• Cloud computing dihadapkan pada tantangan isu latensi, keterbatasan bandwith, hingga regulasi pemerintah.
  • Edge computing dipadukan dengan teknologi cloud dipandang sebagai solusi.

 

BATAS.ID~JAKARTA – Internet of Things atau IoT merupakan sebuah fenomena yang didorong oleh semakin meningkatnya perangkat yang saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain. Tiap tahunnya, lalu lintas digital berkembang sebanyak 23%. Hal itu disampaikan oleh Astri Dharmawan, Business Vice President Schneider Electric IT Indonesia, Malaysia, dan Brunei, dalam ajang Schneider Electric Innovation Summit 2017 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah pengguna internet yang kian meningkat, yakni diperkirakan 112 juta pengguna di 2017, Astri menambahkan, Indonesia harus lebih responsif dan serius dalam menyikapi permintaan konektivitas data yang akan terus meningkat.

Para pelaku industri teknologi informasi (TI) meyakini semua sistem komputasi pada akhirnya akan terpusat pada komputasi awan atau cloud computing. Para pemain bisnis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, telah menjalankan strategi cloud berdasarkan kebutuhan akan kecepatan, skala, dan juga efisiensi biaya. Namun bukan berarti tanpa tantangan, yang di antaranya kendala latensi atau lambatnya komunikasi data melalui jaringan, keterbatasan bandwidth, hingga regulasi pemerintah.

Baca Juga  “Jadi Pemenang” Cara Adx Asia

Industri data center secara perlahan kini mulai beralih ke ekosistem komputasi yang terdesentralisasi dan hybrid. “Data center yang terdesentralisasi, atau edge computing, dipadukan dengan teknologi cloud, dipandang sebagai solusi yang dapat mengantisipasi tantangan dengan menempatkan aplikasi dan pelayanan lebih dekat dengan pengguna dan perangkat TI,” kata Astri.

Solusi seputar pengelolaan dan pemeliharaan data center secara holistik di tengah peralihan dari data center yang tersentralisasi menuju arsitektur edge juga digali. Dorongan IoT, konvergensi data, dan juga cloud membuat pengelolaan dan pemeliharaan data center menjadi semakin kompleks dan membutuhkan dana tidak sedikit.

Menurut Hendra Suryakusuma, CEO dan pendiri Elitery Data Center Indonesia & Colocation Service, hal itu menjadi salah satu hambatan bagi pasar untuk mengadopsi teknologi yang lebih canggih. “Padahal, untuk memastikan bahwa data center dapat memberikan return on investment (ROI) yang tinggi – seperti apapun lingkungan IT yang ada – yang paling penting adalah pengoperasian yang fleksibel, saling terkoneksi, cerdas dan terkontrol oleh data,” jelasnya.

Baca Juga  Nilai Bisnis Perawatan Armada Udara di ASEAN Mencapai US$5,8 Miliar

Untungnya, dengan IoT, pemilik dan pengelola data center kini dapat mengkonsolidasikan jutaan titik data setiap menitnya dari beberapa data center dan menggunakan perangkat data mining yang canggih untuk melihat tren. Data dari semua lokasi ini kemudian dapat digabungkan untuk membuat satu kontrol yang menyeluruh atas semua fasilitas IT beserta portfolionya.

Di era IoT pula, data ini dapat dipantau dari mana pun, sehingga keseluruhan ekosistem data center dapat dikelola dari jarak jauh, salah satunya menggunakan platform manajemen data center berbasis data dari Schneider Electric, yaitu EcoStruxure.

Platform tersebut akan mengakselerasi perubahan menuju lingkungan IT yang lebih terdistribusi seperti sekarang ini, dengan menggunakan sumber daya yang ada di data center tradisional, fasilitas berbasis cloud, provider collocation, situs industrial, edge data center, hingga ruangan server.

Baca Juga  Lima Perubahan Paling Terpengaruh Teknologi AI di Asia

EcoStruxure tidak hanya menjadi solusi untuk memonitor dan mengelola data center dengan lebih baik, namun juga sebagai solusi yang mampu membuat sebuah ekosistem komputasi untuk mengantisipasi masalah sebelum terjadi kesalahan.**

NRP-BATAS.ID–Andrianto, TechnoBusiness Indonesia Foto-Foto: Schneider Electric