BATAS.ID~Jakarta–Sekelompok Orang yang menamakan dirinya Aliansi Selamatkan Slamet, pagi tadi menggelar aksi cat muka dengan tokoh Bawor dan berjalan mundur mengitari Bundaran Indonesia sebanyak lima kali.

Menurut Budi Tartanto, koordinator aksi, aksi ini di gelar karena keprihatiannnya atas kondisi Gunung Slamet dan warga terdampak pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) Batu Raden yang berada di lereng Gunung Slamet, pasalnya sudah satu tahun lebih masyarakat di lereng Slamet mengalami krisis air bersih, di sinyalir keruhnya air dan aliran sungai di sebabkan oleh pembangunan PLTPB oleh PT SAE.

“pada akhir tahun 2016 masyarakat dikecamatan Cilongok kabupaten Banyumas mengalami fenomena air keruh, kehidupan mereka bahkan terhitung sampai hari ini kondisi air pada aliran sungai Prukut  masih mengalami keruh, artinya sudah 1 tahun 4 bulan air keruh ini menimpa masyarakat di kecamatan Cilongok, Bukan  tidak ada sebab, air keruh ini akibat adanya pembangunan PLTPB yang dibangun oleh PT. Sejahtera Alam Energy” tulisnya dalam rilis yang kami terima.

Baca Juga  Jalan Ambrol, Warga di Himbau Waspada dan Tanggap Bencana

Lanjut Budi, hal inilah yang mendorong kami dari berbagai elemen organisasi dan individu yang tergabung dalam Aliansi Selamakan Slamet yang berada di wilayah Jakarta melakukan aksi simbolik berupa menggambar wajah bawor dengan filosofi bahwa bawor merupakan tokoh kultural yang amat terkenal dilereng gunung Slamet, sedangkan berjalan mundur mengitari Bundaran HI selama 5X merupakan gambaran bahwa kondisi sosial, ekonomi, budaya masyarakat lereng gunung Slamet mengalami perubahan akibat pembangunan PLTPB Baurraden dan angka 5 tersebut didapat dari 5 kabupaten dilereng gunung Slamet yang masuk dalam wilayah kerja panas bumi PT. SAE,  Aksi simbolik ini diikuti 22 orang sebagai cerminan jumlah wellpad (Komplek Pengeboran) yang dikerjakan oleh PT.SAE.

Baca Juga  LSP TPTU Serahkan Materi Uji Kompetensi Kepada Daikin dan APITU

Menurut Budi, Tujuan aksi ini adalah untuk mengkampanyekan keadaan yang sedang dialami oleh masyarakat lereng gunung Slamet dalam menghadapi konflik dengan PT. SAE dan sebagai agenda Hari Air Internasional yang diperingati 22 Maret kemarin dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli dengan alam terutama pelestarian hutan lindung yang merupakan sumber kehidupan masyarakat.
DENIS PRIWANDA