Skuter Listrik jadi Tren. Berapa Nilai Pasarnya? – TechnoBusiness Insights

Asia Pasifik bakal menjadi penyumbang pasar skuter listrik terbesar global pada 2030.

San Francisco, TechnoBusiness Insights ● Bird Rides, Inc., penyedia rental skuter listrik (e-scooters) yang berbasis di Santa Monica, California, Amerika Serikat, Sabtu (15/6) lalu meluncurkan skuter listrik publik, Bird One, di Chicago.

Bird One diharapkan dapat menjadi alternatif kendaraan jarak dekat perkotaan yang tanpa menimbulkan polutan. Pengguna bisa menyewanya melalui aplikasi ponsel yang telah tersedia.

Baca Juga: Ketika Skuter Listrik Bird Ramaikan Jalanan Chicago

Bird bukan yang pertama dan bukan satu-satunya penyedia skuter listrik “pelat kuning” di dunia. Scoot Networks, Inc., penyedia rental skuter listrik asal San Francisco Bay Area yang pada Kamis (13/6) diakuisisi Bird Rides, telah hadir sejak 2011.

Baik Bird maupun Scoot telah beroperasi luas di kota-kota Paman Sam, Eropa, Selandia Baru, dan lain sebagainya. Tren berkendara skuter listrik juga diramaikan oleh Gogoro, Inc. (Taiwan); Terra Motors Corporation (Jepang); Mahindra GenZe (Amerika Serikat); Xinri Electric Vehicle Co Ltd (China); dan BMW Motorrad International (Jerman).

Oleh karena itu, seiring kesadaran masyarakat terhadap isu ramah lingkungan kian meningkat, bukan hanya mobil listrik yang marak digunakan, melainkan juga skuter listrik.

Baca Juga: Instagram “Down”. Berapa Pengguna yang Terimbas?

Tahun lalu, berdasarkan penghitungan firma riset Grand View Research, Inc. yang berbasis di California, nilai pasar skuter listrik global tercatat sebesar US$17,43 miliar. Nilai itu diproyeksikan akan terus meningkat hingga mencapai US$41,98 miliar pada 2030 (CAGR 8,5%).

Meski lebih dulu ramai di Amerika Serikat dan Eropa, Asia Pasifik diperkirakan akan menjadi pasar regional terbesar sejagat. Pada 2030, kawasan tersebut kemungkinan akan menyumbangkan pasar senilai US$26,25 miliar.

Tahun lalu, Asia Pasifik telah mencatatkan pasar sebanyak US$13,14 miliar. Sumbangan pasar terbesar itu didorong oleh masifnya investasi pada pengembangan infrastruktur pengisian daya listrik kendaraan di kawasan, terutama Jepang, China, India, dan Indonesia.

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: Grand View Research, Inc.

Grafis: TechnoBusiness Media

 

Artikel Asli