Hadi Kuncoro
CEO aCommerce Indonesia

BATAS.ID~Technobusiness--Ketika saya didaulat menjadi salah satu pembicara mewakili First Logistics dan Saqina, tempat saya bekerja sebelumnya, dalam ajang Last Mile Fulfilment Asia di Singapura dua tahun lalu, saya masih ingat betul betapa hanya sedikit wakil dari Indonesia. Kalau pun ada, sebagian tidak benar-benar berdarah Jawa, Sumatera, atau Papua, melainkan bule-bule dari perusahaan global semacam Rocket Internet.

Tak disangka, kini lansekap e-commerce regional, bahkan global, berubah. Dalam event-event di tempat yang sama, wakil-wakil dari Indonesia telah mendominasi. Kisah-kisah sukses e-commerce yang dilahirkan pemuda-pemudi Indonesia mengalir deras begitu rupa. Mungkin dunia e-commerce sudah mulai berbalik. Tapi, apa betul begitu?

Belum lama ini, saat peluncuran Association of Technology Startup Indonesia di Jakarta, saya ditanya oleh Sunil Tolani, ketua bidang agro tech asosiasi tersebut. Pertanyaannya begini: “Bagaimana kesiapan start up Indonesia dalam menghadapi persaingan di ranah regional ASEAN dan global?” Satu pertanyaan yang sangat menarik.

Menurut saya, kita sudah berhasil membalikkan posisi dari sekadar peserta menjadi pembicara di seminar-seminar e-commerce dunia. Pasar yang demikian besar ditambah keberhasilan dalam berinovasi telah mengantarkan kita ke panggung-panggung global. Tidak sedikit start up yang didirikan pemuda-pemudi Indonesia memenangkan kompetisi berskala internasional.

Akan tetapi, harus disadari bahwa persaingan tidak sebatas mendirikan perusahaan. Di sini masalahnya. Banyak di antara kita yang berhasil mendirikan start up, tapi sering kali berhenti di tengah jalan karena tidak sanggup menumbuhkannya menjadi smart up dan scale up. Ini persoalan mindset!

Itu berarti, membuat start up terasa mudah, menumbuhkannya yang jauh lebih sulit, apalagi di era digital ini. Untuk itu, seorang founder dan leader harus visioner. Tidak hanya itu, juga mesti memahami konsep VUCA secara kuat dan matang. Apa itu VUCA? VUCA merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Volatility; perubahan yang sangat cepat. Teknologi berkembang dengan sangat cepat. Perubahan platform serta munculnya aplikasi dan fitur-fitur baru memaksa kita untuk bisa secepat mungkin beradaptasi dengan kecepatan yang terjadi. Sebab, perilaku konsumen berubah, bisnis model baru pun bermunculan. Jika kita tidak tangkas, maka kita yang semula start up disrupter berubah menjadi disrupted oleh start up lainnya.

Uncertainty; sulitnya memprediksi situasi dan keadaan ke depan. Saat ini, ekonomi saling terhubung, baik regional maupun global. Teknologi telah berperan memendekkan semua rantai bisnis sejak dari produksi hingga distribusi; dari pabrik, tangan penjual, sampai pembeli.

Kita tidak tahu apa yang terjadi di dunia e-commerce besok ketika Amazon masuk ke negeri ini dan Alibaba memperkuat tajinya di Lazada. Sementara, pemerintah mengeluarkan regulasi bahwa nilai impor ritel kita yang non customs declaration naik dari semula US$50 menjadi US$100. Sehingga, mau tidak mau produk lokal kita harus sesegera mungkin memasang kuda-kuda. Kita harus berpikir the best diffence is by doing offensive.

Complexity; dunia milenial ini semakin terintegrasi dan terhibrida dalam lingkup digital, semakin kompleks dalam percaturan pengembangan bisnis. Contoh, apakah kita pernah berpikir sebelumnya jika perusahaan taksi yang amat perkasa di bisnis transportasi akan “terbunuh” oleh perusahaan teknologi? Kini, kita hampir setiap hari mendengar aksi protes pengemudi taksi dan angkutan umum lainnya terkait keberadaan Go-Jek, Uber, dan Grab.

Contoh lain, barangkali sekarang ini perusahaan perbankan sedang deg-degan karena, selain bertempur dengan sesama bank, mereka juga mesti berhadapan dengan perusahaan teknologi finansial (financial technology). Jika di transportasi ada Go-Jek, di industri finansial ada GoPay (yang juga keluaran Go-Jek) dan lain sebagainya.

Ambiguity; tidak jelas. Saat ini, kita sering menghadapi sebuah situasi yang sulit dicari perbedaannya antara yang nyata dan abu-abu. Pasalnya, banyak sekali informasi malang melintang yang terkadang membuat bisnis menjadi ambigu dalam menentukan strategi. Kalau sudah begitu, efeknya jelas: salah strategi berarti mati.

Kembali ke awal, sekali lagi, menurut saya, semua itu bertumpu pada bagaimana mindset kita dalam memulai bermimpi membangun start up; berpikir tanpa batas; dan mempelajari banyak aspek dalam penguatan keahlian sesuai tahapan-tahapan dari start up, smart up, dan scale up. Jangan mentang-mentang orang teknologi hanya teknologi saja jagonya. Kalau jadi founder saat membuat start up, setelah itu mulailah belajar bagaimana cara membaca laporan keuangannya. Soalnya, biar gampang mendapatkan dana dari investor.

Ah, saya yakin para founder dari start up-start up di Indonesia sudah pintar-pintar. Sekarang, kuartal satu 2017 segera berakhir, bagaimana dengan jualan Anda? Oke, kan?**

Technobusiness Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here