Edi Susanto, Konsultan Keuangan Keluarga, Motifator dan Penulis Buku/ Edi

BATAS.ID~Jakarta–Sebuah tulisan dari sang motifator dan penulis buku tentang motifasi dan solusi-solusi masalah financial dan sekaligus seorang Konsultan Keuangan Keluarga, kali ini Edi Susanto akan memberi gambaran tentang kehidupan sosial ekonomi supaya kita tidak terjebak dalam penilaian yang keliru terhadap apa yang terlihat, ​tulisan tersebut dikemas dalam judul “TAMPAK KAYA VS NYATA KAYA”. Berikut, simak tulisan lengkapnya.

Tampak Kaya VS Nyata Kaya

Sahabat yang powerful, Apa kabar bahagia Anda hari ini?

Ngomongin orang kaya, yang sering kita jadikan objek penilaian adalah penampilan. Sebab penampilanlah yang paling mudah untuk dilihat dan dikomentari. Dari mulai luas rumah dan aksesorisnya, kendaraan yang dikendarai, sampai tempat kerja dan sekolah anak-anak.

Inilah yang sering menjebak kita dalam menilai seseorang kaya atau miskin. Maksudnya Pak?

Seseorang yang menghuni rumah megah belum tentu orang kaya (bisa jadi itu rumah milik negara atau perusahaan yang ditempatinya sebagai fasilitas kerja). Demikian pula mobil mewah yang dikendarainya, bisa jadi itu adalah mobil dinas atau operasional kerja baik itu plat hitam atau pun merah.

Baca Juga  2 Pekan Jelang Hajat Akbar APITU BE-HVACR 2017 Bandung

Sebaliknya, tidak ada yang tahu berapa digit angka yang tercetak di sertifikat deposito seseorang.

Berapa luas tanah atau berapa jumlah property yang dimilikinya. Berapa banyak cabang perusahaannya dan berbagai bentuk aset lainnya. Karena semua aset tersebut tidak dikenakan sehingga tidak ada yang tahu, kecuali si empunya.

Ada satu hal lagi yang tidak terlihat tapi bisa dijadikan petunjuk bahwa seseorang itu kaya atau miskin, yiatu mentalitas atau mindestnya. Caranya? Perhatikan apa yang sering dimintanya. Jika ada orang yang sering meminta bantuan materi dan uang, ia masuk kelompok miskin.

Sebaliknya, jika ada orang yang lebih senang meminta bantuan nonmateri seperti ide/gagasan, solusi, relasi atau peluang maka ia masuk kelompok kaya. Kok bisa begitu Pak?

Orang yang kekurangan materi ia akan meminta uang. Sebab yang ada dalam pikirannya adalah: dengan uang di tangan semua masalahnya bisa diatasi. Ya memang betul, setiap kali ia mendapat bantuan uang masalahnya terpecahkan untuk diganti dengan masalah baru (karena timbul utang baru).

Baca Juga  Memperbesar Rejeki

Sebaliknya, orang yang meminta ide atau penyelesaian nonmateri berpikir beda. Ia berpikir bahwa UANG hanyalah ALAT untuk menyelesaikan masalah. Alat tidak akan berguna jika tidak digunakan oleh orang yang terampil menggunakannya.

Untuk mengasah keterampilan menggunakan uang tersebut, ide, dan solusi adalah batu asahnya, maka yang ia minta adalah ide dan solusinya bukan uangnya. Alhasil ide didapat, uang jadi berlipat. 

Ada hal menarik tentang perilaku orang terhadap kekayaannya. Orang kaya cenderung lebih senang menyembunyikan kekayaannya dan tampil sederhana.

Sebaliknya orang miskin, kelas menengah atau orang kaya baru (OKB) lebih senang memamerkan barang miliknya.

Orang miskin suka pamer karena takut diangkap miskin. Kelas menengah senang mendapatkan pujian dan popularitas. Mereka ingin menampilkan citra kaya dengan berbagai atribut yang dikenakan, tempat yang mereka kunjungi, aktivitas yang mereka lakukan dan club-club dimana mereka menjadi anggotanya. OKB ingin mengumumkan kepada dunia bahwa: “aku ini orang kaya lho”. Maklum, namanya juga baru kaya. Yang tidak mereka sadari, semua bentuk aktivitas pamer tersebut memakan biaya yang mahal.

Baca Juga  SKILL NOTHING WITHOUT SIKIL

Orang kaya, sebaliknya, dia tidak peduli jika diangkap miskin seperti yang dikhawatir oleh orang miskin. Dia tidak mengejar status sosial yang tinggi seperti yang dilakukan kelas menengah.

Orang kaya juga tidak suka mengumumkan kekayaannya pada dunia seperti yang dilakukan oleh para OKB. Bagi orang kaya sungguhan, orang tahu atau tidak bahwa mereka kaya itu tidak penting dan tidak berguna sama sekali.

Ayo jujur ya! Anda memiliki kecenderungan perilaku yang mana: orang miskin, kelas menengah, orang kaya baru atau orang kaya sungguhan?


EDI SUSANTO

Pemilik Bimbingan Belajar Antusias, Pendiri Pesantren Finansial, Penulis 13 buku tentang Keuangan, Bisnis, dan Motivasi, serta Narasumber Talkshow Keuangan di Sindo Trijaya FM Semarang.