjadi. Jalan yang biasanya dipadati oleh tumpukan mobil dan motor yang berbondong-bondong ingin mencapai tempat bersandarnya tubuh setelah lelah mengerjakan rutinitas tidak nampak.

Ya, karena hari ini adalah hari minggu. Hari dimana sebagian orang pergi ketempat tujuan yang berbeda dan tidak serempak dalam jam yang sama.

Tapi tidak untuk penjaja ojeg online. Seperti biasa, mereka tetap melakukan aktifitas, lengkap dengan atribut hijau dihari liburnya orang kebanyakan. Di lampu lalu lintas jalan Kebon Nanas Kampung Melayu Jakarta Timur, nampak sekumpulan ojeg online berkumpul.

“Loh? Ini ojeg online kok mangkal? Apa bedanya dengan ojeg pangkalan?” Namun seketika pertanyaan tersebut terjawab ketika lampu lalu lintas menyala diwarna merah, 80 detik, waktu yang cukup membuat ruas jari bisa beristirahat dari rasa kebas menarik-ulur tuas kopling.

Kerumunan karyawan mandiri itu berhamburan mendekati para pengendara lain yang berhenti satu persatu. Tak banyak yang mereka lakukan selain menyodorkan kardus bergambarkan orang yang sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit dan sebuah poster berukuran 1 x 0,5 meter, yang hanya terlihat jika jarak dengan mata sampai dengan 5 meter.

Baca Juga  MNC Group bantah lakukan PHK besar-besaran

Rasa penasaranpun seketika muncul, walau dalam benak sudah menebak : kegiatan penggalangan dana untuk salah satu korban pada insiden Rabu lalu, tabrak lari pengemudi ojeg online oleh angkutan umum R 03.

Ternyata benar saja, ketika ditanyai pengemudi ojeg online grab bike ini melakukan penggalangan dana untuk Ichtiyarul Jamil, pengemudi ojeg online yang juga berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Tangerang, yang kini masih dalam keadaan koma di RSAP Gatot Soebroto.

Tak banyak yang dapat kami tanyakan, tak banyak pula yang dapat kami bantu selain lembaran yang tak seberapa nilai nominalnya, tapi ada pesan disana, lalukan kebaikan walau sekecil apapun, ajak setiap orang berbuat kebaikan dan tumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Support dan hargai mereka yang mau bertindak nyata dengan gerakan yang positif.

Seperti yang kita ketahui kejadian Rabu lalu didepan mall tangcity kota Tangerang yang videonya dengan cepat menyebar ke segala penjuru ini memang membuat geram siapapun yang melihatnya. Terlebih ketika kita mengetahui bahwa aksi tabrak lari tersebut disengaja oleh pelakunya dan pelaku lari begitu saja sampai tidak menghiraukan tembakan yang dilepaskan polisi yang berada ditempat kejadian.

Baca Juga  Melawan Arah Jadi Lumprah

Apalagi sulitnya penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian karena setiap supir angkutan umum bungkam dengan maksud ‘solidaritas’ dan melindungi pelaku yang notabene satu profesi dengan pelaku dan mengalami nasib yang sama dengan pelaku : pendapatan menurun setelah adanya angkutan berbasis online.

Hal ini juga yang dikemukakan pelaku, yang akhirnya tertangkap di daerah Bekasi, ia yang mengaku sengaja menabrakkan mobil yang disewanya ke arah pengendara ojeg online karena kesal dengan hadirnya ojeg online yang membuat penghasilannya menurun dan walaupun sudah ada demo dan mediasi tidak juga menemukan penyelesaian. Cara salah yang dipilih, melampiaskan pada orang yang tidak bersalah.

Namun bukan hanya ia (pelaku tabrak lari) sendiri yang salah. Karena setelah 15 menit waktu kejadian ditempat yang tidak jauh dari tempat kejadian terjadi aksi pelemparan dan pengrusakan sebuah mobil angkutan umum oleh pengendara ojeg online. Tidak cukup disitu, keesokan harinya terjadi lagi yang serupa, beredar lagi video rombongan ojeg online dari berbagai merk merusak sebuah angkutan umum dengan warna sama seperti yang menabrak teman mereka. Satu orang berucap kepada seorang wanita yang terus berucap istighfar di dalam video tersebut dengan kata-kata “temen saya koma bu di rumah sakit gara-gara ditabrak angkot!”

Baca Juga  Ramadhan Dinanti, Perginya Tak Disesali

Padahal pada kenyataanya bukan mobil angkot tersebut yang menabrak. Apa yang mereka perbuat? Sama. Sama-sama merugikan orang/pihak yang tidak bersalah.
Mengapa semua harus diselesaikan dengan amarah?? Apa dengan hal tersebut dapat membuat kita menjadi lebih baik dan semua hal dapat berubah menjadi seperti apa yang kita inginkan? Mengapa tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat dan membawa pada dampak yang positif?

Seperti yang sebagian pengendara grab ini lakukan misalnya. Mereka rela meluangkan waktu “narik” -nya untuk menggalang dana bagi korban. Waktu yang biasanya mereka lakukan untuk mencari rezeki bagi diri sendiri dan keluarga digunakan untuk mencari dan mengumpulkan kebaikan. Rasa solidaritas dan peduli yang tumbuh dari kisah Rabu sore itu. Saya rasa korban lebih membutuhkan ini, semangat, doa dan dana untuk kesembuhannya. Bukan amarah membara yang malah meninggalkan luka dan dendam yang entah sampai kapan.

Ini hanya sebagian kecil pelajaran dari pojok ibu kota. Yang tak sedikit orang akan peduli dan pahami. Atau bahkan hampir setiap orang mulai terbiasa, entah apapun kasusnya, selalu amarah yang dihidangkan. Selalu provokasi yang dikumandangkan. (ska)