​batas.id~BEKASI-Totalitas dan profesionalisme seorang aktor menjadi keharusan jika ingin menghasilkan film yang berkualitas, bahkan rela melakukan hal yang tidak disukai dan berlatih karakter lain tanpa lelah demi hasil sempurna sebuah peran dalam film.

Tyo Janes, aktor yang juga penyanyi dangdut ini, menunjukkan totalitasnya dalam akting di sebuah film yang bercerita tentang persahabatan, film berjudul Kance “Matahari anak Ranau”, Tyo berperan sebagai Amir, seorang karyawan di sebuah perusahaan expedisi milik sahabatnya dari kecil di kampung halamannya (Palembang) dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jakarta.

Sejatinya, Tyo adalah orang Jawa dan komunikasi keseharian berlogat Jawa, dalam perannya, Tyo harus berlogat Palembang, namun bukan hal yang sulit untuk seorang aktor merubah logat dalam komunikasi, demi totalitas dan profesionalisme ia mendadak jadi Palembang. Untuk menjadi Palembang, Tyo hanya perlu waktu kurang dari satu bulan belajar logat palembang, menurutnya yang penting serius pasti bisa, “saya belajar logat Palembang hampir sebulan dengan serius, tiap hari dan sering baca-baca skrip juga lihat-lihat divideo, yang penting serius pasti bisa,” tuturnya kepada batas.id di CGV Mega Plex Cyber Park Bekasi setelah pemutaran film Kance Sabtu (11/03/2017).

Tyo Janes (kiri) dan Ferdy Damanztio (kanan)/foto: nrp ©batas.id

Film berjudul Kance ini mengisahkan pertaruhan komitmen dalam persahabatan, seiring berjalannya waktu dan berubahnya keadaan yang berpengaruh terhadap persahabatan, tiga sahabat dari kecil bertemu di Jakarta dalam keadaan yang berbeda, salah satunya menjadi seorang pengusaha dan menjadi bos dari kedua sahabatnya.

Film produksi D’ranau Film dan Langit Merah Pictures dengan arahan sutradara Krisna L. Salya dan sekenario Maldalias, dibintangi oleh Ferdy Damanztio, Reiza Prilicya, Tyo Janes, Rino B. Mangunsaputro, Karina Ranau, Gracia Marcilia, Dave Orlando, Yoseph Rajezh, Muhamad Dzikur, Nursinta, Rama Deranau, Melvina Sirait, Giselle, Yenna Triyani, April, Dekris Wang, Zoel Zazuli, Evan dan murid-murid kelas akting Aura Entertaimen.

Di akhir film, memberi pesan tentang pertaruhan komitmen persahabatan antara Matahari dan Rizal yang terjebak pada masalah human traviking, kemudian Rizal dihadapkan pada pilihan sulit, harus memilih persahabatan atau dirinya sendiri.

Reiza Prilicya (Warna) dan Tika / foto : nrp ©batas.id

“Jadi ending film ini digantung supaya tidak ada keperpihakkan, dan diserahkan kepada penonton atau masyarakat mau memihak kemana, memilih persahabatan atau diabaikan?” terang Reiza Prilicya yang berperan sebagai Warna. (nrp)