Strategi McDonald’s Perkuat Layanan Drive Thru
Steve Easterbrook, Presiden dan CEO McDonalds

McDonald’s mengakuisisi Dynamic Yield senilai US$300 juta demi memperkuat layanan pelanggan secara personal.

Chicago dan Jakarta, TechnoBusinessMcDonald’s Corporation (NYSE: MCD), salah satu jaringan restoran cepat saji (fastfood restaurant) terbesar di dunia asal Chicago, Illinois, Amerika Serikat, baru saja mengumumkan telah mengakuisisi Dynamic Yield Limited.

Dynamic Yield merupakan perusahaan teknologi personalisasi dan logika keputusan yang berbasis di New York yang juga memiliki kantor di Tel Aviv, Israel. Aksi korporasi itu dilakukan McDonald’s demi memperoleh teknologi yang dianggap cocok bagi peritel restoran.

Berkat akuisisi itu, McDonald’s dapat memanfaatkan teknologi keputusan milik Dynamic Yield untuk memberi pengalaman pelanggan secara lebih personal. Teknologi tersebut akan diterapkan dalam mewujudkan tampilan menu layanan Drive Thru terbaru.

Baca Juga: Indonetwork.co.id dan TechnoBusiness Media Jalin Kerja Sama

Layanan Drive Thru itu memungkinkan McDonald’s menawarkan makanan berdasarkan waktu, cuaca, tingkat keramaian restoran, dan item menu yang sedang tren. Teknologi tersebut juga bisa secara langsung menyarankan item tambahan kepada pelanggan saat melakukan pembelian.

Menu Digital Drive Thru McDonald’s

Jika terwujud, McDonald’s menjadi perusahaan yang mengintegrasikan teknologi keputusan (integrate decision technology) ke dalam titik penjualan pertama di dunia. McDonald’s telah menguji cobanya di beberapa restoran Negeri Paman Sam tahun lalu.

Presiden dan CEO McDonald’s Steve Easterbrook mengakui bahwa teknologi merupakan elemen penting dari Velocity Growth Plan perusahaannya. “Dengan akuisisi ini, kami dapat memperluas peran teknologi untuk layanan secara lebih personal,” katanya.

Liad Agmon, co-founder dan CEO Dynamic Yield, mengatakan saat mendirikan Dynamic Yield delapan tahun lalu, ia sudah menyatakan merek yang fokus pada pelanggan harus menjadikan personalisasi sebagai kegiatan inti.

Baca Juga: Pavel Ilii, Imigran yang Sukses Membangun IPWebMedia dengan US$300

“Kami sangat senang bergabung dengan merek global yang ikonik seperti McDonald’s dan bersemangat untuk berinovasi dengan cara yang berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari masyarakat,” tutur Agmon menceritakan.

Tak disebutkan berapa nilai akuisisi itu, tapi seorang sumber yang sedikit banyak mengetahui transaksi tersebut seperti dikutip Wired menyebutkan sebesar US$300 juta. Pascaakuisisi, Dynamic Yield menjadi milik McDonald’s sepenuhnya.

Meski begitu, Dynamic Yield—yang sebelumnya telah mendapatkan pendanaan sebesar US$83,3 juta—akan tetap berdiri sendiri. Sementara itu, McDonald’s secara konsisten mengembangkan jaringannya yang sekarang tersebar di hampir 38.000 lokasi di lebih dari 100 negara. Karena berkonsep waralaba, sebanyak 92% restorannya dioperasikan oleh mitra lokal.

Baca Juga: Cerita Heroik Priyam Sengupta Berbuah Aplikasi Donor Darah Bloodmates

Akuisisi tersebut menandakan McDonald’s cukup serius dalam mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan kebutuhan pelanggan. “Jika perusahaan, termasuk McDonald’s, tidak menyesuaikan metode layanan sesuai kebutuhan pelanggan tentu akan kalah bersaing dengan kompetitor,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting.

Pada era yang serbadigital seperti sekarang ini, lanjut Jeffrey, kecanggihan teknologi memiliki peran sangat penting bagi perusahaan. Apalagi ketika semua industri menerapkan teknologi Internet of Things (IoT), perusahaan bisa lebih produktif dengan pengeluaran yang justru lebih sedikit.

“Dengan IoT, proses pemesanan, pengolahan, hingga penyajian makanan menjadi lebih mudah dan cepat, bahkan bisa diarahkan kepada para pelanggan secara personal,” terang Jeffrey. “Jadi, apa yang dilakukan McDonald’s itu sudah tepat demi mempertahankan pasar ke depan.”●

—Paula Corona (AS) dan Anwar Ibrahim (Indonesia), TechnoBusiness/PRN ● Foto-Foto: McDonald’s

 

Artikel Asli