batas.id~TANGERANG–Mendengar kata sumur, sepintas tidak ada hal yang aneh bahkan biasa saja. Tempat dimana terdapat sumber air yang bisa dipergunakan untuk berbagai kepentingan pengairan. Sumur pada umumnya akan dipasang mesin pompa untuk menyedot air dari kedalaman tertentu.

Tetapi, berbeda dengan sumur yang satu ini,  sumur Aji Pamaki demikian sang kuncen menyebutnya, bisa mengeluarkan debit air yang banyak keatas permukaan walau tanpa mesin penyedot.

Sumur yang tak biasa ini sempat ramai didatangi masyarakat karena penasaran dengan keberadaan sumber air yang bisa mengalir kencang dari dalam tanah tanpa mesin pompa. Masyarakat yang datang dari berbagai lapisan ini kemudian mengait ngaitkan dengan hal yang tak lazim.

Berawal dari seorang petani di kampung Pasir randu, Kel.Kadu, Kec.Curug, Kab.Tangerang yang selalu kehabisan air disawahnya ketika musim kemarau.

Lantas, petani tersebut menggali sumur untuk mencari sumber air yang paling besar dan  bisa tetap mengalir walau musim kemarau sekalipun. Usaha pertamanya gagal, setiap kemarau tiba debit air mengecil hingga kering. Namun kegagalan pertamanya tak menyurutkan niatnya untuk terus mencari dimana bisa mendapatkan sumber air yang besar.

Usaha kedua kembali dicoba, namun kembali gagal sampai keempat kalinya. Tak habis semangat, usaha kelima akan dilakukan dengan cara yang berbeda. Jika cara pertama hingga keempat hanya menggali sumur  biasa, maka cara yang kelima adalah dengan menggunakan mesin bor sumur.

Usaha yang kelima membuahkan hasil, setelah mencapai kedalaman pipa 12 meter, air keluar dengan banyaknya.  Yang membuat heran adalah ketika air tidak henti-hentinya keluar dari dalam pipa padahal tidak menggunakan mesin penyedot. Walau ada pertanyaan yang mengganjal, hal ini lantas dianggapnya sebagai hal yang biasa.

Air yang mengalir berlimpah dari dalam tanah tanpa mesin penyedot disyukurinya sebagai karunia Tuhan yang tak terhingga sebagai hadiah kerja kerasnya selama ini.

Sekitar lima belas tahun berjalan, air tanpa henti mengalir dengan debit besar walau pada musim kemarau sekalipun.

Namun, setelah lima belas tahun berlalu tanpa ada hal yang aneh, dan setelah petani yang dimaksud sudah meninggal dunia, belakangan anak dari petani yang sudah membuat sumur bor tadi seakan mendapat amanah pesan melalui mimpi.

Mang Anta (40) demikian warga sekitar menyebutnya, bercerita bahwa pernah suatu saat bermimpi didatangi oleh orang dan berpesan untuk disampaikan kepada masyarakat Pasir Randu, bahwa dia dan beberapa lainnya adalah orang yang pertama kali membuka lahan dan menempati Pasir Randu. Sumur yang dimaksud adalah tempat dimana orang tersebut dulunya yang memakai mandi dan menggunakan sebagai kebutuhan sehari-harinya.

Ketika batas media menanyakan siapa saja yang ada dimimpi itu, mang Anta setidaknya menyebut empat nama.

Nama-nama tersebut adalah KH.Abdul Kholiq bin Sarkawi, Ki Santang Bin H Marwan, Nimas Ratu Kawit binti H Marwan dan legenda Hawa.

Kabar tentang keberadaan sumur bor ini kemudian meluas ke masyarakat sekitar kp.Pasir Randu.

Sumur yang terletak dipinggir sawah Rt 05/03 Kp.Pasir Randu, Kel.Kadu, Kec. Curug sontak menjadi ramai. Tak hanya pada siang hari, setiap malam Jum’at Kliwon semenjak dua bulan terakkhir atau pada bulan Maret 2017 sumur bor ini banyak yang mendatangi sampai pagi hari.

Jalan menuju kamar mandi sumur Aji Pamaki

Kedatangan mereka rata-rata adalah mengambil air untuk dibawa pulang dan ada juga yang mandi langsung di sumur.

“Kalau pas malam Jum’at Kliwon banyak yang datang sampai menginap, ada yang ambil air, ada yang mandi juga,” lanjut keterangan dari mang Anta yang juga merupakan juru kunci sumur bor Aji Pamaki.

Masih dari keterangannya, bahwa menurut masyarakat yang pernah datang dan meminum air dari sumur tersebut, beberapa keluhan sakit  yang dirasakan ditubuh berangsur sembuh.

“Mereka meminum langsung airnya tanpa dimasak, dan bilang  katanya kebadan  menjadi enak,” tambahnya.

Awalnya nama sumur Aji Pamaki menurut pengakuan mang Anta adalah pemberian dari orang yang datang ke mimpinya.

Pada kondisinya, sumur Aji Pamaki memiliki dua ruangan bilik yang dialiri air dari  pipa kemudian di tampung di bak mandi.

Peraturan bagi pengunjung yang ingin mandi adalah tidak boleh memakai sabun dan shampo, serta harus mengucapkan salam dahulu sebelum memasuki bilik mandi.

Untuk saat ini, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, hanya disediakan kotak amal bagi pengunjung yang ingin mengisi se ikhlasnya. Hasil dari kotak amal akan dipergunakan untuk menambah sarana prasarana disekitar sumur Aji Pamaki.

Terlepas dari segi pandang apapun, satu hal yang perlu diteladani adalah bagaimana seseorang dengan tanpa patah semangat terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita hingga pada akhirnya berakhir dengan kesuksesan. (ESW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here