batas.id ~ MALANG  –  Kepala bidang Hubungan Masyarakat Polisi Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Polisi  Frans Barung Mangera mengatakan bahwa kasus terjadinya penyetruman yang dilakukan oleh kepala sekolah SDN Lowokwaru 3 Kota Malang kepada empat siswanya tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan.  Pernyataan ini disampaikan ketika sedang diwawancarai via telephone oleh salah satu televisi swasta nasional.

Seperti yang diberitakan oleh berbagai media, bahwa telah terjadi perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah SDN Lowokwaru 3 Kota Malang berinisial TY. Kepala sekolah tersebut melakukan penyetruman menggunakan alat elektronik kepada keempat siswa kelas enam SDN Lowokwaru 3 Malang.

Peristiwa penyetruman terjadi disalah satu ruang guru di SDN Lowokwaru 3 kota malang pada selasa (25/04/2017) disaat jam pelajaran.

kejadian ini kemudian diketahui oleh salah satu wali murid siswa dari seorang teman anaknya. ketika keesokan harinya sang ayah menjemput anaknya,  salah satu dari teman yang mendapat setruman mengadu bahwa pada kemarin harinya  anaknya disetrum oleh kepala sekolah.

Baca Juga  Pendemo di Tangkap, Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Oknum Aparat 

Setelah mendapat informasi dari teman anaknya, ayah dari salah satu siswa yang mendapat setruman kemudian mendatangi sekolah untuk bertemu dengan kepala sekolah untuk mengklarifikasi informasi tersebut.

kepala sekolah pun  mengakui telah melakukan perbuatan tersebut dengan dalih sedang melakukan terapi terhadap keempat siswanya.  selain mengakui perbuatannya, kepala sekolah juga membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Sementara, dari keempat keluarga siswa yang mendapat setruman, salah satu diantaranya telah melaporkan kejadian ini ke Polres Kota Malang.   Pihak kepolisian segeran melakukan penyelidikan setelah mendapat laporan. Dalam penyelidikan yang dilakukan pada Rabu (03/05/17) ditemuakan hasil bahwa kepala sekolah melakukan penyetruman dengan mengalirkan listrik yang disambung langsung ke taspen dan ditempelkan ke jidat.

Baca Juga  Heboh, Foto Anggota Pramuka Sedang Makan di Tanah dan Rumput

“Keluarga korban telah melaporkan kejadian ini ke Polres kota Malang dan kami bergerak cepat mengadakan penyelidikan. Dalam penyelidikan didapati bahwa  ada aliran listrik yang disambung langsung ke taspen dan ditempel ke jidat, nah ini kan tidak sesuai dengan kurikulum yang diajarkan di Indonesia, tidak ada terapi seperti itu”. Demikian petikan pernyataan yang disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera  melalui wawancara dengan Tv One.

Masih pada sesi wawancara dengan Tv One,  Wakil Wali Kota Malang Drs. Sutiaji  sebelumnya meminta maaf atas tindakan anak buahnya karena telah melakukan hal yang kurang mendidik. selanjutnya sutiaji akan mengumpulkan seluruh kepala sekolah untuk melakukan koreksi bersama terhadap peristiwa yang telah terjadi di SDN Lowokwaru 3 Malang.

Baca Juga  Di Duga Depresi Karena Stroke, Seorang Pria Nekat Gantung Diri

“Besok saya  Insyallah rencananya akan melihat dilokasi dan akan mengklarifikasi ke guru juga berkaitan dengan masalah ini, dengan adanya hal ini, merupakan pembelajaran buat kita semua, bahwa anak anak didik kita jauhkan dari tindak kekerasan dengan bermacam macam yang memang itu diaturan tidak ada didalam kurikulum yang diajarkan”. Petikan wawancara Wakil walikota Kota Malang Sutiaji dengan Tv One.

Masih menurut Sutiaji, saat ini kepala sekolah SDN Lowokwaru 3  kota Malang yang melakukan tindakan penyetruman terhadap murid didiknya telah dinon aktifkan sebagai kepala sekolah atau di pindahkan.

Edy. S )