Batas.id~JAKARTA – Nuryadi, seorang putra daerah Pemalang kelahiran 49 tahun yang lalu ini pastilah ceritanya akan jadi lain. Tahun 1991 seorang anak muda bernama Nuryadi dengan hanya berbekal ijazah STM (sekarang SMK) memberanikan diri datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.

Melamar dan diterima bekerja sebagai Teknisi AC di Herry Alter’s Jl. KH. Hasyim Ashari No.22A Jakarta Pusat, menjadi titik awal dari seluruh perjalanan hidup dan karir dari suami Hj. Sugianti ini. Dari waktu ke waktu pekerjaan sebagai seorang teknisi AC dilakoninya selama 3 (tiga) tahun dengan penuh semangat dan suka cita untuk sambil belajar dan mencari ilmu serta pengalaman katanya.

Berbekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya sebagai Teknisi AC selama 3 tahun , maka pada tahun 1994 Nuryadi secara baik-baik mengajukan permohonan berhenti dan mengundurkan diri sebagai Teknisi AC dari Herry Alter’s, yang kemudian bersama adik-adiknya bergabung mendirikan sebuah Bengkel AC &Kulkas dengan Nama Usaha SANKYO yang bermodalkan sewa tempat sebesar Rp. 2,5 juta/tahun di daerah Mustika Jl. Raya Kramatjati, kurang lebih berjarak 100 meter dari tempatnya sekarang.

Seiring dengan berjalannya waktu dan secara perlahan tapi pasti kegiatan usaha Bengkel AC & Kulkas SANKYO mulai menunjukan hasil dan berkembang. Keinginan besar supaya bisa seperti orang-orang di glodok yang punya teknisi dan sparepartsnya tidak terbendung lagi, supaya lebih profesional dan bisa dipercaya kata Nuryadi.

Baca Juga  Di Pacitan, Gus Miftah Mampu Sedot Ratusan Orang

Pada tahun 1997 setelah berunding dengan adik-adik dan nabung bersama, maka dimulailah SANKYO merambah ke dunia usaha spareparts pendingin dengan cara bayar tunai seberapa banyak yang dibeli, kemudian beli satu – ngutang satu, beli dua – ngutang dua dan seterusnya kepada para distributor pendingin yang ada di glodok.

Pada saat itu kondisinya belum ada jaminan untuk bisa dipercaya dan untuk mendapatkan kepercayaan dari distributor pendingin itu sulit sekali, jangankan untuk ngutang bahkan untuk beli tunai saja mereka harus yakin dulu. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kita sudah berlangganan lama dengan hasil memuaskan maka satu-persatu para distributor spareparts pendingin itu mulai menaruh kepercayaan kepada usaha SANKYO.

Maka pada tahun 1999 kegiatan usaha Bengkel AC & Kulkas SANKYO yang menyediakan spareparts berbalik menjadi SANKYO GROUP yang menjual spareparts pendingin dan menyediakan Teknisi AC & Kulkasnya, diikuti dengan berdirinya usaha spareparts pendingin ini secara individu (perorangan) oleh seluruh adik-adik H. Nuryadi, seperti :

  1. Sudirman di Cipinang (Jaktim), Semper (Jakut) dan Kebayoran Lama (Jaksel);
  2. Rusdianto di Ciputat (Tangerang);
  3. Sutimah di Bekasi Barat dan Cikarang (Bekasi);
  4. Wasmi Mulyati di Jatiwaringin dan Komsen (Bekaksi), dan
  5. Maman Sudirman di Kiaracondong (Bandung) serta di Harapan Indah yang dikelola keponakan dari H. Nuryadi.

Saat ini H. Nuryadi telah memiliki 6 (enam) Outlet SANKYO yang tersebar di Kramatjati (Jaktim), Gandaria (Cibubur), Jatijajar (Cimanggis), Ir. Juanda (Depok), Narogong (Bekasi) dan Cikopo (Cikampek).

