Belanja TI di Indonesia meningkat pesat menjadi US$29,5 miliar pada 2020.

  • Talentanya mesti disertifikasi untuk menjaga kualitas kerja.

 

BATASTECHNO~Jakarta– Dunia teknologi informasi (TI) berkembang amat cepat, tapi tidak diikuti dengan pasokan tenaga ahli yang cukup. Imbasnya, banyak perusahaan yang kesusahan dalam mencari profesional di bidang yang tengah booming ini.

Untuk itu, pemimpin pasar bidang analitik global SAS asal Amerika Serikat dan pemain analitik lokal Dattabot berencana membuat sertifikasi terkait keahlian profesional di bidang enterprise, programming, dan analitik di Indonesia.

Menurut kedua perusahaan, sertifikasi itu penting mengingat belanja produk TI terus meningkat secara signifikan. “International Data Corporation [IDC] melaporkan bahwa Indonesia akan meningkatkan belanja untuk produk TI dan komunikasi sebesar 16% menjadi US$29,5 miliar [Rp394 triliun] pada 2020,” ungkap Country Manager SAS Indonesia Peter Sugiapranata.

Baca Juga  Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia

Dengan belanja produk yang demikian besar, dibutuhkan ahli-ahli yang benar-benar mumpuni. Jika tenaga tersebut tidak memiliki sertifikasi internasional, maka dipastikan mereka tidak akan bertahan lama di dunia kerja.

 

US$29,5 MILIAR

Perkiraan anggaran belanja teknologi informasi di Indonesia pada 2020

 

Untuk memenuhi standar sertifikasi itu, SAS Indonesia dan Dattabot menawarkan pelatihan “Unleashing Your Expertise” di Jakarta akhir pekan lalu. Pelatihan itu merujuk pada temuan Money dari Amerika Serikat dan Payscale.com yang menyebut keterampilan analitik SAS amat dibutuhkan di dunia kerja.

“Pelatihan SAS membuat profesional dan mahasiswa TI mengetahui cara mengendalikan, memperbaiki, dan menganalisis data di dalam satu platform. Kami mengajarkan cara mengakses data dalam sistem milik mereka—dan sistem lain—dengan menggunakan ...Selengkapnya