Batas.id~WONOGIRI-Prihatin terhadap budaya jawa yang mulai luntur dikalangan pemuda, Pemkab Wonogiri menggelar simposium budaya beberapa waktu yang lalu. Lebih dari 150 orang yang berasal dari berbagai elemen turut serta dalam simposium tersebut. Simposium yang digelar sehari itu mendatangkan pembicara dari Dosen UNS, Deniawan Tommy Chandra, S.Sos., M.Ikom. dan Supomo S.S., Dirut PT. Smart Media Prima dan Komisaris PT. Smart Talenta Indonesia.

wakil bupati wonogiri berkenan hadir untuk membuka simposium budaya
wakil bupati wonogiri berkenan hadir untuk membuka simposium budaya

Simposium Budaya bertajuk Peran Pemuda Untuk Masa Depan Wonogiri tersebut, digelar diruang pertemuan Giri Manik Setda Kabupaten Wonogiri. Dua orang pembicara menyampaikan materi yang terfokus pada budi pekerti dan karakter remaja atau pemuda masa kini.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya, S.Sos., M.Ikom., seorang pengamat budaya jawa sekaligus seorang dosen di Universitas Negeri Surakarta (UNS), dalam penyampaian pandangannya, lebih bertumpu pada pendidikan budi pekerti remaja yang berbasis pada budaya jawa. Dalam pandangan yang disampaikannya, saat ini menjadi penting bagi kita semua untuk kembali mengenalkan budaya jawa, sehingga generasi muda kita menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur, beretika dan mampu menghadapi kerasnya tantangan zaman yang kian mengkhawatirkan.

Baca Juga  Kerja bersama Guru, Wali Murid dan Siswa Meriahkan HUT RI
salah satu pembicara dalam simposium budaya, Supomo, S.S.
salah satu pembicara dalam simposium budaya, Supomo, S.S.

Sedangkan bagi Supomo, S.S., dalam pandangannya lebih cenderung terhadap penguatan SDM bagi generasi muda serta merubah pola pikir yang negatif. Pasalnya, sekarang ini banyak pihak yang memiliki cara pandang negatif terhadap orang lain dikarenakan mereka cenderung melihat dari luarnya saja padahal tidak paham benar terhadap kondisi riil seseorang. Sebagai contoh, seorang petugas di sebuah pasar tradisional di Solo yang berpenghasilan tidak lebih dari dua juta sebulan dengan memiliki enam orang anak serta seorang istri yang terbaring sakit tak berdaya, sangat tidak mungkin baginya untuk bisa membiayai anaknya kuliah. Namun berkat keyakinannya serta semangat yang dimiliki anak-anaknya, siapa sangka bebarapa anaknya mampu menjadi lulusan S2 di Australia.

Baca Juga  Bersatunya Pendekar Silat Di Ponorogo

Dari kisah tersebut, Supomo mengajak untuk selalu menanamkan keyakinan kepada keluarga kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita yakin dan mau berusaha. Selalu berpikir positif atas takdir dari Tuhan dan peduli terhadap sesama adalah modal untuk menjadi SDM yang tak tergantikan.

Gunawan Wibisono-batas.id