Baca Juga  TNI dan Polri Beraksi Di CFD Jakarta

Untuk kesehariannya H. Nuryadi bersama istri Hj. Sugianti selalu berada di outlet utamanya di Kramatjati yang ber-omzet Rp. 600 juta/bulan, supaya lebih dekat dengan tempat tinggalnya di  Pinangranti Mension Jakarta Timur.

Saat ini karyawan SANKYO outlet Kramatjati berjumlah 22 (dua puluh dua) orang yang terdiri dari Teknisi 4 group @ 2 orang dan selebihnya adalah penjual spareparts

Mereka semuanya tinggal di kontrakan yang dibiayai oleh H. Nuryadi sedangkan untuk karyawan yang telah berkeluarga disediakan tempat tinggal secara Gratis menyerupai kos-kosan yang terletak dibelakang Outlet SANKYO Kramatjati.

seluruh karyawan tersebut adalah orang lain yang maksudnya tidak ada kaitan/ikatan keluarga dengan H. Nuryadi dan mereka berasal dari Boyolali, Brebes, Betawi, Pemalang Kabupaten dll.

Gaji Teknisi disesuaikan dengan UMP (Upah Minimum Provinsi) dikarenakan tugas dan jangkauan serta tanggungjawab dan risiko mereka lebih besar dibandingkan   Penjual Spareparts yang hanya sekedar melayani pembeli saja, sedangkan untuk bulan Romadhon diberlakukan penghasilan yang sama untuk Bonus, THR dan uang makan tambahan.

Dalam penerimaan karyawan, H. Nuryadi tidak memerlukan syarat pendidikan yang macam2, yang penting :

  1. Mau kerja;
  2. Tidak ada sistem karyawan tapi sistem persaudaraan;
  3. Pertama jadi helper (kenek) dulu dan seiring waktu berjalan naik tingkat menjadi teknisi.

Nama SANKYO tentu sudah dikenal dan punya nama baik, bukan karena terdepan atau terbaik tapi lebih kepada bagaimana dapat memanfaatkan kebaikan itu sendiri dan tidak perlu menyombongkan diri, karena yang membuat SANKYO jadi besar itu bukan saya tapi anak-anak, tanpa anak-anak yang jadi saudara kita, kita ini bukan apa2 dan bukan siapa2 katanya.

  1. Nuryadi selalu bersyukur dan nyaman serta menikmati profesinya saat ini, dengan bersyukur kita selalu merasa suka dengan pekerjaan ini dan menikmatinya dengan berbuat dan berbagi, diantaranya :
  2. Bisa mendidik adik-adik;
  3. Bisa Mendidik anak-anak;
  4. Bisa ibadah ke Baitullah;
  5. Bisa membantu memberi pekerjaan kepada orang lain yang membutuhkan.
Baca Juga  H. Moch. Zainul Arifin, Akan Tingkatkan Transparansi Systim Kerja APITU Jika Terpilih Sebagai Ketua Umum

“Jangan terlalu banyak mikirian dukanya, karena duka dalah bagian dari diri kita dan bagian dari perjalan hidup kita” kata H. Nuryadi.

Kebahagiaan lain dari Pimpinan dinasti SANKYO ini memiliki  seorang putri pertama yang saat ini sedang mengambil S2 nya di UI sedangkan S1 nya diperoleh dari ITB jurusanBusiness Management.Sedangkan putra keduanya saat ini sedang menjalani ikatan dinas di STAN(Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) dan putri terakhirnya masih duduk di kelas 5 SD Global Islamic School di Condet.

Kiat untuk menjadi SUKSES buat saya sangatlah sederhana :

  1. Berdoa, niat dan bersyukur dengan apa yang telah diperoleh;
  2. Cari ILMU dulu, UANG gak penting;
  3. Tidak perlu modal UANG tapi perlu modal ILMU, percuma punya modal uang tapi tidak punya ilmu dan kapasitas, uang akan habis dan jadi ketakutan;
  4. Perlu modal NEKAT tapi punya PRINSIP pasti bisa jalan, kalau nekat tapi tidak punya prinsip dan ilmu akan terperosok.

Mujiono-batas.id