batas.id~PACITAN-Biasa dipanggil Mbah Umar Tumbu, KH. Umar Sahid merupakan salah satu Kiai sepuh yang bertempat tinggal di Dusun Jajar, Desa Donorojo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ia adalah pendiri Pondok Pesantren Nurrohman dan Masjid Nurrohman. KH. Umar Sahid dikenal dengan panggilan Umar Tumbu karena dulu, sepulang dari mondok di Tegalsari, Mbah Umar dakwah keliling sambil menjual tumbu.

Tumbu adalah semacam tempat padi yang terbuat dari anyaman bambu. Ia berjalan kaki mulai dari Tegalsari sampai Dusun Jajar, Desa Donorojo. Sejak saat itulah, ia dikenal dengan Mbah Umar Tumbu. Meskipun sudah punya pondok pesantren, ia tetap keliling dengan menjual tumbunya, untuk terus menyebar manfaat kepada umat. Konon ia temasuk santri Mbah Dimyati Tremas, ia biasa menggembala kambing milik Mbah Dimyati. Selain mondok di Tremas, Mbah Umar juga mondok di beberapa pesantren. Diantaranya adalah Pondok Tegalsari Ponorogo yang tersohor dengan sosok Kiai Kasan Besari dan Ronggowarsito.

Baca Juga  Hari Ini, Kabupaten Wonogiri Gelar Pilkades Serentak

KH Umar Sahid juga sosok dibalik SMK Negeri 1 Donorojo. Ia menghibahkan tanahnya seluas 600 m2 dengan 5 bangunan kepada Pemerintah, guna kepentingan pendidikan di daerah Donorojo dan sekitarnya. Masjid Nurrohman yang dibangun tidak jauh dari SMK Negeri 1 Donorojo, selain untuk sarana ibadah masyarakat sekitar juga dimaksudkan agar para siswa lebih rajin dan giat dalam beribadah utamanya shalat 5 waktu.

Diusianya yang telah melebihi 1 abad, Mbah Umar tetap menghadiri berbagai acara yang mengundangnya. Ia adalah seseorang yang baik hati dan ramah. Siapapun yang datang berkunjung kerumahnya, ia doakan, dipersilhakan untuk makan serta jika telah memasuki waktu shalat diajak untuk shalat berjamaah. Meskipun ia seringkali lupa akan nama-nama anak cucunya, akan tetapi ia tidak pernah lupa pada waktu shalat dan selalu tepat waktu dalam menjalankan shalatnya, subhanallah. Selain itu, Mbah Umar juga selalu memberikan wejangan atau nasihat kepada siapapun kapanpun dan dimanapun dalam berbagai kesempatan. Beberapa wejangan yang saya ingat, ketika kami sekelas berkunjung kerumahnya, sebagai berikut:

  • Aja nyalahne wong liya (Jangan menyalahkan orang lain)
  • Aja omben-omben (Jangan minum minuman keras)
  • Aja nglalekake shalat (Jangan melupakan shalat)
  • Aja pada tukaran, tetep jaga persatuan lan kesatuan (Jangan saling bermusuhan, tetap jaga persatuan dan kesatuan)
  • Kudu ngabekti marang wong tua (Selalu berbakti kepada orang tua)
  • Dadi uwong sing nriman, ngalah. Aja sok nukari batur. Yen ditukari ngaliho. (Jadi orang yang selau menerima, mengalah. Jangan memusuhi teman. Jika dimusuhi, pergilah)
Baca Juga  Bertemu Jokowi, GNPF MUI: Presiden Tak Kriminalisasikan Ulama  

Konon, Mbah Umar sebenarnya asli orang Dusun Klepu Kiyut, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Ia menikah dengan salah seorang wanita dari Dusun Jajar dan menetap di sana hingga saat ini. Istri Mbah Umar biasa dipanggil Mbah Sireng di Klepu Kiyut. Sebelum menetap di Jajar, Mbah Umar sering shalat didekat sungai Klepu Kiyut. Kini ia membangun masjid di daerah kelahirannya itu. Hal tersebut dimaksudkan agar para warga Klepu Kiyut nantinya dapat menggunakan masjid yang telah dibangunnya itu sebagaimana mestinya. (yos)