BATAS.ID~Jakarta–Bisnis transportasi online di Indonesia berkembang pesat, dan bisnis ini saat ini dirajai oleh dua perusahaan transportasi online berbasis aplikasi, Gojek dan Grab.

Namun, di ungkap fakta lain antara dua perusaan ini, ternyata, keduannya berpotensi dicurangi oleh mitrannya (pengemudi).

Seperti diungkap dalam sebuah riset pada November-Desember 2018, oleh perusahaan riset yang berpusat di Jepang, Spire Research and Consulting menyatakan bahwa bisnis transportasi online di Indonesia rawan kecurangan.

Antara Grab dan Gojek, Gojek memikiki peluang kecurangan lebih besar dari pada Grab, dalam risetnya Spire mengungkap kecurangan di Gojek mencapai 30% dari total pesanan, sedangkan Grab hanya memili ki peluang kecurangan 5% dari total pesanan.

Baca Juga  Kethek Ogleng dan Semar Raksasa Meriahkan Pawai Budaya Hari Jadi Kabupaten Wonogiri

“Sistem di Gojek lebih mudah untuk dicurangi,” kata Konsultan Spire Research and Consulting Andhika Irawan di Hong Kong Cafe, Jakarta, Rabu siang.

Spire juga menyebutkan kecurangan yang paling banyak dilakukan adalah aplikasi lokasi palsu (fake GPS). “Kecurangan dengan fake GPS ini dilakukan karena memudahkan mitra pengemudi untuk dapat penumpang. Jadi tidak harus bersaing dengan sesama pengemudi, dan ini masih dimaklumi” beber Andhika.

Selain fake GPS, kecurangan lain yang diungkapkan Spire adalah menaikkan harga pesanan (mark up). Mark up ini banyak dilakukan pada layanan makanan pada Go-Food dan GrabFood.

Jeffrey Bahar,Group Deputy CEO Spire Research and Consulting mengatakan, 60% mitra Gojek mengaku pernah melakukan kecurangan, sementara hanya kurang dari 10% mitra Grab yang mengakui pernah melakukan kecurangan. “Kecurangan itu mulai tumbuh karena faktor kompetisi” bebernya.

Baca Juga  Sekilas Mbah Umar, Pendiri Ponpes Nurrohman Pacitan

NRP