Seratusan pengemudi GrabCar menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Maspion Plaza pada Selasa (4/7). Namun demo itu hanya diikuti sejumlah pengemudi yang bermasalah dengan manajemen. Di luar itu, pelayanan taksi online berjalan normal seperti biasa.


“Operasional hari ini masih banyak, tetap seperti biasanya. Saya enggak ikut [demo] lah, ngapain? Orang yang ikut kan yang bermasalah, yang curang-curang. Kalau jujur mah enggak,” ujar Apriyadi, salah satu pengemudi GrabCar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Berbeda dari para peserta demonstrasi, pria asal Sumatera ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengalami masalah dengan pembayaran bonus Lebaran yang dijanjikan Grab.



Apriyadi bukan tidak tahu soal banyaknya pengemudi yang akunnya dibekukan karena curang demi insentif Lebaran. Salah satunya menggunakan fake GPS untuk mendapatkan order.

Hal itu, kata dia, karena sistem insentif yang ditawarkan Grab memang sangat menggoda untuk dicurangi. Namun sebenarnya sulit mengantongi sampai Rp17 juta per pengemudi.

“Grab ini kan kompetisi terus [dengan operator taksi lain], jadi ada bonus terus. Tarif tetap murah, tapi insentif terus berjalan. Ini yang bikin orang terpancing curang. Contoh, ada garansi tarif Rp65 ribu dari jam 5-9 pagi. Orang jadi milih perjalanan yang pendek-pendek di jam tersebut,” terangnya. Namun dari tarif pendek-pendek ini, menurutnya, tak mungkin mencapai Rp17 juta, bahkan jika ditambah bonus.



Pria dua anak itu sendiri paling banter mendapat Rp6 juta. Pada Lebaran ini dia mendapatkan Rp11 jutaan, tunai Rp6 juta dan Rp5 juta tambahan dari Grab pada periode dua pekan selama sebelum hingga sesudah Lebaran. 

“Saya kemarin Rp6 juta dua minggu itu, bukan hanya pas Lebaran kemarin. Makanya kalau yang bonusnya udah kelewatan itu pasti udah curang,” ujarnya. Namun pendapatan itu masih kotor, belum dipotong biaya bensin, tol dan parkir, serta top up aplikasi yang disebutnya boros.

Demi mendapat uang sejumlah itu, seperti pengemudi lain, ia sampai rela tidak bersilaturahmi atau berlebaran bersama keluarga.

“Bela-belin sih kemarin itu, habis Salat Id langsung ambil kunci, langsung narik. Anak-anak dan istri lagi pada sakit batuk, saya berangkat. Yah, mumpung ada kesempatan.”



Apriyadi membantah klaim Nur Adim alias Aris Clowor, Ketua Front Driver Online Indonesia, yang sebelumnya mengatakan sulit mendapatkan penumpang di Hari Raya Idul Fitri.

“Lebaran penumpang banyak banget, tapi driver-nya sedikit karena pada mudik. Makanya, dihitung rush hour kan pas hari H. Itu rush hour-nya parah. Rata-rata hari pertama sampai H 3 itu parah rush hour-nya,” paparnya sambil mengemudi.

Demo pengemudi GrabCar kemarin menyampaikan enam poin tuntutan, terutama uang insentif yang tak cair karena akun mereka dibekukan. Mereka juga meminta klarifikasi karena dituduh melakukan kecurangan.


“Operasional hari ini masih banyak, tetap seperti biasanya. Saya enggak ikut [demo] lah, ngapain? Orang yang ikut kan yang bermasalah, yang curang-curang. Kalau jujur mah enggak,” ujar Apriyadi, salah satu pengemudi GrabCar saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Berbeda dari para peserta demonstrasi, pria asal Sumatera ini mengatakan bahwa dirinya tidak mengalami masalah dengan pembayaran bonus Lebaran yang dijanjikan Grab.

Apriyadi bukan tidak tahu soal banyaknya pengemudi yang akunnya dibekukan karena curang demi insentif Lebaran. Salah satunya menggunakan fake GPS untuk mendapatkan order.

Hal itu, kata dia, karena sistem insentif yang ditawarkan Grab memang sangat menggoda untuk dicurangi. Namun sebenarnya sulit mengantongi sampai Rp17 juta per pengemudi.

“Grab ini kan kompetisi terus [dengan operator taksi lain], jadi ada bonus terus. Tarif tetap murah, tapi insentif terus berjalan. Ini yang bikin orang terpancing curang. Contoh, ada garansi tarif Rp65 ribu dari jam 5-9 pagi. Orang jadi milih perjalanan yang pendek-pendek di jam tersebut,” terangnya. Namun dari tarif pendek-pendek ini, menurutnya, tak mungkin mencapai Rp17 juta, bahkan jika ditambah bonus.



Pria dua anak itu sendiri paling banter mendapat Rp6 juta. Pada Lebaran ini dia mendapatkan Rp11 jutaan, tunai Rp6 juta dan Rp5 juta tambahan dari Grab pada periode dua pekan selama sebelum hingga sesudah Lebaran. 

“Saya kemarin Rp6 juta dua minggu itu, bukan hanya pas Lebaran kemarin. Makanya kalau yang bonusnya udah kelewatan itu pasti udah curang,” ujarnya. Namun pendapatan itu masih kotor, belum dipotong biaya bensin, tol dan parkir, serta top up aplikasi yang disebutnya boros.

Demi mendapat uang sejumlah itu, seperti pengemudi lain, ia sampai rela tidak bersilaturahmi atau berlebaran bersama keluarga.

“Bela-belin sih kemarin itu, habis Salat Id langsung ambil kunci, langsung narik. Anak-anak dan istri lagi pada sakit batuk, saya berangkat. Yah, mumpung ada kesempatan.”



Apriyadi membantah klaim Nur Adim alias Aris Clowor, Ketua Front Driver Online Indonesia, yang sebelumnya mengatakan sulit mendapatkan penumpang di Hari Raya Idul Fitri.

“Lebaran penumpang banyak banget, tapi driver-nya sedikit karena pada mudik. Makanya, dihitung rush hour kan pas hari H. Itu rush hour-nya parah. Rata-rata hari pertama sampai H 3 itu parah rush hour-nya,” paparnya sambil mengemudi.

Demo pengemudi GrabCar kemarin menyampaikan enam poin tuntutan, terutama uang insentif yang tak cair karena akun mereka dibekukan. Mereka juga meminta klarifikasi karena dituduh melakukan kecurangan.


Sementara itu, Grab meyakinkan bahwa akun yang dibekukan hanya milik mereka yang benar-benar melakukan kecurangan. Untuk menyelesaikan perkara, Grab Indonesia dan mitra pengemudinya sepakat untuk melakukan mediasi di Kemenhub pada 10 Juli mendatang.


Sementara itu, Grab meyakinkan bahwa akun yang dibekukan hanya milik mereka yang benar-benar melakukan kecurangan. Untuk menyelesaikan perkara, Grab Indonesia dan mitra pengemudinya sepakat untuk melakukan mediasi di Kemenhub pada 10 Juli mendatang.

CNNIndonesia