Tantangan Pembangunan di Nusa Tenggara Timur – TechnoBusiness ID

Oleh Sylvia Andriyani Kusumandari | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire InsightNusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perbincangan banyak pihak karena usahanya dalam menekan kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah orang menganggur di NTT dalam empat tahun terakhir berangsur menurun.

Pada Februari 2019, tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 3,10%; sementara rata-rata TPT nasional tercatat di angka 5,01%. Capaian ini menjadikan NTT berada pada peringkat kelima sebagai provinsi dengan TPT terendah di Indonesia.

Baca Juga: Instagram “Down”. Berapa yang Terimbas? 

Meskipun demikian, NTT masih termasuk dalam jajaran tiga besar provinsi termiskin setelah Papua dan Papua Barat. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 mencapai 1.146.320 jiwa atau 21,09% dari total penduduk, jauh di atas rata-rata tingkat kemiskinan nasional yang sebesar 9,41%.

Walau mayoritas penduduknya bekerja, pendapatan mereka tergolong kecil, antara Rp300.000 hingga Rp1 juta per bulan. Pekerja informal masih mendominasi status pekerjaan di NTT yakni sebesar 76,95%, sementara pekerja di sektor formal hanya 23,05%.

Mayoritas pekerja informal bekerja di lingkungan keluarga dengan upah minim, bahkan tidak dibayar (Data Ketenagakerjaan NTT 2018). Pekerja yang tidak dibayar umumnya karena ikatan keluarga yang diberikan imbalan hanya berupa tempat tinggal serta makan dan minum.

Artikel Asli