Tak Semua Bisnis Kuliner Tumbuh. Ini Penyebabnya

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Industri makanan dan minuman di Indonesia sepanjang 2013-2017 rata-rata (CAGR) tumbuh sebesar 6,95%. Pertumbuhan itu didorong oleh kenaikan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan dan minuman yang mencapai 26,7%.

 

Baca Juga: Samsung Luncurkan Deretan Home Entertainment Terbaru

 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan kredit UMKM makanan dan minuman yang tertinggi dibanding rata-rata semua industri jika dilihat dari lapangan usaha yang tercipta.

Suasana diskusi dalam Spire TechnoBusiness Lunch di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3).

“Itu berarti jumlah penyedia makanan dan minuman berskala UMKM meningkat,” ungkap Nico Dharmaputra, Research & Consulting Manager Spire Indonesia, perusahaan riset global yang kantor pusat di Singapura, dalam “Spire TechnoBusiness Lunch” di Al Nafoura Restaurant, Le Meridien Hotel, Jakarta, Senin (12/3).

Baca Juga  Dari Aborsi Mobnas ke Terobosan Tesla?

Akan tetapi, acara yang dihadiri oleh para pemilik bisnis kuliner itu mengungkap, tidak semua bisnis kuliner naik daun. Menurut Afifah Sekhon, pemilik jaringan Gian Pizza, masyarakat perkotaan cenderung menyimpan uangnya untuk berlibur akhir pekan, terutama long weekend, ketimbang makan di restoran.

Dibukanya akses Jalan Tol Cipali telah memengaruhi bisnis kuliner di Jabodetabek. “Uang bukan digunakan untuk membeli pizza, tapi disimpan dulu lalu digunakan kalau ada long weeekend. Buang-buang uangnya di situ,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Ifa itu.

Itu sebabnya, industri traveling meningkat pesat, sedangkan restoran-restoran premium tak tumbuh. “Hanya kuliner yang punya modal berlipat dan berkonsep milenial yang berjaya. Uangnya bergeser ke kuliner-kuliner di daerah karena masyarakat suka jalan-jalan,” kata Ifa.

“Uang bukan digunakan untuk membeli pizza, tapi disimpan dulu lalu digunakan kalau ada long weeekend. Buang-buang uangnya di situ.”

—Afifah Sekhon, pemilik jaringan Gian Pizza

Di samping itu, restoran yang menargetkan keluarga (family restaurant) juga terimbas disrupsi teknologi. “Biasanya mereka yang berusia 40 tahun ke atas mengajak keluarganya makan di restoran, sekarang cukup memesan menggunakan gadget,” tambahnya.

Baca Juga  Hooq Kembali Gelar Hooq Filmmakers Guild Berhadiah US$30.000

Anggaran kuliner masyarakat juga terpangkas oleh kebutuhan memiliki perangkat gadget dan elektronik yang lebih bagus. Mereka yang selama ini cukup menonton televisi 32 inci, rela membeli yang berukuran lebih besar secara kredit. Jadi, angsuran bulanan mereka bertambah, tapi untuk makan dihemat.

Indikasi itu juga terlihat di industri perhotelan. Meskipun kebutuhan traveling meningkat, tingkat okupansi hotel bintang lima menurun. Nico mengatakan yang bertahan adalah hotel-hotel kelas menengah, sama halnya tempat-tempat makan, selain tempat makan dengan target kaum milenial yang sedang booming.

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Rico/TechnoBusiness ID

 

Artikel Asli